Telaah Al-Hijr Ayat 15 hingga 21

Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah tempat kaum Tsamud bermukim, mengandung banyak pelajaran penting mengenai tauhid, kekuasaan Allah, serta peringatan bagi mereka yang ingkar. Bagian dari ayat 15 hingga 21 secara khusus menyoroti kemahakuasaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam semesta, serta janji-Nya untuk memberikan rezeki kepada makhluk-Nya.

Rahmat dan Pemberian Allah

Ilustrasi Rahmat Allah melalui hujan dan pertumbuhan.

Teks Ayat dan Terjemahan

Berikut adalah inti dari ayat-ayat yang menjadi fokus bahasan:

Al-Hijr (15): "Dan sungguh, jika Kami bukakan kepada mereka suatu pintu dari langit, lalu mereka terus-menerus naik ke sana,"
Al-Hijr (16): "Niscaya mereka berkata, 'Sesungguhnya pandangan kami terhalang, bahkan kami telah didatangi orang-orang yang kena sihir.'"
Al-Hijr (17): "Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang terdekat dengan bintang-bintang, dan Kami menjaganya dari setiap (syaitan) yang tercela,"
Al-Hijr (18): "Kecuali syaitan yang dapat mencuri-curi pendengaran, lalu ia dikejar oleh bintang yang menyala-nyala dengan terang."
Al-Hijr (19): "Dan adapun bumi, telah Kami hamparkan dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu dengan neraca (yang tertentu),"
Al-Hijr (20): "Dan Kami telah menciptakan bagi kamu di bumi itu keperluan-keperluan hidup, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukanlah pemberi rezeki kepadanya."
Al-Hijr (21): "Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."

Penjelasan Kedalaman Ayat

Ayat 15 dan 16 adalah teguran keras terhadap sikap orang-orang yang sudah ditunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah namun tetap mencari alasan untuk menolak kebenaran. Allah mengisyaratkan bahwa seandainya pintu langit dibuka dan mereka bisa naik ke sana, akal mereka yang sudah tertutup oleh kesombongan akan tetap menolak fakta yang ada. Mereka akan menganggapnya sebagai sihir, bukan sebagai keajaiban ilahi yang membuktikan kekuasaan-Nya. Ini menunjukkan betapa kuatnya penolakan yang didasari oleh hawa nafsu.

Selanjutnya, ayat 17 dan 18 membahas tentang pemeliharaan langit. Allah SWT menegaskan bahwa langit yang kita lihat dekat ini telah dihiasi dengan bintang-bintang—bukan sekadar hiasan kosmetik, tetapi juga sebagai pelindung dari gangguan halus. Bintang-bintang ini berfungsi sebagai penjaga dari setiap setan yang mencoba mencuri dengar wahyu atau informasi gaib. Jika setan berhasil menyusup, maka akan ada meteor atau bintang yang menyala (bintang jatuh) yang mengejarnya. Ini menegaskan bahwa meskipun ada dimensi gaib, tidak ada intervensi bebas dari setan terhadap kehendak Allah.

Kekuasaan dalam Penciptaan Bumi (Ayat 19-21)

Beranjak ke ayat 19, fokus berpindah dari langit ke bumi. Allah menjelaskan metode penciptaan bumi sebagai sebuah karya seni yang teratur. Frasa "telah Kami hamparkan" menunjukkan persiapan bumi untuk ditinggali. Pemancangan gunung-gunung berfungsi sebagai penopang agar bumi tidak berguncang (seperti dijelaskan dalam ilmu geologi modern, gunung bertindak sebagai pasak). Yang lebih penting, semua tumbuh-tumbuhan dan kebutuhan hidup diciptakan dengan "neraca yang tertentu" (mizan). Ini berarti segala sesuatu diciptakan dengan proporsi, ukuran, dan keseimbangan yang sempurna.

Ayat 20 melanjutkan tema kebutuhan hidup. Allah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun, penekanan penting diletakkan pada frasa: "dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukanlah pemberi rezeki kepadanya." Ayat ini mengingatkan manusia bahwa kendali rezeki sepenuhnya berada di tangan Pencipta, bukan pada hasil kerja keras manusia semata. Kekayaan, kelapangan, dan kelangkaan semua tunduk pada ketetapan-Nya.

Puncak penegasan mengenai rezeki dan sumber daya terdapat pada ayat 21. "Tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya." Ini adalah janji bahwa Allah memegang kendali penuh atas segala perbendaharaan (rezeki, hujan, kekayaan, ilmu). Namun, Allah tidak menurunkannya secara sembarangan atau tanpa batas. Penurunan selalu dilakukan "dengan ukuran yang tertentu." Ini adalah pelajaran kesabaran dan tawakal; rezeki yang datang berlebih atau berkurang adalah bagian dari takdir dan hikmah yang telah diukur secara ilahi.

Refleksi dan Hikmah

Al-Hijr 15-21 mengajarkan kita untuk berhenti mencari dalih ketika dihadapkan pada bukti kebenaran. Ayat-ayat ini juga meneguhkan keyakinan bahwa kehidupan ini diatur dengan sempurna, dari konfigurasi langit berbintang hingga tumbuh-tumbuhan di bumi. Semua adalah bukti nyata kemahakuasaan dan rahmat Allah yang terukur. Tugas kita hanyalah bersyukur dan menerima ketentuan-Nya, karena sumber segala sesuatu berada di sisi-Nya.

šŸ  Homepage