Ilustrasi Akhlak Mulia
Akhlak, dalam konteks Islam, bukan sekadar perilaku sopan santun sehari-hari, melainkan cerminan mendalam dari keimanan seseorang kepada Allah SWT. Bagi seorang wanita Muslimah, akhlak adalah inti dari keberadaannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Wanita Muslimah ideal adalah personifikasi dari keimanan yang termanifestasi dalam tutur kata, tindakan, dan cara berpakaiannya.
Kedudukan akhlak ini sangat tinggi. Ia menjadi timbangan utama di hari perhitungan kelak, bahkan melebihi amal ibadah sunnah yang dilakukan tanpa diiringi akhlak yang baik. Wanita yang rajin shalat malam dan puasa sunnah, namun lisannya tajam atau perilakunya buruk terhadap tetangga, maka kesempurnaan imannya patut dipertanyakan. Oleh karena itu, seorang Muslimah harus senantiasa menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai standar utama dalam pembentukan perilakunya.
Terdapat beberapa pilar akhlak yang wajib ditonjolkan oleh seorang wanita Muslimah dalam menjalani kehidupannya, baik dalam lingkup pribadi, keluarga, maupun masyarakat.
Rasa malu adalah bagian integral dari iman. Islam mengajarkan wanita untuk menjaga kehormatan dirinya, baik secara fisik (melalui pakaian dan batasan pergaulan) maupun non-fisik (melalui ucapan dan pandangan). Rasa malu ini bukan berarti pengekangan, melainkan filter yang melindungi integritasnya dari hal-hal yang dapat merusak citra dirinya di mata Allah dan manusia. Kesucian yang terpelihara adalah mahkota bagi kehormatan seorang Muslimah.
Wanita diciptakan dengan kelembutan alami yang menjadi rahmat bagi lingkungannya. Dalam rumah tangga, kelembutan ini menciptakan atmosfer ketenangan, tempat suami dan anak-anak menemukan perlindungan. Akhlak yang lembut tercermin dalam kesabaran menghadapi ujian dan tidak mudah marah. Sifat ini sangat dicintai oleh Allah SWT, karena Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.
Peran utama seorang wanita Muslimah seringkali terpusat pada pendirian rumah tangga yang Islami. Ketaatan kepada suami (selama tidak bertentangan dengan perintah Allah), pendidikan akhlak kepada anak-anak, serta pengelolaan rumah tangga yang efisien menunjukkan kualitas akhlak yang tinggi. Wanita yang mampu mendidik generasi saleh adalah investasi pahala yang tak terhingga baginya.
Akhlak seorang Muslimah tidak berhenti di ambang pintu rumah. Ia harus terpancar saat berinteraksi di luar rumah, seperti dalam berbisnis, bersosialisasi, atau menuntut ilmu.
Pertama, dalam bermuamalah, ia harus jujur, menepati janji, dan menjaga lisan dari ghibah (bergosip) dan fitnah. Kemampuan menjaga rahasia dan tidak menyebarkan keburukan orang lain adalah tanda kematangan akhlak. Kedua, dalam menuntut ilmu, seorang wanita Muslimah menunjukkan kerendahan hati. Meskipun cerdas, ia tetap bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepada guru-gurunya dan tidak menyombongkan pengetahuannya.
Penting pula ditekankan mengenai cara berpakaian. Jilbab atau hijab yang dikenakan adalah pakaian fisik, namun yang lebih penting adalah "hijab hati"—yaitu kesucian niat dan akhlak. Pakaian yang tertutup namun perilakunya terbuka menunjukkan kontradiksi yang merusak citra Islam itu sendiri.
Mencapai standar akhlak wanita Muslimah adalah sebuah proses jihadun nafs (perjuangan melawan hawa nafsu) yang berkelanjutan. Ia menuntut konsistensi antara apa yang diyakini dan apa yang diamalkan. Wanita Muslimah sejati adalah ia yang menjadi penyejuk mata suaminya, pendidik terbaik bagi anak-anaknya, tetangga yang dirindukan kehadirannya, serta representasi positif dari ajaran Islam di tengah masyarakat luas. Keindahan sejati seorang wanita Muslimah terletak pada kemuliaan akhlaknya, yang akan abadi hingga akhir zaman.