Surah Al-Hijr, surah ke-15 dalam Al-Qur'an, adalah surah yang kaya akan kisah nabi-nabi terdahulu, peringatan keras bagi kaum durhaka, serta penekanan kuat terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Ayat 15, yang menjadi fokus pembahasan ini, berbicara spesifik mengenai tata surya dan keindahan kosmos yang diciptakan Allah.
Teks ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak hanya menciptakan langit, tetapi juga menempatkan padanya buruj—yang secara umum diterjemahkan sebagai gugusan bintang atau rasi bintang. Kata "buruj" sendiri berasal dari akar kata yang berarti benteng, menara, atau sesuatu yang tampak jelas dan tinggi. Dalam konteks astronomi modern, ini merujuk pada konstelasi bintang yang kita kenal.
Bagian kedua dari ayat ini sangat penting: "dan Kami memperindahnya bagi orang-orang yang memandang." Ini menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta, khususnya bintang-bintang, bukanlah sekadar fungsi mekanis, melainkan sebuah karya seni kosmik yang sengaja dipercantik. Allah SWT mendesain bintang-bintang tersebut sedemikian rupa sehingga ketika dipandang oleh manusia (orang yang memandang/nāẓirīn), ia memancarkan keindahan, ketertiban, dan kekaguman.
Keindahan ini berfungsi sebagai dalīl (bukti) atas keberadaan dan keesaan Sang Pencipta. Bagi orang yang beriman, memandang langit malam yang bertabur bintang adalah sumber ketenangan dan refleksi mendalam tentang kemahabesaran Allah. Ilmu astronomi modern, dengan penemuan galaksi, nebula, dan miliaran bintang yang teratur dalam orbitnya, semakin menguatkan makna ayat ini. Keteraturan ini kontras dengan kekacauan, menunjukkan adanya perencana agung di balik semua itu.
Penting untuk dicatat bahwa Surah Al-Hijr ayat 15 ini seringkali datang berpasangan atau berdekatan dengan ayat yang memberikan peringatan. Sebelum ayat ini (Ayat 14), Allah menceritakan bagaimana orang-orang musyrik menolak kenabian Muhammad SAW, mengatakan bahwa jika Al-Qur'an diturunkan kepada mereka, mereka akan beriman. Mereka menuduh Al-Qur'an adalah hasil sihir atau khayalan.
Oleh karena itu, ayat 15 berfungsi sebagai bantahan sekaligus penegasan. Ketika mereka meragukan wahyu yang dibawa Nabi, Allah menunjukkan bukti nyata kekuasaan-Nya yang tidak mungkin mereka sangkal: langit raya yang penuh keindahan terstruktur. Allah bertanya, "Apakah kalian meragukan Aku yang mampu menciptakan tata surya ini dengan indah, namun kalian meragukan firman-Ku?"
Sementara itu, ayat berikutnya (Ayat 16) melanjutkan tema ini dengan membahas bagaimana Allah juga menciptakan planet-planet dan memberinya fungsi spesifik, serta melindungi langit dari gangguan setan (dalam konteks penafsiran klasik). Keseluruhan rangkaian ayat ini menegaskan bahwa wahyu dan alam semesta adalah dua pilar utama bukti kebenaran Islam.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang lalai di masa Nabi, relevansinya sangat kuat bagi kita saat ini. Dalam kesibukan hidup modern, pandangan kita sering kali tertuju ke bawah, pada layar gawai atau urusan duniawi, dan jarang sekali menengadah ke langit. Padahal, pengamatan terhadap buruj dan keteraturan kosmik adalah ibadah yang paling sederhana namun mendalam.
Apabila kita berhenti sejenak untuk merenungkan galaksi Andromeda, atau sekadar melihat Bima Sakti di malam yang gelap, kita sebenarnya sedang memenuhi panggilan Allah dalam ayat ini: menjadi "orang yang memandang" (nāẓirīn) dengan penuh perenungan. Kontemplasi ini seharusnya menumbuhkan rasa syukur, rendah hati, dan memperkuat keyakinan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, sementara keindahan ciptaan-Nya adalah pengingat akan keabadian dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Surah Al-Hijr ayat 15 adalah undangan abadi untuk melihat keindahan sebagai cermin kebesaran Ilahi.