Surat Al-Maidah (Al-Ma'idah) merupakan surat ke-lima dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat ke-57 dari surat ini mengandung pesan peringatan yang sangat tegas dan krusial mengenai prioritas loyalitas seorang Muslim. Ayat ini seringkali menjadi titik fokus dalam pembahasan mengenai hubungan umat Islam dengan non-Muslim, terutama dalam konteks pertemanan, kepemimpinan, dan solidaritas.
Ayat ini diawali dengan seruan yang menunjukkan bahwa pesan ini ditujukan secara eksklusif kepada mereka yang telah memegang teguh keimanan ('orang-orang yang beriman'). Ini menegaskan bahwa perintah ini bersifat internal dan mengikat komunitas Mukminin.
Inti dari ayat ini terletak pada larangan mengambil "Auliya'". Kata "Auliya'" (أَوْلِيَاءَ) memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar "teman biasa". Dalam konteks teologis dan sosial Islam, Wali atau Auliya' merujuk pada pelindung, penolong, sekutu dekat, pemimpin, atau figur yang kepercayaannya diletakkan melebihi kepercayaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Larangan ini diarahkan kepada dua kelompok yang disebutkan secara spesifik:
Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti melarang interaksi sosial yang wajar, seperti jual beli, bersikap baik (birr), atau menjaga hubungan kekerabatan jika tidak ada ancaman permusuhan agama yang nyata. Larangan ini berfokus pada penyerahan aspek-aspek yang bersifat strategis, spiritual, dan otoritatif.
Ayat ini ditutup dengan penekanan yang kuat: "...dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman." Ini adalah mekanisme korektif dan penguatan. Loyalitas sejati (al-wala') kepada Allah harus didasarkan pada ketakwaan.
Ketakwaan menuntut seorang Mukmin untuk selalu memprioritaskan ridha Allah di atas segalanya. Mengangkat orang-orang yang terang-terangan menentang prinsip keimanan sebagai sekutu utama adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah iman itu sendiri. Jika iman telah tertanam kuat, maka konsekuensinya adalah loyalitas harus diarahkan kepada sumber kebenaran, yaitu Allah SWT.
Implikasi dari ayat ini sangat luas, mencakup aspek politik, kepemimpinan, hingga pilihan dalam pertemanan dekat yang dapat memengaruhi akidah seseorang. Al-Maidah ayat 57 menjadi pengingat abadi bahwa kesatuan iman memerlukan batas yang jelas dalam hal penentuan siapa yang boleh dipercaya dan dijadikan sandaran utama dalam perjalanan hidup seorang Muslim.