Di tengah arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, pelestarian warisan budaya menjadi tantangan tersendiri. Salah satu warisan budaya tak benda yang kaya akan nilai sejarah dan filosofi adalah aksara Jawa. Universitas, sebagai lembaga pendidikan tinggi dan pusat kebudayaan, memegang peranan krusial dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan aksara ini kepada generasi muda. Keberadaan program studi, kegiatan ekstrakurikuler, hingga penelitian yang berkaitan dengan aksara Jawa di lingkungan universitas menunjukkan komitmen untuk memastikan kelangsungan hidupnya.
Beberapa universitas di Indonesia, terutama yang berlokasi di wilayah Jawa, telah mengintegrasikan pembelajaran aksara Jawa ke dalam kurikulum mereka. Hal ini dapat berupa mata kuliah wajib atau pilihan bagi mahasiswa, khususnya di jurusan sastra, sejarah, budaya, atau linguistik. Pembelajaran ini tidak hanya mencakup pengenalan bentuk-bentuk huruf, namun juga mendalami makna di balik setiap aksara, sejarah perkembangannya, serta bagaimana aksara ini digunakan dalam berbagai karya sastra kuno. Selain itu, riset-riset akademis mengenai aksara Jawa terus dilakukan. Para peneliti menggali naskah-naskah kuno, menganalisis struktur bahasa, serta mengeksplorasi potensi aksara Jawa dalam konteks modern, termasuk dalam pengembangan teknologi informasi.
Universitas tidak hanya berperan sebagai penyaji materi akademis. Berbagai kegiatan juga digagas untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pelestarian aksara Jawa. Organisasi mahasiswa pecinta budaya seringkali menjadi garda terdepan dalam menyelenggarakan workshop, lomba menulis dan membaca aksara Jawa, serta pameran seni yang bertema aksara. Beberapa universitas bahkan mendorong penggunaan aksara Jawa dalam konteks yang lebih luas. Contohnya, penamaan gedung, plang nama, atau bahkan desain grafis acara kampus yang mengadopsi elemen aksara Jawa. Upaya ini bertujuan untuk mengenalkan aksara ini secara lebih akrab kepada sivitas akademika dan masyarakat umum, serta menunjukkan bahwa aksara Jawa relevan dan dapat beradaptasi dengan zaman.
Inovasi dalam pelestarian aksara Jawa di lingkungan universitas juga terlihat dalam pemanfaatan teknologi. Pengembangan aplikasi pembelajaran aksara Jawa berbasis mobile, pembuatan font aksara Jawa yang dapat digunakan di komputer, hingga digitalisasi naskah-naskah kuno yang mengandung aksara Jawa adalah beberapa contohnya. Kolaborasi antara pakar aksara, pengembang teknologi, dan komunitas seni menjadi kunci keberhasilan inisiatif-inisiatif ini. Tujuannya adalah membuat aksara Jawa lebih mudah diakses, dipelajari, dan diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas, termasuk generasi muda yang akrab dengan gawai.
Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan, tantangan dalam pelestarian aksara Jawa tetap ada. Kurangnya minat dari sebagian generasi muda, keterbatasan sumber daya, serta persaingan dengan budaya populer global menjadi beberapa hambatan utama. Namun, peran aktif universitas dalam terus menerus menggelar program-program edukatif, riset multidisiplin, dan inovasi pemanfaatan teknologi, memberikan harapan besar. Dengan pendekatan yang tepat, aksara Jawa dapat bertransformasi dari sekadar objek kajian akademis menjadi bagian integral dari identitas budaya yang terus hidup dan berkembang, bahkan di jantung institusi pendidikan tinggi. Universitas menjadi inkubator ide dan tempat pembentukan kesadaran akan pentingnya menjaga kekayaan linguistik dan kultural bangsa.
Melalui kombinasi pengajaran yang mendalam, penelitian yang progresif, serta kreativitas dalam pengemasan dan pemanfaatan, universitas dapat memastikan bahwa aksara Jawa tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dan terus menginspirasi di era digital ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan identitas budaya Indonesia yang kaya dan beragam.