Memahami Keagungan Janji Allah dalam Al-Hijr: 35

Konteks Ayat: Sikap Terhadap Permintaan Penangguhan

Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, kaya akan pelajaran mengenai keesaan Allah, siksaan bagi yang mendustakan, dan kisah-kisah umat terdahulu. Salah satu ayat yang sangat penting dan sarat makna adalah ayat ke-35. Ayat ini berbicara langsung mengenai respons Allah terhadap permintaan penangguhan (penundaan azab) yang diajukan oleh iblis atas perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam.

Ayat 35 ini menjadi penegasan tegas mengenai batas waktu dan ketetapan ilahi yang tidak dapat diganggu gugat oleh makhluk mana pun. Dalam ayat-ayat sebelumnya, kita diperlihatkan bagaimana Allah menciptakan Adam, memerintahkan para malaikat untuk bersujud, dan bagaimana Iblis menolak karena kesombongan.

QS. Al-Hijr (15:35):
قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Dia (Iblis) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku penangguhan (umur) sampai hari mereka dibangkitkan."

Permintaan Iblis ini bukanlah bentuk pertobatan, melainkan upaya untuk melanjutkan kesesatan dan menipu anak cucu Adam hingga hari kiamat. Ia meminta waktu agar bisa terus menyesatkan manusia. Ini menunjukkan betapa berbahayanya kesombongan yang berujung pada penolakan terhadap perintah kebenaran.

Penangguhan Hingga Hari Kebangkitan

Ilustrasi: Batas Waktu yang Ditetapkan.

Jawaban Allah: Batas Akhir yang Pasti

Setelah Iblis mengajukan permintaan penangguhan tersebut, Allah memberikan jawaban yang sangat jelas dan tegas dalam ayat berikutnya (Al-Hijr ayat 36-38). Jawaban ini adalah pelajaran fundamental tentang kepastian hari perhitungan.

Allah berfirman: "Dia (Allah) berfirman: 'Sesungguhnya Engkau termasuk golongan yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan waktunya.'" (QS. Al-Hijr: 37).

Penangguhan yang diberikan kepada Iblis bukanlah sebuah kemenangan atau kelonggaran tanpa batas. Itu adalah sebuah takdir yang telah Allah tetapkan. Waktu penangguhan tersebut berakhir tepat pada Hari Kiamat, yaitu hari ketika semua manusia akan dibangkitkan untuk menerima perhitungan amal perbuatannya masing-masing.

Pesan utama dari Al-Hijr ayat 35 dan konteksnya adalah mengenai pentingnya menghargai waktu dan tidak menunda-nunda ketaatan kepada Allah. Jika makhluk sekuat dan seangkuh Iblis pun diberikan batas waktu yang pasti (yaitu hingga hari kiamat), maka manusia sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah wajib memanfaatkan sisa umurnya dengan sebaik-baiknya.

Refleksi untuk Kehidupan Muslim

Ayat ini mengajak kita merenungkan tiga aspek penting:

  1. Kesombongan Menghalangi Iman: Penolakan Iblis adalah akar dari segala kesesatan. Ia memilih membela egonya daripada patuh pada perintah Sang Pencipta.
  2. Pentingnya Batas Waktu: Kehidupan dunia ini bersifat sementara dan memiliki batas akhir yang pasti, sama seperti penangguhan yang diberikan kepada Iblis. Kepastian Hari Kebangkitan seharusnya memotivasi kita untuk selalu beramal saleh.
  3. Janji dan Kepastian Allah: Meskipun Iblis diberi kesempatan untuk menyesatkan, ia tidak pernah bisa melampaui batas yang ditetapkan Allah. Semua rencana makhluk tunduk pada kehendak Ilahi.

Dengan merenungkan Al-Hijr 35, seorang mukmin diingatkan bahwa penangguhan yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah rahmat, kesempatan emas untuk membersihkan diri, memperbaiki hubungan dengan-Nya, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk hari ketika tidak ada lagi penangguhan yang mungkin diberikan. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari batas waktu yang telah ditentukan, dan kita harus memastikan bahwa waktu tersebut diisi dengan ketaatan, bukan dengan mengikuti jejak kesombongan Iblis.

Memahami ayat ini memberikan ketenangan bahwa meski godaan setan begitu kuat, batas akhirnya sudah jelas. Tugas kita adalah teguh di atas jalan petunjuk Allah hingga waktu yang telah ditetapkan itu tiba.

🏠 Homepage