Aksara Jawa: Mengenal Aksara Murda sebagai Tanda Kehormatan

Simbol Aksara Murda 'N' (Nda) Simbol Aksara Murda 'K' (Ka) Ilustrasi visual sederhana dari Aksara Murda.

Indonesia kaya akan warisan budaya tak benda, salah satunya adalah kekayaan aksara Nusantara. Di antara berbagai aksara daerah yang masih dilestarikan, Aksara Jawa memegang peranan penting dalam khazanah budaya Jawa. Aksara Jawa sendiri memiliki berbagai jenis penulisan yang digunakan dalam konteks yang berbeda. Salah satu yang menarik dan memiliki kekhususan adalah Aksara Murda.

Apa Itu Aksara Murda?

Aksara Murda, yang juga dikenal dengan sebutan Aksara Rahina atau Aksara Gedhe, adalah salah satu varian dari aksara Jawa yang berfungsi sebagai aksara kapital atau huruf besar dalam tradisi penulisan aksara. Penggunaannya tidak untuk setiap awal kalimat seperti pada huruf kapital Latin, melainkan memiliki fungsi yang lebih spesifik dan bernilai kehormatan. Aksara Murda digunakan untuk mengawali nama-nama tertentu, terutama yang berkaitan dengan penghormatan, seperti nama orang penting, gelar bangsawan, nama dewa, kerajaan, kota, atau tempat yang dianggap suci.

Dalam konteks historis dan budaya, penggunaan Aksara Murda menunjukkan adanya stratifikasi sosial dan rasa hormat yang mendalam dalam masyarakat Jawa. Penggunaan yang tepat mencerminkan pengetahuan mendalam tentang etiket dan hierarki. Aksara Murda memiliki bentuk yang berbeda dari aksara dasar Jawa (Aksara Carakan), biasanya lebih megah, rumit, atau memiliki tambahan ornamen. Bentuknya yang unik ini bertujuan untuk memberikan penekanan dan kesan agung pada kata-kata yang dituliskan.

Perbedaan dengan Aksara Carakan Biasa

Perbedaan paling mendasar antara Aksara Murda dan Aksara Carakan terletak pada fungsi dan bentuknya. Aksara Carakan adalah aksara Jawa dasar yang digunakan untuk menuliskan seluruh teks, fonem, dan suku kata. Sementara itu, Aksara Murda hanya digunakan untuk huruf-huruf tertentu dan dalam konteks yang sangat spesifik. Jika Aksara Carakan memiliki 20 aksara dasar (Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga), maka Aksara Murda tidak memiliki semua varian tersebut.

Aksara Murda hanya memiliki bentuk untuk beberapa konsonan awal, yaitu: Ka (mirip Pa), Ta (mirip Ca), Sa (mirip Ta), Ga (mirip Ba), Nga (mirip Na), Ma (mirip Ma namun lebih besar dan berhias), Nda (mirip Na namun berhias), dan Ca (mirip Ja). Perlu dicatat bahwa beberapa sumber mungkin memiliki sedikit perbedaan dalam penamaan atau bentuk detailnya, namun prinsip utamanya adalah penyediaan aksara agung untuk nama-nama penting. Bentuk Aksara Murda umumnya memiliki tambahan garis atau ornamen yang membuatnya terlihat lebih "besar" atau "mulia" dibandingkan padanannya dalam Aksara Carakan.

Kapan dan Mengapa Aksara Murda Digunakan?

Penggunaan Aksara Murda sangat erat kaitannya dengan prinsip penghormatan dan penegasan status dalam kebudayaan Jawa. Beberapa alasan utama mengapa Aksara Murda digunakan meliputi:

Penggunaan Aksara Murda tidak seperti penggunaan huruf kapital pada bahasa Latin yang dipakai di setiap awal kalimat. Dalam Aksara Murda, ia hanya diaplikasikan pada awal kata yang memang berhak mendapatkannya. Hal ini menunjukkan kedalaman pemahaman penutur dan penulisnya terhadap norma-norma kebahasaan dan kesantunan Jawa.

Pelestarian Aksara Murda

Di era modern, pelestarian Aksara Murda menghadapi tantangan tersendiri. Dengan dominasi aksara Latin dan berkurangnya masyarakat yang fasih membaca dan menulis aksara Jawa, pemahaman tentang Aksara Murda pun semakin menipis. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah, kursus-kursus aksara, publikasi buku, serta inisiatif digital.

Memahami Aksara Murda bukan hanya sekadar mempelajari bentuk huruf, tetapi juga menyelami nilai-nilai budaya, sejarah, dan filosofi di baliknya. Ini adalah jendela untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa menghargai dan memberi tempat khusus pada hal-hal yang dianggap penting dan mulia. Dengan terus mengenali dan mempraktikkannya, kita turut serta menjaga warisan budaya Nusantara agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. Aksara Murda adalah bukti nyata keindahan dan kekayaan tradisi penulisan yang dimiliki bangsa Indonesia.

🏠 Homepage