Memahami Pesan Ilahi: Al-Hijr Ayat 25-27

Ilustrasi Malaikat membawa pesan kebenaran

Surah Al-Hijr, yang juga dikenal sebagai Surah Al-Hijr (Lembah Batu), adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Surah ini sarat dengan pelajaran penting mengenai tauhid, kekuasaan Allah, serta kisah-kisah para nabi terdahulu. Salah satu bagian yang menarik dan mengandung makna mendalam adalah ayat 25 hingga 27, di mana Allah SWT menjelaskan tentang peran vital para malaikat dalam proses penciptaan dan pemeliharaan kehidupan.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 25-27

وَاِنَّ عَلَيۡنَا لَلۡمُوَكَّلِيۡنَۙ

25. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengutus (malaikat-malaikat) yang ditugaskan.

وَمَا نُنَزِّلُ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ

26. Dan Kami tidak menurunkan sesuatu melainkan dengan ukuran yang tertentu.

وَاِنَّ رَبَّكَ هُوَ الۡخَلَّاقُ الۡعَلِيۡمُۙ

27. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

Ketepatan dan Pengawasan Malaikat (Ayat 25)

Ayat 25 menegaskan tentang keberadaan malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT. Frasa "al-muwakkalīn" (yang ditugaskan) menunjukkan bahwa setiap urusan di alam semesta ini tidak berjalan secara acak, melainkan berada di bawah pengawasan dan pelaksanaan tugas spesifik dari malaikat-malaikat yang telah diamanahkan.

Dalam konteks ayat sebelumnya (yang membahas penciptaan manusia dari tanah liat dan peniupan ruh), ayat ini memberikan jaminan bahwa proses penciptaan dan kehidupan itu teratur. Tugas malaikat bisa mencakup pencatatan amal perbuatan manusia, pencabutan nyawa, menjaga alam semesta, hingga menyampaikan wahyu. Penegasan ini memberikan rasa aman bagi orang beriman bahwa ada kekuatan ilahiah yang selalu mengawasi dan memastikan keadilan ditegakkan. Tidak ada satu pun kejadian, sekecil apa pun, yang luput dari pengawasan para malaikat ini.

Keteraturan Ilahi: Hukum Alam (Ayat 26)

Ayat 26 merupakan puncak dari konsep keteraturan ini: "Dan Kami tidak menurunkan sesuatu melainkan dengan ukuran yang tertentu." Ini adalah prinsip dasar dalam kosmologi Islam. Segala sesuatu yang datang dari Allah, baik itu berupa hujan, rezeki, hukum syariat, maupun peristiwa alam, semuanya memiliki takaran dan batas yang telah ditetapkan secara presisi oleh Allah.

Konsep "qadar ma'lūm" (ukuran yang tertentu) ini sangat penting. Hal ini menghilangkan pemikiran bahwa bencana atau rezeki datang tanpa sebab atau tanpa batas. Hujan diturunkan sesuai kebutuhan bumi, rezeki diberikan sesuai usaha dan takdir, dan setiap ciptaan memiliki batasan eksistensinya. Keteraturan ini menunjukkan keagungan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Dalam ilmu fisika modern, kita melihat hal ini terwujud dalam hukum-hukum alam yang konsisten dan terukur.

Puncak Kekuasaan: Allah Sang Pencipta dan Maha Mengetahui (Ayat 27)

Ayat terakhir dari rangkaian ini (Ayat 27) menjadi penutup yang kuat dengan menegaskan identitas sejati dari Dzat yang mengatur semua tatanan ini: "Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui."

Setelah menjelaskan tentang agen pelaksana (malaikat) dan mekanisme pelaksanaannya (ukuran tertentu), ayat ini mengarahkan fokus kembali kepada Sumber dari segala sumber kekuasaan: Allah SWT. Sifat Al-Khallāq (Maha Pencipta) menegaskan bahwa Dialah satu-satunya yang mampu mengadakan sesuatu dari ketiadaan. Sifat Al-ʿAlīm (Maha Mengetahui) menegaskan bahwa pengetahuan-Nya meliputi semua yang telah, sedang, dan akan terjadi, termasuk detail takaran yang telah ditetapkan-Nya.

Kombinasi kedua sifat ini—Pencipta dan Maha Mengetahui—menunjukkan bahwa penciptaan-Nya bukanlah eksperimen, melainkan hasil dari pengetahuan yang sempurna. Malaikat hanyalah pelaksana perintah, dan ukuran yang ditetapkan hanyalah manifestasi dari ilmu-Nya yang tak terbatas. Oleh karena itu, bagi seorang mukmin, memahami ayat 25-27 ini menuntut ketundukan total kepada ketetapan Allah, karena di balik setiap kejadian terdapat rencana agung yang diatur oleh Pencipta yang Maha Tahu.

🏠 Homepage