i Al-Isra: 4

Memahami Janji Kedua Allah dalam Surat Al-Isra Ayat 4

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat Makkiyah yang sarat dengan kisah-kisah penting tentang umat-umat terdahulu dan prinsip-prinsip dasar akidah. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena kandungan pesannya yang mendalam tentang keadilan dan konsekuensi perbuatan adalah ayat ke-4.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 4

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
Terjemahan: "Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini pada dua kali kesempatan dan pasti kamu akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar.'"

Penjelasan Konteks Ayat

Ayat ini merupakan pemberitahuan profetik (kabar dari Allah) yang ditujukan kepada Bani Israil (keturunan Nabi Ya'qub AS) mengenai dua periode kehancuran dan keangkuhan yang akan mereka alami di muka bumi. Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan dan kesombongan adalah dua perilaku yang berulang dan menjadi sebab utama kehancuran suatu kaum, sebuah pelajaran universal yang relevan bagi semua umat manusia.

Dua Kali Kerusakan (مرتين - Marratayn): Para mufassir umumnya menafsirkan dua kali kerusakan ini merujuk pada dua periode besar kekuasaan dan kejatuhan Bani Israil yang tercatat dalam sejarah mereka, terutama terkait dengan interaksi mereka dengan Mesir dan kemudian penaklukan oleh bangsa lain.

Periode pertama sering dikaitkan dengan ketika mereka melakukan kezaliman, pembunuhan nabi-nabi, dan penyimpangan besar setelah perjanjian di Sinai. Akibatnya, Allah mengutus musuh-musuh mereka (seperti bangsa Babel) untuk menghancurkan Baitul Maqdis (Kuil Sulaiman) dan menawan sebagian besar dari mereka.

Periode kedua merujuk pada kerusakan yang terjadi setelah mereka kembali dari penawanan dan mendapatkan kembali kekuasaan atau pengaruh, di mana mereka kembali mengulangi kesalahan yang sama—melanggar janji, berbuat curang, dan menyembah selain Allah.

Kesombongan Besar (علوا كبيرا - Ulūwan Kabīran): Ini adalah inti dari kejatuhan kedua. Kesombongan ini bukan sekadar keangkuhan biasa, tetapi penolakan terhadap kebenaran, pengkhianatan terhadap amanat kitab suci, dan anggapan bahwa mereka lebih superior dari umat lain (klaim sebagai "Anak-anak Allah" tanpa memenuhi kewajiban mereka). Kesombongan ini memuncak pada puncak kezaliman mereka, yang akhirnya memicu kehancuran yang lebih dahsyat oleh kekuatan penakluk berikutnya (seperti Kekaisaran Romawi).

Pelajaran Universal dari Surat Al-Isra Ayat 4

Meskipun ayat ini secara spesifik berbicara kepada Bani Israil, pesan yang dibawanya bersifat universal dan abadi. Ia berfungsi sebagai peringatan keras bagi setiap individu dan komunitas yang menerima petunjuk ilahi (kitab suci).

1. Konsekuensi Perbuatan yang Jelas: Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui dan tidak akan membiarkan penyimpangan besar berlalu tanpa konsekuensi. Terdapat sebab dan akibat yang pasti dalam hukum ilahi, di mana kerusakan yang ditabur akan dipanen dalam bentuk kehancuran peradaban atau hilangnya nikmat.

2. Bahaya Kesombongan Intelektual dan Spiritual: Seringkali, kehancuran dimulai bukan dari kelemahan fisik, melainkan dari kesombongan spiritual. Ketika suatu kelompok merasa bahwa mereka kebal dari kesalahan karena status agama atau keturunan mereka, mereka mulai meremehkan orang lain dan melanggar batasan etika dan moral. Surat Al-Isra ayat 4 mengajarkan bahwa kesombongan adalah pembuka segala dosa dan penyebab utama kegagalan umat terdahulu.

3. Pentingnya Menjaga Amanat Kitab Suci: Allah mengingatkan mereka "di dalam Kitab itu" (Taurat). Ini menekankan bahwa petunjuk ilahi harus diikuti secara totalitas. Penyimpangan yang terjadi bukanlah karena kurangnya petunjuk, melainkan karena penolakan terhadap petunjuk tersebut dan memilih jalan kesenangan duniawi dan keangkuhan.

4. Siklus Sejarah yang Berulang: Penggunaan kata "dua kali" menunjukkan pola sejarah. Jika sebuah komunitas melupakan pelajaran dari kegagalan pertama dan mengulangi kesalahan mendasar yang sama (kerusakan dan kesombongan), maka hukuman atau konsekuensi serupa akan datang lagi. Ini menjadi cermin bagi umat Islam saat ini untuk senantiasa memeriksa diri, menjaga keadilan, dan menjauhi sifat takabur.

Perbandingan dengan Ayat Selanjutnya

Menariknya, ayat berikutnya, Al-Isra ayat 5, segera memberikan informasi mengenai hukuman yang akan datang setelah periode kedua kerusakan dan kesombongan tersebut. Ayat 5 berbunyi: "Maka apabila datang masa pembalasan bagi kedua (pelanggaran) itu, (Kami datangkan kepada kamu) hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung..."

Keterkaitan kedua ayat ini sangat erat. Ayat 4 adalah prediksi dan diagnosis sifat buruk (kerusakan dan sombong), sementara Ayat 5 adalah konsekuensi yang akan menyertainya (datangnya musuh yang menghukum). Pemahaman komprehensif terhadap kedua ayat ini memberikan gambaran utuh mengenai siklus kejatuhan peradaban yang disebabkan oleh penyimpangan moral dan penolakan terhadap kebenaran Ilahi. Ini merupakan pengingat abadi bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari kekuatan materi, tetapi dari ketaatan pada prinsip kebenaran dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.

Ketahuilah bahwa peringatan dalam Al-Qur'an selalu bertujuan untuk kebaikan kita. Mempelajari kisah Bani Israil bukanlah untuk mencela, melainkan untuk mengambil hikmah agar umat Islam tidak jatuh ke dalam perangkap kesombongan dan kerusakan yang sama di masa kini.
🏠 Homepage