Menggali Keagungan Surah Al-Isra Ayat 111

Kebenaran Mutlak Katakanlah: "Segala Puji Bagi Allah" Visualisasi Tauhid dan Pujian

Visualisasi: Keesaan dan Kemuliaan Wahyu

Teks Surah Al-Isra Ayat 111

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
Wa qulil ḥamdu lillāhil-ladhī lam yattakid waladanw wa lam yakul lahū sharīkun fil-mulki wa lam yakul lahū waliyyum minadh-dhulli, wa kabbirhu takbīrā.

Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan sekali pun tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia tidak memerlukan penolong untuk (menghadapi) kehinaan." Dan agungkanlah Dia sebesar-besar pengagungan.

Penjelasan Mendalam Mengenai Ayat 111

Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran moral, hukum, dan teologis. Ayat penutupnya, yaitu ayat 111, merupakan penutup yang sangat kuat dan berfungsi sebagai rangkuman penting mengenai inti ajaran tauhid. Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Nabi Muhammad SAW (dan secara implisit kepada seluruh umat Islam) untuk memanjatkan pujian tertinggi kepada Allah SWT sambil menegaskan tiga pilar utama keesaan-Nya.

Tiga Pilar Tauhid dalam Ayat

Ayat ini memuat tiga penolakan tegas terhadap kemusyrikan dan pemahaman yang keliru tentang Tuhan:

  1. Penolakan terhadap Anak (Walad): "Yang tidak mempunyai anak." Ini adalah bantahan langsung terhadap klaim beberapa kelompok agama pada masa itu yang menganggap ada makhluk yang menjadi anak Allah. Islam menegaskan bahwa Allah Maha Suci dan tidak memerlukan keturunan. Kebutuhan akan keturunan menunjukkan kelemahan dan keterbatasan, hal yang mustahil bagi Sang Pencipta.
  2. Penolakan terhadap Sekutu dalam Kekuasaan (Syariik fil-Mulk): "Dan tidak mempunyai sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya." Ayat ini menolak konsep dewa-dewa atau entitas lain yang berbagi otoritas dalam mengatur alam semesta. Hanya Allah yang memiliki kedaulatan penuh atas segala sesuatu.
  3. Penolakan terhadap Ketergantungan (Waliyyun minadh-Dhull): "Dan Dia tidak memerlukan penolong untuk (menghadapi) kehinaan." Frasa "minadh-dhull" (dari kehinaan/kelemahan) menekankan kesempurnaan Allah. Allah tidak memerlukan pendukung atau pelindung karena Dia Maha Perkasa dan tidak pernah mengalami kelemahan atau kerendahan.

Setelah menegaskan kemahasucian dan keesaan-Nya melalui tiga penolakan tersebut, ayat diakhiri dengan perintah tegas: "Wa kabbirhu takbīrā" (Dan agungkanlah Dia sebesar-besar pengagungan). Ini bukan sekadar anjuran, melainkan perintah untuk melakukan takbir tertinggi, yang mencerminkan pemahaman penuh tentang kebesaran-Nya yang mutlak.

Pentingnya Mengucapkan Hamdalah di Akhir Urusan

Penempatan ayat ini di akhir surah Al-Isra memberikan pelajaran penting mengenai etika seorang Muslim dalam berinteraksi dengan dunia. Sebagaimana Rasulullah SAW diperintahkan untuk mengakhiri risalah atau penutup surah dengan pengakuan tauhid tertinggi, umatnya juga dianjurkan untuk menjadikan pujian kepada Allah sebagai penutup setiap urusan penting, baik itu ketika menyelesaikan bacaan Al-Qur'an, berakhirnya sebuah perjalanan (seperti yang dibahas di awal surah Al-Isra), atau setelah mencapai kesimpulan mendalam.

Mengucapkan Alhamdulillah setelah menyelesaikan sesuatu yang besar adalah bentuk syukur bahwa keberhasilan tersebut semata-mata karena izin dan pertolongan Allah, bukan karena kekuatan atau kemampuan diri sendiri. Ini sekaligus menanamkan kerendahan hati (tawadu) bahwa segala pujian harus dikembalikan kepada sumber segala kebaikan.

Dalam konteks modern, ayat ini menjadi benteng teologis melawan paham-paham sekuler atau materialistik yang cenderung menganggap keberhasilan duniawi murni hasil usaha manusia tanpa campur tangan ilahi. Ayat 111 Surah Al-Isra mengingatkan bahwa setiap pencapaian, sekecil apapun, berakar pada kehendak Allah yang Maha Tunggal.

Refleksi Spiritualitas dan Aplikasi

Ayat ini adalah seruan untuk selalu menjaga kemurnian akidah. Ketika kita mengagungkan Allah (Takbir), kita menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya dalam aspek apa pun—kekuatan, kekuasaan, ataupun keilahian. Pengagungan yang "sebesar-besar pengagungan" (takbīrā) menuntut adanya penghayatan total, bukan sekadar pengulangan lisan. Ini berarti kita harus mengagungkan-Nya dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan kita, menjauhi segala bentuk syirik khafi (syirik tersembunyi), seperti riya' (pamer) atau hasad (dengki).

Dengan memahami Surah Al-Isra ayat 111 secara mendalam, seorang Muslim diperkuat dalam keyakinannya bahwa Rabb yang disembahnya adalah Tuhan yang sempurna, mandiri, dan satu-satunya yang berhak menerima segala bentuk pujian dan pengagungan. Ini adalah fondasi spiritual yang kokoh dalam menghadapi kompleksitas hidup dan tantangan zaman.

Sebagai kesimpulan, ayat penutup Surah Al-Isra ini berfungsi sebagai kapsul tauhid yang padat, sebuah penutup yang elegan dan kuat bagi satu bab Al-Qur'an yang penuh hikmah. Ia mengarahkan hati dan lisan pembacanya kembali kepada sumber segala kemuliaan: Allah yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Maha Agung.

🏠 Homepage