Kisah Nabi Luth dan Peringatan Ilahi

Memahami Al-Hijr Ayat 65

Al-Qur'an adalah petunjuk hidup bagi umat Islam, dan setiap ayatnya mengandung hikmah dan pelajaran yang mendalam. Salah satu ayat yang sering direnungkan terkait dengan kisah kenabian adalah Surah Al-Hijr ayat 65. Ayat ini sangat singkat namun sarat makna, merangkum momen krusial dalam kisah Nabi Luth 'alaihissalam (AS) dan kaumnya.

"Maka berjalanlah engkau bersama keluargamu pada akhir malam dan ikutilah mereka dari belakang; dan janganlah sekali-kali seorang pun di antara kalian menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (istrimu) akan ditimpa musibah yang menimpa mereka."

(QS. Al-Hijr: 65)

Konteks Kisah Nabi Luth AS

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Luth AS untuk meninggalkan negerinya (Sodom dan Gomora) beserta kaumnya yang terkenal dengan perbuatan keji dan maksiat yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Azab Allah telah ditetapkan atas kaum tersebut karena penolakan mereka terhadap dakwah tauhid dan kemaksiatan yang mereka lakukan secara terang-terangan.

Perintah untuk berangkat di "akhir malam" memiliki signifikansi penting. Waktu tersebut adalah saat kealpaan dan kegelapan mendominasi, menjadi waktu yang dipilih Allah untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman sebelum azab dahsyat diturunkan. Ini mengajarkan pentingnya kecepatan dalam merespons perintah Ilahi, terutama ketika bahaya mengintai.

Pelajaran Penting dari Arahan Ilahi

Perintah dalam ayat ini bukan sekadar instruksi logistik, melainkan ujian keimanan yang sangat berat. Terdapat dua poin utama yang sangat ditekankan:

  1. Berjalan di Depan dan Mengikuti dari Belakang: Nabi Luth diperintahkan untuk memimpin keluarganya, menunjukkan kepemimpinan spiritual dan tanggung jawab sebagai nabi. Perintah mengikuti dari belakang menunjukkan agar mereka tetap waspada terhadap yang lain dan tidak terburu-buru dalam langkah mereka.
  2. Larangan Menoleh ke Belakang (Kecuali Istri Nabi): Ini adalah bagian yang paling menyentuh. Menoleh ke belakang dalam konteks ini dapat diartikan sebagai keraguan, penyesalan, atau bahkan ketertarikan untuk melihat azab yang menimpa. Allah secara tegas melarang hal ini, karena mereka harus fokus pada keselamatan yang dijanjikan di depan. Pengecualian untuk istri Nabi Luth menunjukkan bahwa dia adalah bagian dari kaum yang akan diazab, karena ia tidak beriman sepenuhnya atau bahkan berkhianat dalam keyakinan.

Kehati-hatian dan Konsistensi Iman

Kisah ini menegaskan bahwa keselamatan dari azab Ilahi memerlukan komitmen penuh. Keraguan sekecil apapun, atau keterikatan pada dunia yang akan dihancurkan, dapat membatalkan janji keselamatan tersebut. Dalam kehidupan modern, ini bisa diartikan sebagai perlunya konsistensi dalam memegang teguh prinsip kebenaran dan tidak mudah terpengaruh oleh godaan atau lingkungan yang destruktif.

Al-Hijr ayat 65 menjadi pengingat abadi bahwa hubungan kekerabatan di dunia tidak otomatis menjamin keselamatan akhirat jika tidak disertai dengan kesamaan keyakinan dan ketaatan pada ajaran Allah. Keimanan adalah fondasi utama yang harus dijaga, bahkan di tengah cobaan yang paling berat. Pelajaran dari ayat ini mengajak kita untuk senantiasa menimbang prioritas kita: apakah kita lebih berpegang pada ikatan duniawi atau ikatan ukhuwah dengan Allah SWT.

Azab Awal Tujuan

Ilustrasi sederhana: Perjalanan menjauhi zona bahaya.

🏠 Homepage