Surah Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang" atau "Tempat yang Dilalui", adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah dan pengajaran. Di antara ayat-ayat yang sarat makna, terdapat dua ayat yang sangat penting dalam konteks dialog antara para nabi dan kaum mereka, khususnya terkait dengan peringatan dan jaminan kekuasaan Allah: Al-Hijr ayat 55 dan 56. Ayat-ayat ini menegaskan posisi kenabian dan kekuatan absolut Tuhan dalam memberikan kabar gembira sekaligus ancaman.
Ilustrasi simbolik wahyu dan kebenaran.
Ayat 55 dan 56: Jawaban Para Nabi
Ayat 55 dan 56 Surah Al-Hijr menggambarkan momen ketika para nabi, dalam hal ini Nabi Ibrahim AS (berdasarkan tafsir umum konteks ayat-ayat sebelumnya), memberikan jawaban tegas dan meyakinkan kepada kaum yang meragukan atau menantang mereka. Jawaban ini bukan sekadar klaim personal, melainkan penegasan atas wahyu yang mereka terima dari Allah SWT.
وَنَبِّئْهُمْ عَن ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ
(55) Dan berilah mereka kabar tentang tamu-tamu Ibrahim.
إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ إِنَّا مِنكُمْ وَجِلُونَ
(56) Ketika mereka masuk kepadanya, lalu mereka mengucapkan, "Salaam". Berkata Ibrahim, "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu."
Ayat 55 memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan kisah tamu-tamu Ibrahim. Kisah ini terkenal dalam beberapa surah lain, di mana para malaikat datang dalam wujud manusia untuk menyampaikan berita gembira sekaligus peringatan kepada Nabi Ibrahim. Konteks ini penting karena menunjukkan bahwa wahyu (kabar) harus disampaikan, bahkan jika itu datang dalam bentuk yang tidak terduga.
Ayat 56 menampilkan dialog awal antara Ibrahim dan tamu-tamunya. Ketika mereka mengucapkan salam, reaksi Ibrahim adalah rasa takut. Rasa takut di sini bukan karena kelemahan, melainkan karena ia menyadari kedudukan tinggi tamu-tamunya yang ternyata adalah utusan ilahi. Sikap waspada dan penghormatan ini adalah cerminan ketakwaan seorang nabi.
Implikasi Ketakutan dan Penghormatan
Mengapa seorang nabi sekelas Ibrahim AS merasa takut? Dalam tafsir Ibnu Katsir dan lainnya, rasa takut itu muncul karena tamu-tamu tersebut tampak asing dan memiliki aura keagungan yang tidak biasa. Ibrahim, dengan intuisi kenabiannya, langsung merasakan bahwa ini bukan pertemuan biasa. Rasa takut yang muncul adalah rasa takut yang terpuji (khauf), yaitu kesadaran akan kebesaran Allah yang termanifestasi melalui utusan-Nya.
Ayat ini mengajarkan pentingnya adab dalam menerima tamu, terutama mereka yang memiliki kedudukan mulia atau membawa pesan penting. Bahkan dalam menghadapi kebenaran yang asing atau mengagetkan, sikap seorang mukmin adalah tetap menjaga ketenangan batin sambil tetap waspada terhadap keagungan di hadapannya.
Konteks Peringatan dalam Al-Hijr
Jika kita melihat rangkaian ayat sebelumnya di Surah Al-Hijr, ayat 55 dan 56 ini muncul setelah peringatan keras kepada kaum yang ingkar, seperti kaum Luth, Tsamud, dan penduduk Madyan. Nabi Ibrahim adalah representasi dari kesabaran dan penegasan tauhid di tengah kekufuran. Kisah kedatangan tamu (malaikat) berfungsi sebagai jaminan bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang setia berjalan sendirian. Di balik ketakutan awal Ibrahim, tersimpan janji kebaikan dan kepastian tegaknya keadilan ilahi.
Menceritakan kisah ini kepada kaum Nabi Muhammad SAW berfungsi sebagai penghiburan sekaligus peringatan. Penghiburan bahwa para nabi terdahulu juga menghadapi kesulitan, dan peringatan bahwa akhir dari pembangkangan terhadap wahyu adalah kehancuran yang serupa dengan umat-umat terdahulu.
Secara keseluruhan, Al-Hijr ayat 55 dan 56 menyoroti bagaimana kebenaran Ilahi terkadang datang dengan cara yang mengejutkan. Ia menuntut respons berupa rasa hormat, kewaspadaan spiritual, dan penerimaan yang tulus, layaknya respons Nabi Ibrahim AS ketika menyambut utusan agung dari Tuhannya.