Ilustrasi: Gambaran konsep sifat-sifat negatif.
Dalam kajian akhlak Islam, terdapat dua kutub utama perilaku manusia: akhlak Mahmudah (terpuji) dan akhlak Mazmumah (tercela). Akhlak Mazmumah merujuk pada segala bentuk perilaku, sifat, dan watak yang dilarang dan dicela oleh ajaran agama karena membawa dampak buruk, baik bagi individu yang melakukannya maupun bagi masyarakat luas. Memahami apa itu akhlak mazmumah adalah langkah fundamental menuju perbaikan diri dan pencapaian kualitas spiritual yang lebih baik.
Sifat-sifat tercela ini sering kali berakar dari egoisme, ketidaktahuan, dan hawa nafsu yang tidak terkontrol. Ketika seseorang didominasi oleh akhlak mazmumah, ia akan menciptakan jarak dengan nilai-nilai kebaikan dan secara perlahan merusak fondasi spiritualnya. Dampaknya tidak hanya terasa di dunia, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan setelah kematian. Secara sosial, perilaku tercela ini menyebabkan disharmoni, permusuhan, dan runtuhnya kepercayaan antar sesama.
Ada banyak variasi dari akhlak mazmumah, namun beberapa di antaranya sangat umum ditemukan dalam interaksi sehari-hari dan memerlukan perhatian khusus untuk dieliminasi. Berikut adalah beberapa contoh utama dari sifat-sifat tercela tersebut:
Kesombongan adalah rasa merasa lebih unggul dari orang lain, meremehkan kebenaran, dan menolak menerima nasihat. Ini adalah penyakit hati yang pertama kali muncul pada iblis ketika menolak perintah sujud kepada Adam AS. Sifat ini menutup pintu bagi ilmu pengetahuan dan kerendahan hati yang esensial dalam proses pembelajaran spiritual.
Hasad adalah kebencian yang timbul ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat atau kelebihan. Pelaku hasad tidak hanya tidak senang atas nikmat orang lain, tetapi juga berharap nikmat tersebut hilang. Sifat ini meracuni hati, menghilangkan rasa syukur, dan mendorong tindakan-tindakan negatif lainnya seperti fitnah atau sabotase.
Kikir adalah sifat enggan untuk berbagi, baik harta maupun ilmu, meskipun memiliki kemampuan untuk melakukannya. Sifat ini menunjukkan keterikatan yang berlebihan pada dunia materi dan kegagalan memahami konsep sedekah dan manfaat berbagi rezeki.
Riya’ adalah melakukan amal baik dengan tujuan untuk dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena mengharap ridha Allah SWT. Riya’ menghapus pahala perbuatan baik seolah-olah tidak pernah ada. Ini adalah jebakan terselubung yang sering menjerat orang yang rajin beribadah namun lupa akan niatnya.
Kemarahan yang tidak terkontrol seringkali mengarah pada ucapan kasar, tindakan kekerasan, dan kerusakan. Sementara itu, sifat pendendam membuat seseorang menyimpan dendam kesumat, menolak memaafkan, dan menciptakan siklus permusuhan yang berkepanjangan. Kedua hal ini bertentangan dengan konsep rahmat dan kasih sayang.
Menghilangkan akhlak mazmumah bukanlah proses instan, melainkan sebuah jihad (perjuangan) spiritual yang berkelanjutan. Tiga langkah utama dalam proses ini adalah: Tashihun Niyyah (memperbaiki niat), Mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu), dan Muraqabah (introspeksi diri secara terus-menerus).
Proses pembersihan akhlak ini harus didukung dengan lingkungan yang baik (sahabat yang shaleh), peningkatan ibadah wajib dan sunnah, serta refleksi diri harian (muhasabah). Dengan kesadaran penuh untuk meninggalkan setiap akhlak mazmumah, seorang muslim dapat menata jiwanya menjadi wadah yang layak bagi sifat-sifat terpuji, demi meraih ketenangan batin dan ridha Ilahi.