Dalam ajaran Islam, pembahasan mengenai karakter dan perilaku manusia menempati posisi sentral. Salah satu konsep fundamental yang mendefinisikan kualitas keimanan dan kemanusiaan seorang Muslim adalah akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak mulia atau Akhlaqul Mahmudah. Konsep ini bukan sekadar seperangkat aturan etika, melainkan cerminan sejati dari iman seseorang kepada Allah SWT dan implementasinya dalam interaksi sehari-hari.
Definisi dan Kedudukan Akhlak
Secara etimologis, kata 'akhlak' (jamak dari khuluq) berarti budi pekerti, perangai, atau tabiat. Dalam terminologi syariat, akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak mulia merujuk pada sifat-sifat luhur yang tertanam dalam jiwa dan termanifestasi dalam tindakan nyata, baik ucapan maupun perbuatan, yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Kedudukan akhlak dalam Islam sangat tinggi. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Hadis ini menegaskan bahwa misi utama kenabian adalah reformasi moral. Keseimbangan antara ibadah ritual (seperti shalat, puasa) dan akhlak sosial adalah indikator kedewasaan spiritual seseorang. Seseorang yang rajin beribadah namun memiliki akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak yang buruk, kualitas imannya patut dipertanyakan.
Simbolisasi kebaikan hati dan tindakan terpuji.
Ciri Utama Akhlak Terpuji
Ketika kita berbicara mengenai akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak yang baik, ada beberapa pilar utama yang selalu ditekankan:
1. Shiddiq (Kejujuran)
Kejujuran adalah fondasi dari semua kebaikan. Seorang Muslim wajib jujur dalam ucapan, janji, dan perbuatan. Lawan dari sifat ini adalah kedustaan, yang merupakan ciri utama orang munafik.
2. Amanah (Dapat Dipercaya)
Menjaga kepercayaan yang diberikan, baik amanah secara materi maupun menjaga rahasia orang lain. Rasa tanggung jawab ini mencakup amanah terhadap keluarga, pekerjaan, hingga amanah menjaga kehormatan diri sendiri.
3. Ikhlas (Ketulusan)
Melakukan segala amal perbuatan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, tanpa pamrih pujian atau balasan dari manusia. Keikhlasan membedakan antara ibadah yang bernilai tinggi dan sekadar kebiasaan.
4. Sabar dan Syukur
Sabar adalah kemampuan menahan diri dalam menghadapi kesulitan, musibah, atau godaan. Sebaliknya, syukur adalah kerelaan hati untuk mengakui nikmat Allah dalam setiap kondisi, baik lapang maupun sempit. Kedua sifat ini sering disebut sebagai dua sayap penting dalam terbang menuju ketenangan batin.
5. Tawadhu (Rendah Hati)
Rendah hati berarti tidak sombong, tidak meremehkan orang lain, dan mengakui kebenaran dari siapapun datangnya. Meskipun seseorang telah mencapai kedudukan tinggi dalam ilmu atau dunia, akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak tawadhu harus tetap melekat.
Perbedaan Akhlak dan Moralitas Umum
Meskipun banyak kesamaan antara akhlak Islam dengan etika universal, terdapat perbedaan mendasar. Etika umum seringkali bersifat relatif, berubah sesuai perkembangan budaya dan zaman. Namun, akhlak dalam Islam memiliki standar baku yang bersumber dari wahyu ilahi (Al-Qur'an dan Sunnah).
Oleh karena itu, akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak yang memiliki konsekuensi ukhrawi. Perbuatan baik yang dilakukan dengan landasan iman akan menjadi penolong di hari perhitungan, sementara akhlak tercela (seperti ghibah, iri hati, dan dusta) adalah penyakit hati yang harus dibersihkan melalui mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu).
Proses pembentukan akhlak ini memerlukan usaha berkelanjutan. Kita perlu meneladani Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (contoh teladan terbaik). Dengan mempelajari dan mengamalkan sifat-sifat beliau, seorang Muslim dapat secara bertahap menyingkirkan akhlak mazmumah (tercela) dan menumbuhkan akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak mahmudah.
Pentingnya Pengembangan Diri
Pengembangan akhlak bukan sekadar hafalan dalil, melainkan sebuah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Hal ini melibatkan:
- Tadzkirah: Mengingatkan diri secara terus-menerus akan tujuan hidup dan pengawasan Allah.
- Muhasabah: Melakukan evaluasi diri setiap hari, menimbang mana perbuatan yang baik dan mana yang perlu diperbaiki.
- Mujahadah: Berjuang keras melawan kecenderungan negatif dalam diri, seperti marah yang tidak terkontrol atau hasad (dengki).
Pada akhirnya, wujud nyata dari keimanan yang sempurna adalah kemampuan menampilkan akhlak terpuji dalam ajaran Islam disebut juga akhlak yang damai, adil, santun, dan penuh kasih sayang kepada sesama manusia, lingkungan, bahkan makhluk hidup lainnya. Inilah puncak pencapaian spiritual seorang Muslim di dunia.