وَلَكُمْ فِيهَا لِمَا تُفْقِدُونَ
(QS. Al-Hijr [15]: 20)
Surat Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," adalah surat Makkiyah yang sarat dengan kisah-kisah para nabi terdahulu dan penegasan atas keesaan Allah SWT. Ayat ke-20 secara spesifik diletakkan dalam rangkaian ayat-ayat yang membahas pemeliharaan Allah atas makhluk-Nya, terutama dalam penyediaan rezeki. Ayat-ayat sebelumnya telah menyinggung tentang penciptaan bumi yang terhampar, penempatan gunung sebagai pasak, dan pemberian kadar (ukuran) segala sesuatu.
Ayat 20 ini datang sebagai konklusi logis dari deskripsi kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta. Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia telah menciptakan bumi, menancapkan gunung, dan mengatur sumber kehidupan (air dan makanan) dalam takaran yang tepat, tibalah penegasan bahwa semua itu disediakan untuk manusia dan seluruh makhluk hidup sebagai sarana penghidupan.
Kalimat "Wa lakum fiha ma la tustaqaqun" secara harfiah berarti "Dan bagi kalian di dalamnya (bumi) ada yang kalian tidak mampu menyediakannya (atau tidak terjangkau oleh kemampuan kalian)." Namun, dalam konteks tafsir yang lebih luas, ayat ini sering diterjemahkan sebagai: "Dan di dalamnya (bumi) terdapat rezeki untukmu dan bagi makhluk yang tidak kalian beri rezeki (pelihara)."
Pesan utama dari Al-Hijr ayat 20 adalah pengakuan mutlak atas sifat Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dari Allah SWT. Ayat ini mengandung dua dimensi penting:
Allah menegaskan bahwa semua yang dibutuhkan manusia—mulai dari udara yang kita hirup, air yang kita minum, hingga makanan yang kita santap—telah disediakan di bumi ini. Ayat ini adalah penenang bagi jiwa manusia yang sering kali dihantui rasa khawatir akan masa depan dan kebutuhan esensial. Ketika kita merenungkan betapa kompleksnya siklus hujan, pertumbuhan tanaman, dan ketersediaan sumber daya alam, kita menyadari bahwa semua itu berada di luar kontrol penuh kemampuan manusia. Ketergantungan manusia sepenuhnya berada pada kemurahan dan pengaturan ilahi.
Bagian kedua dari ayat ini, yang menegaskan adanya rezeki bagi makhluk yang tidak kita pelihara, memperluas cakupan kekuasaan dan kasih sayang Allah. Ini mencakup hewan liar di hutan, ikan di lautan, burung di udara, dan semua organisme hidup lainnya. Mereka semua memiliki jatah rezeki yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Hal ini mengingatkan manusia akan tanggung jawabnya untuk tidak tamak atau serakah, karena bumi ini bukanlah milik eksklusif manusia, melainkan sebuah ekosistem besar yang diatur oleh Sang Maha Pengatur.
Memahami Al-Hijr ayat 20 memberikan dampak signifikan pada cara seorang Muslim memandang kehidupan duniawi. Pertama, ia menumbuhkan rasa tawakal yang sejati. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan berusaha semaksimal mungkin sambil meyakini bahwa hasil akhir ada di tangan Allah. Usaha adalah kewajiban, tetapi hasil adalah anugerah.
Kedua, ayat ini mendorong sikap syukur (syukur). Setiap tegukan air dan setiap suapan makanan seharusnya menjadi pengingat bahwa kenikmatan tersebut adalah pinjaman yang tidak kita usahakan sepenuhnya. Rasa syukur ini kemudian harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata, yaitu tidak menyia-nyiakan nikmat rezeki tersebut.
Ketiga, ia mengajarkan tentang keadilan universal. Allah tidak hanya menyediakan untuk manusia yang beriman atau yang berusaha keras, tetapi juga menyediakan bagi seluruh makhluk. Ini adalah gambaran dari rahmat Allah yang luas (*Ar-Rahman* dan *Ar-Rahim*) yang mencakup seluruh ciptaan-Nya. Dengan demikian, ayat ini memanggil kita untuk hidup selaras dengan alam dan menghormati hak hidup makhluk lain, karena semua adalah penerima rezeki dari sumber yang sama.
Kesimpulannya, Al-Hijr ayat 20 adalah janji yang kokoh dan sekaligus pengingat mendalam. Bumi adalah panggung kehidupan yang telah dipersiapkan secara sempurna oleh Allah SWT, dengan segala kebutuhan pokok terjamin, baik untuk kita maupun untuk seluruh penghuni lainnya. Tugas kita adalah mengambil secukupnya dengan rasa syukur dan meninggalkan sisanya untuk diurus oleh Sang Pemelihara Agung.