Tafsir dan Makna Al-Hijr Ayat 53

Pendahuluan: Konteks Surat Al-Hijr

Surat Al-Hijr, yang berarti 'Batu', adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini diturunkan di Mekkah dan kaya akan pesan-pesan mengenai keesaan Allah (tauhid), peringatan bagi kaum yang mendustakan, serta kisah-kisah para nabi terdahulu. Ayat-ayatnya memberikan ketenangan bagi Nabi Muhammad SAW di masa-masa sulit dakwahnya.

Di tengah pembahasan mengenai kekuasaan Allah dalam penciptaan dan peringatan-peringatan tersebut, terdapat sebuah ayat yang sangat penting mengenai sikap manusia dalam menerima pemberian Allah, yaitu Al-Hijr ayat 53. Ayat ini menyoroti salah satu aspek penting dalam interaksi manusia dengan Pemberi rezeki utama.

Anugerah Ilahi ?

Ayat Al-Hijr 53

Ayat ini merupakan respons langsung dari Nabi Muhammad SAW ketika para kaum musyrikin Quraisy (atau dalam konteks umum, setiap penanya) meminta jaminan atau kepastian mutlak mengenai masa depan mereka atau kebenaran wahyu.

قَالُوا۟ بَلْ نَحْنُ مَرْزُونُونَ
"Mereka menjawab: 'Bahkan, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diberi rezeki (oleh Tuhan kami).'"

(QS. Al-Hijr: 53)

Analisis Teks dan Konteks Historis

Meskipun terjemahan di atas tampak sederhana, konteks dialognya sangat krusial. Dalam tafsir yang umum, dialog ini terjadi ketika para penanya (seringkali diartikan sebagai orang-orang kafir Mekkah atau malaikat yang menyamar) bertanya kepada Nabi, "Apakah engkau benar-benar akan membuat kami mengalami kebangkitan (setelah kematian)?" atau dalam tafsir lain, mereka bertanya tentang nasib nabi-nabi terdahulu.

Jawaban yang diberikan oleh Allah melalui Nabi adalah penegasan bahwa mereka, meskipun mungkin menolak kebenaran risalah, tetap berada dalam naungan ketetapan dan rezeki Allah. Kalimat "بل نحن مرزونون" (Bahkan, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diberi rezeki) mengandung beberapa lapisan makna:

  1. Pengakuan atas Kekuasaan Allah: Mereka mengakui bahwa rezeki (rizq) mereka datang dari Tuhan, meskipun lisan mereka menolak untuk tunduk pada perintah-Nya sepenuhnya. Ini menunjukkan bahwa Allah tetap Maha Pemurah kepada hamba-Nya, bahkan kepada yang ingkar.
  2. Fokus Duniawi: Ungkapan ini sering kali mencerminkan mentalitas yang terlalu fokus pada urusan duniawi. Mereka merasa aman karena hari ini masih diberi makan, sehingga mereka menolak ancaman azab akhirat yang disampaikan Nabi.
  3. Kontras dengan Permintaan Nabi: Dalam riwayat lain, jawaban ini adalah respons terhadap permintaan Nabi untuk memaafkan atau menunda penghukuman. Mereka seolah berkata, "Kami tidak butuh janji kiamatmu; kami sibuk dengan rezeki kami saat ini."

Pelajaran Penting dari Al-Hijr Ayat 53

Ayat ini memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam tentang hakikat rezeki dan sikap syukur. Kita diingatkan bahwa rezeki, dalam arti luas (baik materi maupun non-materi), sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Ketika seseorang diberi kelapangan rezeki, hal itu tidak boleh menjadi justifikasi untuk berbuat maksiat atau menolak kebenaran.

Banyak orang tersesat karena terjebak dalam ilusi keamanan duniawi yang diberikan Allah. Mereka melihat kelancaran rezeki sebagai tanda keridhaan Allah atas cara hidup mereka yang mungkin menyimpang dari syariat. Namun, Al-Qur'an mengajarkan bahwa kenikmatan duniawi adalah ujian (istidraj), bukan jaminan surga.

Oleh karena itu, mukmin sejati seharusnya menjadikan setiap rezeki yang diterima sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Pemberi rezeki tersebut. Sikap syukur sejati adalah mengakui bahwa Dia adalah Al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan menggunakan anugerah tersebut untuk menegakkan ketaatan, bukan untuk kesombongan atau pengabaian terhadap pesan-pesan Ilahi. Ayat ini berfungsi sebagai cermin agar kita tidak menjadi seperti mereka yang terlena oleh rezeki sesaat hingga melupakan tanggung jawab hakiki di hadapan Sang Pencipta.

🏠 Homepage