Lampung, sebuah provinsi yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatra, menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Salah satu warisan terpentingnya adalah Aksara Lampung, sebuah sistem penulisan kuno yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakatnya. Semboyan "Bumi Ruwa Jurai" mencerminkan persatuan dua suku besar, yaitu Saibatin dan Pubian, yang hidup berdampingan dan saling melengkapi dalam harmoni. Aksara Lampung menjadi salah satu perekat identitas dalam keragaman ini, menjadikannya lebih dari sekadar alat tulis, melainkan simbol kebesaran budaya yang patut dilestarikan.
Asal-usul Aksara Lampung diperkirakan memiliki akar yang sama dengan aksara-aksara Nusantara lainnya yang berkembang dari tradisi Brahmi di India. Namun, melalui proses adaptasi dan evolusi lokal, aksara ini kemudian memiliki ciri khasnya sendiri. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha yang pernah jaya di Nusantara turut mewarnai bentuk visual dan filosofi di balik setiap guratan aksara ini.
Secara historis, Aksara Lampung telah digunakan dalam berbagai prasasti, naskah kuno, dan artefak budaya. Naskah-naskah tersebut seringkali berisi tentang adat istiadat, keagamaan, sejarah, serta sastra lisan masyarakat Lampung. Keberadaannya menunjukkan bahwa masyarakat Lampung telah memiliki peradaban tulis-menulis yang mapan sejak lama.
Perkembangan Aksara Lampung tidak terlepas dari peran para tetua adat, budayawan, dan pemerintah daerah dalam upayanya untuk menjaga keberlangsungan aksara ini. Meskipun sempat mengalami masa-masa genting di mana penggunaannya semakin jarang, upaya revitalisasi terus dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, serta sosialisasi kepada generasi muda.
Aksara Lampung memiliki beberapa karakteristik unik yang membedakannya dari aksara daerah lain di Indonesia. Sebagai bagian dari rumpun aksara Kaganga, Aksara Lampung memiliki bentuk dasar yang menyerupai huruf-huruf Pallawa. Namun, ornamen dan gaya penulisannya telah disesuaikan dengan estetika dan tradisi lokal.
Beberapa ciri khas Aksara Lampung meliputi:
Keunikan ini menjadikan Aksara Lampung sebagai objek studi yang menarik bagi para linguis dan pemerhati budaya. Setiap goresan huruf menyimpan makna dan nilai filosofis yang mendalam, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Lampung.
Semboyan "Bumi Ruwa Jurai" merupakan filosofi hidup masyarakat Lampung yang berarti "tanah dua keturunan" atau "tanah dua aliran". Ini merujuk pada persatuan dua kelompok etnis besar di Lampung, yaitu masyarakat adat Saibatin (yang beradat leluhur dan memiliki tatanan kebangsawanan) dan masyarakat adat Pubian (yang beradat penyimbang atau adat yang lebih merakyat). Keduanya hidup rukun dan saling menghargai, menciptakan masyarakat yang harmonis dan pluralis.
Aksara Lampung menjadi salah satu elemen penting yang mempersatukan kedua kelompok etnis ini. Ia menjadi media ekspresi budaya, identitas bersama, dan warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun. Melalui aksara ini, nilai-nilai luhur, cerita rakyat, dan sejarah panjang masyarakat Lampung terus hidup dan dijaga.
Penggunaan Aksara Lampung dalam konteks "Bumi Ruwa Jurai" mengajarkan tentang pentingnya menghargai keberagaman sambil tetap menjaga identitas budaya yang kuat. Ini adalah cerminan bagaimana sebuah warisan tak benda dapat menjadi perekat sosial dan simbol kebanggaan bagi sebuah komunitas.
Menghadapi arus globalisasi dan dominasi bahasa asing, upaya pelestarian Aksara Lampung menjadi semakin krusial. Berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, seniman, hingga masyarakat umum, bahu-membahu untuk memastikan aksara ini tidak punah.
Beberapa langkah yang telah dan terus dilakukan meliputi:
Keberhasilan upaya pelestarian ini tidak hanya akan menyelamatkan sebuah sistem penulisan, tetapi juga akan menjaga integritas budaya dan warisan sejarah yang dimiliki oleh masyarakat Lampung. Aksara Lampung adalah denyut nadi identitas "Bumi Ruwa Jurai", yang perlu terus dijaga agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Melalui pemahaman dan apresiasi terhadap Aksara Lampung, kita dapat lebih mendalami kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa. Ia adalah jendela menuju masa lalu, pengingat akan identitas diri, dan jembatan menuju masa depan yang penuh dengan kearifan lokal.