Surah Al-Anfal (Harta Rampasan Perang)
Surah Al-Anfal merupakan salah satu surah Madaniyah yang memiliki kedudukan penting dalam Al-Qur'an. Surah ini, yang berarti "Harta Rampasan Perang", diturunkan setelah peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu Pertempuran Badar. Ayat-ayat awal surah ini, khususnya ayat 1 hingga 5, memuat pembahasan mengenai harta rampasan perang dan bagaimana seharusnya harta tersebut dikelola serta didistribusikan. Namun, makna yang terkandung di dalamnya jauh melampaui sekadar pembagian harta benda; ia menyentuh aspek spiritual, moral, dan strategis dalam kehidupan seorang Muslim.
Ayat pertama dari Surah Al-Anfal berbunyi:
"Yūssalūna-ka ‘an-il-anfāl, qul-il-anfāl-u lillāhi war-rasūl, fattāqullāha wa aṣliḥū ḏāta-bainikum, wa aṭī‘ūllāha wa rasūlahu in kuntum mu’minīn."
Artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: 'Harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya.' Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang yang beriman."
Ayat ini diawali dengan pertanyaan para sahabat mengenai harta rampasan yang diperoleh dari Pertempuran Badar. Jawaban tegas dari Allah SWT menegaskan bahwa segala sesuatu, termasuk harta rampasan perang, adalah hak milik Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah penegasan fundamental bahwa segala kemenangan dan rezeki datangnya dari Allah semata. Para pemimpin dan pasukan tidak memiliki klaim mutlak atas harta tersebut, melainkan hanya sebagai pemegang amanah yang harus menjalankan perintah Allah terkait distribusinya.
Lebih lanjut, ayat ini menyerukan dua hal krusial: taqwa kepada Allah dan memperbaiki hubungan di antara sesama. Taqwa adalah kesadaran diri yang terus-menerus akan pengawasan Allah SWT, yang mendorong seseorang untuk patuh pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara itu, memperbaiki hubungan antar sesama mukmin adalah pilar penting dalam membangun kekuatan umat. Perselisihan internal dapat melemahkan barisan, sedangkan persatuan dan kesatuan akan menjadi sumber kekuatan yang luar biasa.
Ayat kedua dan ketiga melanjutkan pembahasan dengan menyoroti ciri-ciri orang beriman sejati:
"Innamal mu’minūna-llaḏīna iḏā ḏukirallāhu wajilat qulūbuhum wa iḏā tuliyat ‘alaihim āyātuhu ẓādat-hum īmānaw-wa ‘alā rabbihim yatawakkalūn. Al-laḏīna yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn."
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka karenanya dan kepada Tuhan mereka jualah mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka."
Ciri pertama orang beriman adalah hati yang gemetar saat nama Allah disebut, menunjukkan kekhusyukan dan rasa hormat yang mendalam. Keimanan mereka juga bertambah saat mendengarkan ayat-ayat Allah, yang menunjukkan keterbukaan hati untuk menerima kebenaran. Ketergantungan total kepada Allah (tawakkal) juga menjadi karakteristik utama. Mereka tidak hanya berserah diri, tetapi juga menjalankan perintah-Nya, seperti mendirikan salat dengan khusyuk dan menafkahkan sebagian rezeki di jalan Allah.
Ayat keempat menjelaskan hasil dari keimanan tersebut:
"Ulā’ika humal mu’minūna ḥaqqā, lahum ḏarajatū ‘inda rabbihim wa magfiratūw-wa rizqun karīm."
Artinya: "Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Tuhannya, ampunan dan rezeki yang mulia."
Ayat ini memberikan janji balasan yang luar biasa bagi orang-orang beriman sejati. Derajat yang tinggi di sisi Allah menunjukkan kedudukan mulia di akhirat, ampunan atas segala khilaf dan dosa, serta rezeki yang karim, yaitu rezeki yang berlimpah lagi baik. Ini adalah motivasi spiritual yang sangat kuat agar setiap Muslim senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanannya.
Selanjutnya, ayat kelima berbicara mengenai kondisi para pejuang di medan perang, yang merupakan konsekuensi logis dari perintah-perintah sebelumnya:
"Kamā aḵrajaka rabbuka min-baitika bil-ḥaqqi wa inna farīqam-minal mu’minīna lamu’minūn."
Artinya: "Sebagaimana Tuhanmu mengeluarkan engkau dari rumahmu dengan membawa kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang mukmin tidak menyukainya."
Ayat ini mengingatkan kembali peristiwa keluarnya Rasulullah SAW dari rumahnya untuk membela kebenaran di Badar, sebuah keputusan yang berat dan penuh risiko. Dinyatakan pula bahwa tidak semua mukmin menyukai keputusan tersebut, mungkin karena kekhawatiran akan bahaya atau keraguan akan keberhasilan. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan di jalan Allah seringkali memerlukan pengorbanan dan menghadapi ketidaknyamanan, bahkan di kalangan orang-orang beriman sekalipun. Namun, kebenaran harus ditegakkan, dan Allah senantiasa bersama mereka yang berjuang di jalan-Nya.
Secara keseluruhan, lima ayat pertama Surah Al-Anfal memberikan landasan yang kokoh mengenai hakikat keimanan, pentingnya keikhlasan dalam perjuangan, keutamaan persatuan, serta tanggung jawab pengelolaan harta. Pesan-pesan ini tetap relevan hingga kini, menjadi panduan bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik secara individu maupun kolektif. Memahami dan mengamalkan makna ayat-ayat ini adalah kunci untuk meraih keberkahan dan ridha Allah SWT.