Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 9 adalah fase krusial dalam perkembangan remaja. Pada usia ini, siswa dituntut untuk lebih matang dalam mengambil keputusan dan mulai membentuk identitas diri yang kokoh. Salah satu pilar utama pembentukan karakter yang kuat adalah penguasaan dan penerapan akhlak terpuji kepada diri sendiri. Akhlak ini bukan sekadar perilaku luar, melainkan fondasi internal yang menentukan bagaimana seseorang merespons tantangan hidup dan mengembangkan potensinya.
Pentingnya berakhlak baik pada diri sendiri sering kali terabaikan karena fokus lebih sering tertuju pada hubungan dengan orang lain (akhlak kepada sesama). Padahal, bagaimana kita memperlakukan diri sendiri akan tercermin dalam interaksi kita di dunia luar. Jika seseorang tidak menghargai dirinya, sulit baginya untuk benar-benar menghargai orang lain. Akhlak terpuji diri sendiri mencakup kesadaran diri, tanggung jawab pribadi, dan upaya berkelanjutan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Bagi siswa kelas 9, tantangan akademik yang semakin berat, persiapan menghadapi jenjang SMA, serta tekanan sosial menuntut adanya manajemen diri yang superior. Tanpa fondasi akhlak diri yang baik, siswa rentan terhadap rasa rendah diri, mudah putus asa, atau terjerumus dalam perilaku negatif yang merugikan masa depan.
Akhlak terpuji kepada diri sendiri dapat diurai menjadi beberapa pilar utama yang harus dipraktikkan sehari-hari:
Penerapan akhlak terpuji ini harus diintegrasikan ke dalam rutinitas belajar dan sosial siswa kelas 9. Misalnya, ketika mendapat tugas kelompok yang sulit, akhlak tanggung jawab menuntut siswa untuk tidak hanya diam dan menunggu teman mengerjakan, melainkan proaktif mencari solusi atau mengakui jika ada bagian yang belum ia pahami.
Lebih lanjut, menjaga amanah diri juga berarti mengelola waktu secara efektif. Disiplin diri diterapkan ketika siswa memilih untuk fokus belajar sebelum menggunakan media sosial, karena ia menyadari bahwa waktu yang hilang tidak akan kembali. Sikap ini menunjukkan penghormatan tertinggi terhadap potensi dirinya.
Sikap mental yang terbentuk dari akhlak terpuji kepada diri sendiri akan menciptakan pribadi yang percaya diri namun tetap rendah hati. Kepercayaan diri muncul dari keyakinan bahwa ia telah berusaha semaksimal mungkin (bertanggung jawab), sementara kerendahan hati muncul dari kesadaran bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan (jujur pada diri sendiri).
Akhlak terpuji juga memengaruhi lingkungan belajar. Siswa yang memiliki integritas diri akan cenderung menghindari mencontek karena ia menghargai proses belajarnya sendiri dan merasa tidak perlu memalsukan hasil usaha. Ia memahami bahwa nilai hanyalah angka, namun proses pembentukan karakternya adalah warisan abadi.
Mempraktikkan refleksi diri secara berkala—misalnya setiap malam sebelum tidur—dapat membantu menguatkan akhlak ini. Tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sudah saya lakukan hari ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik?" Refleksi ini adalah alat paling ampuh untuk memastikan bahwa perjalanan menuju kedewasaan karakter terus berada di jalur yang benar. Dengan menguasai akhlak terpuji pada diri sendiri, siswa kelas 9 tidak hanya sukses secara akademis, tetapi juga siap menjadi individu yang berintegritas tinggi di masa depan.