Kemuliaan dan Tanggung Jawab Manusia: Memahami Surat Al-Isra Ayat 70 hingga 80

Insan Kamil

Representasi kemuliaan ciptaan Allah.

Rangkaian ayat 70 hingga 80 dari Surah Al-Isra (Bani Israil) dalam Al-Qur'an memuat petunjuk-petunjuk penting mengenai posisi manusia di hadapan Allah SWT, tanggung jawab moral, serta janji pertolongan ilahi. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai landasan filosofis dan etika bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan di dunia. Fokus utama dari rentang ayat ini adalah penegasan kehormatan yang telah dianugerahkan Allah kepada Bani Adam, sekaligus mengingatkan mereka akan keterbatasan dan kebutuhan mereka terhadap bimbingan ilahi.

Penegasan Kehormatan Manusia (Ayat 70)

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."

Ayat 70 adalah pilar utama dalam memahami konsep "fitrah" dan kehormatan manusia. Kata "Karamna" (Kami muliakan) menunjukkan bahwa kemuliaan ini bersifat inheren, dianugerahkan langsung oleh Sang Pencipta, bukan hasil pencapaian manusia itu sendiri. Kemuliaan ini terwujud dalam bentuk akal, kemampuan berbicara, kemampuan memimpin (khalifah), serta kemampuan untuk menguasai alam (di darat dan di laut). Meskipun manusia diciptakan dari unsur fisik yang sama dengan makhluk lain, Allah memberikan keunggulan kognitif dan spiritual yang membedakannya secara signifikan.

Tantangan Ujian dan Kesabaran

Setelah menegaskan kemuliaan, ayat-ayat selanjutnya (termasuk konteks sebelum dan sesudah ayat 70 yang erat kaitannya) menekankan bahwa kemuliaan ini datang bersama tanggung jawab besar dan ujian. Kehidupan dunia adalah arena pengujian. Manusia yang dimuliakan ini harus mampu menggunakan akal dan kelebihan tersebut untuk ketaatan, bukan untuk kesombongan atau kerusakan.

Dalam konteks kelanjutan pembahasan di Al-Isra, terutama ketika membahas kebangkitan dan pertanggungjawaban, tersirat bahwa kehormatan ini bisa hilang jika manusia menyalahgunakannya. Jika manusia memilih jalan kesesatan, kekufuran, atau kezaliman, maka kemuliaan tersebut tidak akan berarti di hadapan timbangan akhirat. Ayat-ayat ini mendorong manusia untuk bersyukur atas karunia tersebut dengan cara menggunakan potensi diri untuk kebaikan.

Janji Pertolongan dan Peneguhan Iman (Ayat 78-80)

Bagian akhir dari rentang ayat ini beralih pada aspek praktis ibadah dan janji ketenangan batin melalui pelaksanaan shalat yang konsisten.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
"Dirikanlah shalat (sejak) matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (laksanakan pula) shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra: 78)

Ayat 78 secara spesifik memerintahkan pemeliharaan shalat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, mencakup shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya (sejak tergelincir matahari hingga gelap malam), serta shalat Subuh. Penekanan pada waktu-waktu ini menunjukkan keteraturan dan disiplin yang harus dimiliki oleh manusia yang dimuliakan. Shalat Subuh secara khusus disebutkan "disaksikan", menandakan keistimewaan waktu tersebut, di mana amal perbuatan manusia dicatat oleh malaikat siang dan malam.

Dilanjutkan dengan Ayat 79, Allah memerintahkan manusia untuk menghidupkan malam dengan shalat Tahajjud:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (Maqam Mahmudah)." (QS. Al-Isra: 79)

Ayat 79 menawarkan janji agung. Tahajjud bukan hanya sekadar ibadah tambahan, tetapi jalan menuju Maqam Mahmudah, kedudukan yang mulia di akhirat yang hanya akan dicapai oleh Rasulullah SAW dan orang-orang pilihan-Nya. Ini adalah puncak apresiasi ilahi terhadap usaha manusia yang berusaha melampaui kewajiban minimalnya.

Terakhir, ayat 80 menutup rangkaian ini dengan doa permohonan bimbingan total:

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam kebenaran (dunia dan akhirat) dan keluarkanlah aku kebenaran (dunia dan akhirat) dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong'." (QS. Al-Isra: 80)

Doa ini, yang sering dihubungkan dengan tuntunan Nabi Ibrahim AS, adalah pengakuan kerendahan hati bahwa meskipun telah dimuliakan, manusia tetap membutuhkan pertolongan dan kepastian dari Allah SWT. Memasuki kehidupan (dunia) dengan kebenaran dan keluar darinya (kematian/akhirat) dengan kebenaran, serta memohon "Sultanan Nasiro" (kekuasaan yang menolong), menegaskan bahwa keberhasilan manusia tidak terletak pada kemuliaan yang dianugerahkan, melainkan pada kemampuan menjaga kebenaran tersebut hingga akhir hayat. Keseluruhan ayat 70-80 ini adalah panduan integral antara martabat manusia, disiplin ibadah, dan permohonan pertolongan abadi.

🏠 Homepage