Dalam Al-Qur'an, setiap ayat mengandung mutiara hikmah yang luas. Salah satu ayat yang seringkali menjadi bahan perenungan mendalam mengenai konsep rezeki dan tujuan penciptaan adalah Surat Al Hijr ayat 86. Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini—termasuk rezeki yang tampak melimpah—memiliki parameter dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Meskipun ayat ini seringkali disandingkan dengan ayat-ayat lain dalam pembahasan tauhid (mengenai siapa Pencipta), konteks Surah Al Hijr secara keseluruhan, terutama ayat-ayat sebelumnya, berbicara tentang kenikmatan dunia, peringatan bagi orang yang ingkar, dan bagaimana Allah mengatur segala urusan. Oleh karena itu, meninjau surat Al Hijr ayat 86 dalam bingkai ayat-ayat sekitarnya memberikan kedalaman makna yang luar biasa.
Ayat 86 ini merupakan bagian dari dialog argumentatif yang diarahkan kepada kaum musyrik Mekkah saat itu. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengajukan pertanyaan retoris kepada mereka: Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya?
Jawaban yang pasti mereka berikan adalah "Allah". Ini menunjukkan adanya titik temu akal sehat—sebuah pengakuan fitrah—bahwa kekuatan yang dahsyat dan keteraturan alam semesta tidak mungkin terjadi tanpa adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Namun, keanehan muncul karena pengakuan ini kontradiktif dengan perilaku mereka sehari-hari yang menyekutukan Allah dengan berhala-berhala lain.
Inilah pelajaran pertama dari surat Al Hijr ayat 86: Pengakuan lisan (iqrar bil lisan) terhadap keesaan Allah dalam penciptaan tidak otomatis membawa seseorang keluar dari kesyirikan jika hati dan amal perbuatannya masih menyembah selain-Nya.
Setelah mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, ayat ini ditutup dengan penyebutan dua sifat Allah yang sangat penting: "Wahuwal Khallāqul ‘Alīm" (Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui).
Sifat "Al-Khallāq" menunjukkan bahwa penciptaan Allah bersifat berkelanjutan, sempurna, dan tidak pernah berhenti. Allah bukan hanya menciptakan sesuatu sekali, tetapi terus menerus memelihara, mengadakan, dan menciptakan hal-hal baru sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam konteks rezeki, ini berarti Allah tidak hanya menciptakan sumber daya alam, tetapi juga mengatur distribusi dan ketetapan atasnya.
Sifat "Al-‘Alīm" melengkapi kesempurnaan sifat penciptaan. Allah menciptakan segala sesuatu dalam batas pengetahuan-Nya yang sempurna. Dia tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya, kapan waktu yang tepat untuk memberikan kelapangan rezeki, dan kapan waktu yang tepat untuk memberikan ujian kesempitan. Keseimbangan ini seringkali menjadi kunci pemahaman mengapa rezeki terkadang tampak tidak merata di mata manusia.
Meskipun ayat 86 secara eksplisit tidak menyebut kata 'rezeki', korelasi antara penciptaan dan rezeki sangat erat. Rezeki adalah bagian dari sistem alam semesta yang diciptakan dan diatur oleh Al-Khallāq Al-‘Alīm. Ketika manusia memahami bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk segala sumber penghidupan, maka seharusnya muncul rasa tenang dan tawakal.
Jika kita merenungkan bahwa Dialah yang menciptakan bintang-bintang dan planet, mengatur siklus air hujan, dan menumbuhkan tanaman (seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya di Surat Al Hijr), maka rezeki harian kita—sebesar apapun atau sekecil apapun—pasti berada di bawah kendali-Nya yang Maha Tahu.
Bagian akhir ayat, "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," menjadi teguran keras. Ketidaktahuan di sini bukan sekadar tidak tahu nama Allah, melainkan ketidakmampuan mereka memahami implikasi logis dari pengakuan mereka. Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, namun mereka tidak memahami bahwa Pencipta Agung ini juga berhak untuk ditaati sepenuhnya dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam ibadah dan muamalah. Mereka tidak mengetahui bahwa dari pengetahuan (ilmu) Allah Yang Maha Mengetahui, datanglah hikmah dalam setiap pembagian rezeki dan ketetapan hidup.
Intisari dari surat Al Hijr ayat 86 adalah panggilan untuk menyelaraskan pengakuan lisan dengan keyakinan hati dan amal perbuatan. Pengakuan tauhid rububiyah (tauhid dalam penciptaan) harus mengarahkan kita kepada tauhid uluhiyah (pengesaan dalam ibadah), menyadari bahwa Yang Maha Mencipta adalah Yang Berhak disembah, dan segala ketetapan-Nya, termasuk takdir rezeki, adalah yang terbaik karena Dia adalah Al-‘Alīm.