Ilustrasi Konsep Perbedaan Keyakinan dan Kepercayaan
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
(Terjemahan: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan sekali-kali ridha kepadamu (wahai Muhammad), sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan sungguh jika kamu menuruti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah sekali-kali tidak akan memberikan penolong dan pelindung bagimu.)Surat Al-Baqarah, ayat ke-113, merupakan penegasan penting dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai dinamika hubungan umat Islam dengan kelompok agama lain, khususnya Yahudi dan Nasrani pada masa itu. Ayat ini mengungkapkan fakta historis dan prinsip keimanan yang abadi: bahwa kelompok-kelompok tersebut tidak akan pernah merasa puas atau ridha terhadap ajaran Islam selama Nabi Muhammad dan umatnya memegang teguh prinsip tauhid yang dibawa oleh beliau.
Inti dari ayat ini adalah peringatan keras terhadap godaan untuk kompromi dalam keyakinan fundamental. Allah memerintahkan Nabi untuk menyatakan dengan tegas bahwa standar kebenaran adalah petunjuk (huda) yang dibawa oleh Allah, bukan keinginan atau tradisi golongan lain. Perintah ini melampaui konteks sejarah Nabi Muhammad dan menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman.
Ada beberapa pelajaran mendalam yang dapat kita tarik dari ayat ini:
Di era modern, tantangan untuk mengikuti "keinginan" pihak lain seringkali muncul dalam bentuk sekularisme ekstrem, relativisme moral, atau tuntutan untuk menyesuaikan ajaran agama agar "sesuai dengan zaman" atau pandangan mayoritas non-muslim. Ayat 113 Al-Baqarah menjadi benteng spiritual yang mengingatkan bahwa standar nilai dan etika Islam bersifat absolut, bersumber dari Sang Pencipta, bukan dari konsensus manusia yang selalu berubah.
Mengikuti hawa nafsu dalam konteks ini bisa berarti mengabaikan hukum syariat demi penerimaan sosial, atau mengurangi bagian-bagian ajaran yang dianggap "sulit" hanya karena mayoritas tidak menerimanya. Ayat ini mengajarkan bahwa loyalitas tertinggi adalah kepada Allah, dan kepuasan manusia tidak boleh menjadi tolok ukur kebenaran. Jika kita meninggalkan petunjuk yang jelas (ilmu dari wahyu) dan memilih jalan yang menyenangkan kelompok lain, kita sesungguhnya sedang melepaskan diri dari naungan perlindungan Allah.
Al-Baqarah ayat 113 adalah panggilan untuk konsistensi total dalam beragama. Keimanan sejati menuntut keberanian untuk berbeda dan teguh berdiri di atas kebenaran, bahkan ketika hal itu menimbulkan ketidakpuasan dari pihak yang beroposisi. Dengan memahami ayat ini, seorang mukmin diingatkan untuk selalu menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai satu-satunya peta jalan, sebab hanya di dalamnya terdapat petunjuk yang sesungguhnya dan jaminan pertolongan ilahi.