Simbol Pemberian Rezeki dari Langit Gambar abstrak awan yang menurunkan hujan berkah (garis-garis) ke bumi yang subur.

Kekuatan dan Janji Allah dalam Al-Hijr Ayat 21

Kisah para nabi dan peringatan yang terdapat dalam Al-Qur'an selalu membawa pelajaran mendalam bagi umat manusia. Salah satu ayat kunci yang menyoroti kekuasaan mutlak Allah SWT dalam mengatur rezeki adalah Surah Al-Hijr ayat ke-21. Ayat ini, meskipun singkat, memuat makna teologis yang sangat besar mengenai tauhid (keesaan Allah) dan ketergantungan makhluk kepada Pencipta.

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
(Q.S. Al-Hijr: 21)

Ayat ini secara harfiah berarti: "Dan tidak ada suatu pun melainkan di sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."

Makna Khazanah dan Kekuasaan Allah

Frasa "khazanah" (خَزَائِنُهُ) dalam ayat ini adalah inti dari pemahaman kita tentang sifat Maha Kaya (Al-Ghani) dan Maha Pemberi (Al-Wahhab) Allah SWT. Kata ini merujuk pada gudang perbendaharaan yang tak terbatas. Dalam konteks tafsir, ini bukan hanya merujuk pada kekayaan materi seperti emas atau perak, tetapi mencakup segala sesuatu yang ada di alam semesta: air, udara, mineral, bahkan nyawa dan waktu.

Semua sumber daya yang dibutuhkan oleh makhluk hidup—mulai dari tetesan air hujan yang menopang kehidupan tumbuhan hingga energi yang menggerakkan bintang-bintang—semuanya berada di bawah kendali penuh Allah. Tidak ada satu pun entitas lain yang memiliki kekuasaan untuk menciptakan, menyimpan, atau melepaskan sumber daya tersebut tanpa izin-Nya. Hal ini menegaskan bahwa segala bentuk permohonan rezeki harus ditujukan hanya kepada Allah, Sang Pemilik Tunggal segala perbendaharaan.

Prinsip Keteraturan: "Tidak Menurunkannya Kecuali dengan Ukuran Tertentu"

Bagian kedua dari Al-Hijr ayat 21, "wa maa nunazziluhu illaa biqadarin ma'lum" (dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu), memperkenalkan konsep keteraturan kosmik yang sempurna. Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ia menjalankan alam semesta ini dengan sistem yang sangat terukur dan terencana.

Setiap hujan yang turun, setiap benih yang tumbuh, setiap nafas yang diambil, semuanya telah ditentukan takarannya secara cermat. Keteraturan ini mencegah kekacauan. Jika hujan turun tanpa ukuran, bisa terjadi banjir bandang; jika tidak turun sama sekali, kekeringan melanda. Jika rezeki diberikan tanpa batas, manusia mungkin akan lalai dan lupa akan tujuan penciptaannya.

Oleh karena itu, ayat ini memberikan dua pelajaran penting bagi seorang mukmin. Pertama, jangan pernah putus asa dalam mencari rezeki karena sumbernya tidak pernah habis. Kedua, bersyukurlah atas apa yang diterima, karena jumlahnya adalah yang paling optimal dan terbaik bagi perjalanan hidup kita saat ini. Kekurangan yang dirasakan mungkin merupakan bagian dari ukuran yang ditetapkan Allah agar kita terus berusaha dan bergantung kepada-Nya.

Relevansi Ayat dalam Kehidupan Sehari-hari

Memahami Al-Hijr ayat 21 memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Ketika seorang muslim menghadapi kesulitan ekonomi atau merasa rezekinya sempit, ayat ini menjadi pengingat bahwa kemandulan atau kelimpahan bukanlah hasil kebetulan atau campur tangan semata-mata makhluk lain, melainkan manifestasi dari takdir yang sudah diatur dalam "khazanah" Allah.

Hal ini mendorong sikap tawakal yang benar. Tawakal sejati bukanlah diam menunggu, melainkan bekerja keras sambil meyakini bahwa hasil akhirnya berada di tangan Penguasa Perbendaharaan Alam. Pekerjaan keras adalah ikhtiar kita menaati perintah Allah untuk berusaha, sementara rasa puas adalah hasil dari pemahaman bahwa kadar yang kita terima adalah yang terbaik menurut ilmu Allah yang Maha Luas.

Sebagai penutup, Al-Hijr ayat 21 adalah penegasan monoteistik yang kuat. Ia menghapus segala bentuk ketergantungan ilahiah kepada ciptaan dan mengembalikannya sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Segala sesuatu memiliki takaran, dan takaran itu hanya ada pada Allah. Kepercayaan ini membebaskan jiwa dari kecemasan berlebihan dan menambatkan hati pada ketenteraman yang hanya didapat dari keimanan yang kokoh terhadap kekuasaan-Nya yang tak terbatas namun teratur.

🏠 Homepage