Memahami Al-Hijr Ayat 36: Penundaan dan Kepastian

... Hingga Waktu Tertentu Kepastian Keputusan Allah

Visualisasi Penundaan Waktu

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 36

Surat Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat 36 dari surat ini memiliki makna yang mendalam, terutama terkait dengan respons terhadap ancaman atau penolakan yang diterima oleh para rasul.

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(Iblis) berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku tangguh (penangguhan hukuman) sampai hari mereka dibangkitkan."

Ayat ini merupakan kelanjutan dari dialog antara Allah SWT dan Iblis setelah Iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. Setelah dikutuk dan diusir dari surga, Iblis mengajukan permohonan yang sangat penting bagi kelangsungan misinya menyesatkan manusia.

Konteks Permintaan Iblis

Ketika Allah menetapkan hukuman bagi Iblis karena kesombongannya, Iblis tidak serta merta menerima nasibnya. Sebaliknya, ia menggunakan momentum pengusiran itu untuk mengajukan permohonan kepada Sang Pencipta. Permintaan ini termaktub dengan jelas dalam ayat sebelumnya (Al-Hijr: 35) yang menyatakan bahwa ia akan diberi waktu hingga hari pembalasan. Ayat 36 ini adalah detail dari permintaan penangguhan tersebut.

Permintaan Iblis adalah: "Ya Tuhanku, berilah aku tangguh (penangguhan hukuman) sampai hari mereka dibangkitkan."

Frasa kunci di sini adalah "ilā yawmi yubʿathūn" (sampai hari mereka dibangkitkan). Iblis meminta penundaan bukan sampai akhir zaman secara umum, melainkan sampai Hari Kiamat, yaitu hari ketika semua manusia, termasuk keturunannya yang ia sesatkan, akan dibangkitkan dari kubur untuk menghadapi pertanggungjawaban.

Hikmah di Balik Penangguhan

Permintaan Iblis dikabulkan oleh Allah SWT, namun pengabulan ini mengandung hikmah ketetapan ilahi yang sangat besar. Penangguhan ini bukan berarti Allah lemah atau tidak mampu menghancurkan Iblis saat itu juga. Sebaliknya, penangguhan tersebut adalah bagian dari ujian (fitnah) terbesar bagi umat manusia.

1. Ujian Keimanan (Fitnah): Dengan adanya Iblis dan keturunannya (setan) yang aktif menggoda, manusia diuji seberapa kuat imannya, seberapa teguh mereka memegang ajaran Allah, dan seberapa besar upaya mereka untuk menjauhi larangan-Nya. Jika tidak ada ujian, keimanan sejati sulit terwujud.

2. Kepastian Hukum Allah: Meskipun Iblis diberi waktu, hal itu tidak mengurangi kepastian hukuman yang menantinya di akhirat. Penangguhan ini hanya berlaku di dunia sebagai arena perjuangan.

3. Waktu Bertobat: Bagi manusia, keberadaan Iblis yang terus menggoda menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia adalah kesempatan terbatas untuk beramal saleh sebelum tiba hari kebangkitan, yaitu batas waktu penangguhan Iblis.

Implikasi Spiritual Ayat 36

Ayat Al-Hijr 36 mengajarkan kita tentang realitas perjuangan spiritual. Musuh kita (setan) diberikan waktu oleh Allah untuk melaksanakan tugasnya menyesatkan, namun kemenangan sejati adalah bagi mereka yang mampu bertahan hingga akhir waktu yang telah ditetapkan Allah.

Ketika kita merasa lelah dalam beribadah atau tergoda untuk melakukan maksiat, mengingat bahwa Iblis pun sedang berjuang sekuat tenaga dalam misinya, seharusnya memotivasi kita untuk lebih giat membentengi diri dengan zikir, ilmu, dan amal saleh. Kita tahu batas waktu kita di dunia ini terbatas, dan kebangkitan adalah titik akhir bagi penangguhan Iblis sekaligus titik awal bagi perhitungan amal kita.

Makna ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali penuh Allah. Penangguhan Iblis adalah bagian dari skenario besar-Nya, dan garis akhir dari penangguhan itu telah ditentukan secara pasti: Hari Kebangkitan.

Oleh karena itu, sebagai Muslim, kita harus menyikapi kehidupan dunia ini sebagai medan pertempuran yang harus dimenangkan dengan iman dan taqwa, menyadari bahwa musuh yang menggoda kita memiliki "izin" hingga batas waktu yang telah ditetapkan Allah SWT.

🏠 Homepage