Di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman dan arus globalisasi yang tak terbendung, warisan budaya leluhur seringkali terancam tergerus. Namun, di Pulau Dewata Bali, terdapat sebuah kekayaan linguistik yang masih berdenyut kuat dan terus diupayakan kelestariannya, yaitu Aksara Bali Gelem. Istilah "gelem" dalam konteks ini bukan merujuk pada arti harfiahnya yang berarti 'suka' atau 'ingin', melainkan lebih kepada semangat dan kesadaran masyarakat Bali untuk tetap mencintai, menjaga, dan melestarikan tradisi penulisan mereka yang unik ini.
Aksara Bali, yang juga dikenal sebagai Lontar Bali, merupakan salah satu sistem penulisan yang berasal dari rumpun aksara Brahmi. Sistem penulisan ini telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali untuk merekam berbagai aspek kehidupan mereka, mulai dari ajaran agama, sastra, lontar-lontar kuno berisi petuah bijak, hingga catatan sejarah dan pengetahuan tradisional. Keindahan visual aksara ini memukau, dengan garis-garis yang melengkung anggun dan bentuk yang khas, menjadikannya tidak hanya alat komunikasi, melainkan juga sebuah karya seni tersendiri.
Keunikan Aksara Bali terletak pada beberapa aspek. Pertama, setiap karakter memiliki filosofi dan makna tersendiri, seringkali terinspirasi dari alam dan kosmologi Hindu. Kedua, cara penulisannya yang khas, biasanya menggunakan pena bambu atau daun lontar yang diiris tipis, menciptakan tekstur dan nuansa yang otentik. Bentuknya yang lebih condong memiliki lekukan yang lebih lembut dibandingkan aksara India, membuatnya terlihat lebih luwes dan artistik.
Estetika Aksara Bali juga tercermin dalam beragamnya gaya penulisan yang berkembang seiring waktu dan wilayah. Meskipun memiliki kaidah dasar yang sama, terkadang terdapat variasi tipografi yang halus antar daerah atau antar penulis. Keindahan ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dilihat, sehingga aksara Bali seringkali diintegrasikan dalam karya seni ukir, arsitektur tradisional, hingga desain modern yang ingin menampilkan sentuhan lokal.
Semangat "Aksara Bali Gelem" termanifestasi dalam berbagai upaya pelestarian yang digalakkan oleh pemerintah, lembaga budaya, maupun masyarakat itu sendiri. Di era digital ini, tantangan terbesar adalah bagaimana agar aksara Bali tetap relevan dan mudah diakses oleh generasi muda tanpa kehilangan esensinya. Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan antara lain:
Kesadaran untuk menjadi "gelem" atau memiliki keinginan kuat untuk melestarikan aksara Bali adalah kunci utama. Tanpa kemauan dan tindakan nyata, warisan budaya yang berharga ini bisa saja hanya menjadi cerita masa lalu. Generasi muda perlu diedukasi mengenai pentingnya identitas budaya mereka. Aksara Bali bukan sekadar simbol tulisan, melainkan jendela untuk memahami sejarah, filsafat, dan kearifan lokal Bali yang kaya. Dengan menjadi "gelem" terhadap aksara Bali, kita turut serta dalam menjaga keberagaman budaya Indonesia dan mewariskan sesuatu yang berharga kepada anak cucu kelak.
Mendukung gerakan Aksara Bali Gelem berarti turut berkontribusi pada keberlangsungan tradisi. Setiap usaha, sekecil apapun, mulai dari mencoba menulis beberapa kata dalam aksara Bali, hingga mengapresiasi karya seni yang menggunakan aksara Bali, semuanya memiliki dampak positif. Mari bersama-sama kita jaga dan sebarkan pesona Aksara Bali Gelem, agar keindahannya terus bersinar dan menjadi kebanggaan.