Perenungan Surah Al-Hijr Ayat 2

Surah Al-Hijr, surah ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, memiliki beberapa ayat yang sarat makna, salah satunya adalah ayat kedua. Ayat ini memiliki kedalaman yang seringkali terlewatkan dalam pembacaan cepat, namun sangat fundamental dalam memahami pola wahyu dan respons manusia terhadapnya. Ayat ini berbunyi:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

(Betapa seringnya orang-orang kafir itu (di akhirat kelak) menginginkan seandainya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim.)

Ayat ini merupakan sebuah pernyataan profetik yang kuat mengenai penyesalan abadi. Penggunaan kata "ruba ma" (رُبَمَا), yang berarti "betapa seringnya" atau "mungkin saja", menggarisbawahi bahwa penyesalan ini bukanlah kejadian yang langka, melainkan sebuah kepastian yang akan dialami oleh banyak orang kafir ketika mereka menyaksikan kebenaran yang mereka tolak di hadapan mereka.

Konteks Wahyu dan Kepastian Hari Pembalasan

Ayat 2 Al-Hijr datang setelah ayat pertama yang menegaskan kebesaran dan kemuliaan Al-Qur'an itu sendiri. Ayat pembuka berbicara tentang keberadaan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika pembacaan berlanjut ke ayat kedua, kontras muncul: di satu sisi ada kebenaran abadi yang dibawa wahyu, dan di sisi lain ada realitas penyesalan mereka yang memilih untuk mengingkarinya.

Inti dari ayat ini terletak pada pengakuan terhadap nilai sejati Islam. Dalam kehidupan duniawi, seringkali godaan materi, jabatan, atau kesenangan sesaat membuat seseorang menunda atau bahkan menolak jalan kebenaran. Mereka mungkin meremehkan nilai dari keimanan yang murni, menganggapnya sebagai pembatasan atau penghalang kemajuan duniawi.

Namun, perspektif ini akan berbalik seratus delapan puluh derajat di Hari Kiamat. Ketika tirai ghaib tersingkap, dan mereka melihat secara hakiki janji-janji bagi orang beriman dan konsekuensi bagi orang yang mengingkari, keinginan tunggal mereka adalah dapat kembali ke dunia dan menjadi muslimin (orang yang berserah diri kepada Allah).

Mengapa Penyesalan Itu Begitu Mendalam?

Penyesalan dalam konteks ini bukan sekadar rasa kecewa ringan. Ini adalah penyesalan yang didasari oleh pemahaman penuh akan apa yang telah hilang. Mereka menyadari bahwa kenikmatan duniawi yang mereka kejar ternyata fana dan tak berarti dibandingkan dengan kerugian kekal yang mereka hadapi.

Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya mengumpulkan kekayaan, namun ketika ajal tiba, kekayaan itu tidak mampu membeli satu detik pun kesempatan kedua. Mereka melihat surga, balasan yang dijanjikan bagi mereka yang mau bersaksi dan beramal saleh, dan menyadari betapa mudahnya kesempatan itu diraih di dunia—hanya dengan mengucapkan syahadat dan mengamalkan tuntunannya.

Pesan dari Al-Hijr ayat 2 adalah sebuah peringatan keras bagi kita yang saat ini hidup dalam masa penundaan (dunia). Allah SWT memberikan kesempatan berharga saat ini. Kesempatan untuk beriman, beramal, dan memperbaiki diri. Penyesalan di akhirat adalah keniscayaan bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Kita diajak untuk merenungkan: Apakah saat ini kita sudah menempatkan Islam sebagai prioritas tertinggi? Atau apakah kita masih menunda-nunda taubat karena masih terlalu menikmati fatamorgana dunia?

Ilustrasi Filosofis

Dunia Akhirat Penyesalan Ilustrasi: Keinginan untuk menukar dunia dengan kebenaran Islam.

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan sejati adalah hidup hari ini seolah-olah besok adalah hari penghisaban. Jangan biarkan diri kita menjadi bagian dari kelompok yang di akhirat nanti hanya bisa meratapi pilihan hidupnya di masa lalu. Memeluk Islam hari ini adalah kemenangan terbesar yang harus disyukuri dan dipertahankan.

Oleh karena itu, merenungi Surah Al-Hijr ayat 2 adalah menguatkan tekad untuk tidak menunda kebaikan dan senantiasa memohon rahmat Allah agar kita tidak termasuk dalam barisan mereka yang menyesal di saat pintu penyesalan telah tertutup rapat.

🏠 Homepage