Peristiwa Isra dan Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Peristiwa ini tidak hanya merupakan perjalanan fisik semata, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual dan kenaikan tingkat keimanan yang sangat penting bagi umat Islam. Secara harfiah, Isra berarti perjalanan di malam hari, sedangkan Mi'raj berarti kenaikan atau tangga. Peristiwa ini menegaskan kedudukan tinggi Nabi di sisi Allah SWT dan menjadi pilar penguatan iman bagi kaum Muslimin pada masa-masa sulit.
Apa Itu Isra dan Mi'raj?
Isra adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Palestina). Perjalanan ini terjadi dalam satu malam. Menurut riwayat sahih, dalam perjalanan Isra ini, Nabi dipertemukan dengan para nabi terdahulu dan melakukan shalat di Baitul Maqdis.
Sementara itu, Mi'raj adalah kelanjutan perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju lapisan langit ketujuh, Sidratul Muntaha, dan bahkan lebih tinggi lagi hingga mencapai Hadratullah (Kehadiran Allah SWT). Kenaikan ini melibatkan penembusan berbagai tingkatan langit dan bertemu dengan para rasul terdahulu di setiap lapisannya.
Tujuan dan Makna Spiritual Perjalanan
Perjalanan agung ini bukanlah sekadar dongeng atau alegori tanpa makna. Ia memiliki tujuan teologis yang mendalam, terutama setelah Nabi Muhammad menghadapi tahun-tahun yang penuh tantangan, termasuk wafatnya istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib (Tahun Al-Huzn/Kesedihan).
- Penguatan Iman: Sebagai penghiburan dan peneguhan posisi kenabian di hadapan Allah SWT setelah mengalami kesulitan dakwah di Mekkah.
- Penetapan Shalat Wajib: Tujuan paling monumental dari Mi'raj adalah diterimanya perintah shalat lima waktu (Salat) secara langsung dari Allah SWT, menjadikannya tiang agama Islam yang wajib dilaksanakan umatnya lima kali sehari tanpa perantara malaikat Jibril yang mengantarkan wahyu dari langit.
- Bukti Keagungan Allah: Isra Mi'raj menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang mampu melakukan perjalanan luar biasa dalam waktu singkat, melampaui batas-batas fisika yang kita kenal.
- Pelajaran Ukhuwah Kenabian: Bertemu dengan para nabi di berbagai tingkatan langit menunjukkan kesinambungan risalah kenabian dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW.
Rangkaian Kejadian Utama dalam Isra Mi'raj
Perjalanan ini melibatkan serangkaian peristiwa ajaib yang dicatat dalam berbagai hadis sahih.
- Pembelahan Dada (Syq al-Shadr): Sebelum keberangkatan, dada Nabi dibelah oleh malaikat untuk dikeluarkan segala penyakit hati dan diganti dengan hikmah dan keimanan.
- Perjalanan Isra: Nabi diangkut menggunakan Buraq (kendaraan secepat kilat) dari Mekkah ke Yerusalem.
- Shalat di Baitul Maqdis: Nabi memimpin shalat dua rakaat bersama para nabi yang telah berkumpul di sana.
- Awal Mi'raj: Dari batu suci di Yerusalem, Nabi memulai kenaikannya didampingi Jibril.
- Melalui Tujuh Langit: Nabi melewati tujuh lapisan langit, bertemu dengan Adam, Isa, Yusuf, Harun, Ibrahim, dan nabi-nabi lainnya di lapisan yang sesuai.
- Sidratul Muntaha: Batas akhir di mana Jibril pun tidak dapat melampaui lebih jauh. Di sinilah terjadi komunikasi langsung dengan Allah SWT mengenai shalat.
- Kembali ke Bumi: Nabi kembali ke Mekkah sebelum subuh dan menceritakan kisahnya kepada para sahabat.
Reaksi Kaum Quraisy dan Keimanan Abu Bakar
Ketika Nabi menceritakan perjalanannya, kaum Quraisy Mekkah menertawakan dan menganggapnya gila, karena secara logika manusia biasa, perjalanan tersebut mustahil dilakukan dalam semalam. Mereka menantang Nabi untuk membuktikan ceritanya. Namun, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mendengar cerita tersebut, reaksinya justru sebaliknya. Beliau langsung menyatakan, "Jika Nabi Muhammad mengatakannya, maka itu benar, bahkan jika beliau bercerita bahwa beliau telah pergi ke langit dan kembali dalam sekejap." Karena keyakinan teguhnya inilah, Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan). Peristiwa ini menjadi ujian sejati bagi keimanan umat Islam saat itu.
Pelajaran Bagi Umat Kontemporer
Surat Al-Mi'raj, atau kisah Mi'raj, mengajarkan bahwa iman sejati tidak selalu terikat pada apa yang dapat diindra atau dijelaskan oleh akal semata. Mukjizat adalah bukti bahwa ada kekuatan yang jauh melampaui pemahaman manusia. Bagi umat Muslimin masa kini, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya ibadah, khususnya shalat, sebagai "tangga" penghubung spiritual antara hamba dan Pencipta, sama seperti Nabi naik ke langit untuk menerima perintah tersebut. Ini menekankan bahwa ibadah adalah cara kita mencapai ketinggian spiritual tertinggi dari bumi kita.