Dalam keagungan Al-Qur'an, setiap ayat menyimpan hikmah yang mendalam mengenai mekanisme alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT. Salah satu ayat yang menyoroti peran penting elemen alam adalah Surah Al Hijr ayat ke-22. Ayat ini sering kali menjadi perbincangan para mufassir karena menjelaskan fungsi krusial angin dalam kesinambungan siklus kehidupan di bumi, khususnya dalam proses penyerbukan tanaman.
Teks dan Terjemahan Al Hijr Ayat 22
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ
(QS. Al Hijr [15]: 22)
Terjemahan: "Dan Kami telah meniupkan angin sebagai penyerbuk (bagi tumbuh-tumbuhan), lalu Kami turunkan air (hujan) dari langit, maka Kami berikan minum air itu kepadamu, dan sekali-kali kamu bukanlah pemegangnya."
Makna Mendalam "Angin Penyerbuk" (Lawāqiḥ)
Kata kunci utama dalam ayat ini adalah "lawāqiḥ" (لَوَاقِحَ), yang merupakan bentuk jamak dari kata "lāqiḥah" yang berarti penyerbuk. Dalam konteks botani, penyerbukan (polinasi) adalah proses vital di mana serbuk sari dipindahkan dari benang sari (struktur reproduksi jantan) ke kepala putik (struktur reproduksi betina) pada bunga, yang kemudian memungkinkan terjadinya pembuahan dan pembentukan biji serta buah.
Secara historis, sebelum ilmu pengetahuan modern mengungkap mekanisme penyerbukan secara detail, Al-Qur'an telah menegaskan peran aktif angin dalam proses ini. Banyak tumbuhan, terutama tanaman sereal seperti gandum, padi, dan jagung, sangat bergantung pada angin (anemophily) untuk menyebarkan serbuk sarinya dalam jarak yang luas. Angin tidak hanya bertindak sebagai media transportasi pasif, tetapi secara aktif "mengerjakan" tugas penyerbukan ini.
Korelasi Sains dan Wahyu
Penemuan ilmiah abad ke-18 dan seterusnya mengenai struktur bunga dan proses reproduksi tumbuhan memvalidasi kebenaran deskripsi Al-Hijr ayat 22. Angin membawa partikel mikroskopis serbuk sari, menyebarkannya ke udara, dan secara kebetulan atau takdir, partikel tersebut mendarat di bunga lain yang reseptif. Ini menunjukkan bahwa Allah SWT telah merancang ekosistem dengan mekanisme yang sempurna, di mana setiap unsur alam memiliki tugas yang saling terkait.
Ayat ini tidak hanya berhenti pada angin sebagai penyerbuk. Setelah proses penyerbukan yang difasilitasi angin, Allah melanjutkan dengan menurunkan hujan ("fa anzalnā minas samā'i mā'an"). Air ini kemudian menjadi sumber kehidupan yang menyuburkan tanaman yang telah berhasil dibuahi. Rangkaian peristiwa—angin, penyerbukan, hujan, dan pertumbuhan—menunjukkan ketergantungan total ekosistem darat pada kuasa dan pengaturan Ilahi.
Pelajaran Tauhid dari Siklus Alam
Pelajaran terpenting yang ditekankan pada akhir ayat adalah: "Wamā antum lahu bi khāzinīn" (وَ مَا أَنتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ), yang berarti "dan sekali-kali kamu bukanlah pemegangnya (penyimpannya)."
Ini adalah penekanan mendasar pada konsep tauhid dalam ranah alamiah. Manusia mungkin mengamati, mempelajari, dan bahkan berusaha mengontrol sebagian kecil dari proses tersebut (misalnya, dengan irigasi), namun hakikat dan kontrol penuh atas angin, kapan hujan turun, dan keberhasilan penyerbukan itu sendiri berada sepenuhnya di tangan Allah SWT. Kita tidak bisa menyimpan angin di dalam wadah, juga tidak bisa menahan hujan atau memaksa penyerbukan terjadi tanpa izin-Nya.
Oleh karena itu, Al Hijr ayat 22 berfungsi sebagai pengingat bahwa keberlangsungan hidup kita—yang sangat bergantung pada hasil panen dari tumbuhan—tergantung pada kehendak dan pengaturan Allah. Mengakui peran angin sebagai "penyerbuk" yang diutus Allah menumbuhkan rasa syukur dan kebergantungan yang tulus kepada Sang Pencipta segala sistem alam yang agung ini.
Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu melihat fenomena alam bukan sekadar kejadian acak, melainkan sebagai bagian dari rencana besar yang terkoordinasi sempurna demi kemaslahatan makhluk-Nya.