Ilustrasi simbolis kehancuran kota Sodom
Surat Al-Hijr, yang juga dikenal dengan nama surat Al-Hijr (kawasan kaum Tsamud), menyimpan banyak kisah peringatan penting bagi umat manusia. Salah satu ayat yang paling menonjol karena menggambarkan konsekuensi dahsyat dari penyimpangan moral adalah **Al-Hijr ayat 74**. Ayat ini secara spesifik merujuk pada kisah kaum Nabi Luth AS, sebuah narasi yang selalu diulang dalam Al-Qur'an sebagai contoh ekstrem dari kekufuran dan perbuatan keji.
Ayat 74 ini adalah puncak dari hukuman yang dijanjikan Allah SWT kepada kaum Nabi Luth (Sodom dan Gomora). Kaum ini terkenal karena praktik penyimpangan seksual (homoseksualitas) yang mereka lakukan secara terbuka, menolak dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Luth, dan bahkan mengancam akan mengusir Nabi dan pengikutnya. Mereka menantang azab yang dijanjikan Allah.
Sebelum ayat ini, Allah telah menjelaskan bahwa azab tersebut adalah sesuatu yang pasti datang karena kesombongan dan penolakan mereka terhadap ajaran yang benar. Ayat 74 menjadi deskripsi visual tentang bagaimana azab itu dilaksanakan. Frasa "Kami jadikan bagian atas (kota) itu terbalik ke bawah" menunjukkan sebuah guncangan kosmik yang dahsyat. Para mufassir menjelaskan bahwa seluruh wilayah permukiman kaum Luth dibalik secara total—atas menjadi bawah, dan sebaliknya. Ini adalah bukti mutlak atas kekuasaan Allah yang mampu membalikkan tatanan alamiah sebagai respons atas pelanggaran tatanan moral yang mereka lakukan.
Al-Hijr ayat 74 memaparkan dua elemen hukuman yang ekstrem dan simultan: pembalikan geografis dan hujan batu.
Pembalikan kota adalah cara penghancuran yang total dan memalukan. Dalam konteks geologi, ini bisa diartikan sebagai gempa bumi berskala super dahsyat yang menyebabkan tanah amblas dan terbalik. Bagi kaum yang sangat bangga dengan peradaban dan tempat tinggal mereka, kehilangan pijakan dan terbalik adalah penghinaan tertinggi. Hal ini menandakan bahwa tidak ada tempat berlindung aman bagi mereka yang telah melampaui batas kemaksiatan.
Setelah kota terbalik, Allah menghujani mereka dengan "batu dari tanah yang keras" (سِجِّيلٍ - sijjīl). Kata sijjīl sering diartikan sebagai batu yang telah dibakar atau terbuat dari tanah liat yang mengeras. Hukuman ini sangat spesifik. Berbeda dengan hujan air biasa, hujan batu ini memastikan kehancuran fisik yang total dan menghapus jejak peradaban mereka. Hujan ini bukan berasal dari awan biasa, melainkan perintah langsung dari Allah, menegaskan bahwa fenomena alam tunduk pada kehendak-Nya.
Pelajaran utama dari Al-Hijr ayat 74 adalah konsekuensi fatal dari pengabaian terhadap wahyu ilahi dan penyebaran kemaksiatan. Kisah kaum Luth berfungsi sebagai peringatan universal:
Oleh karena itu, Al-Hijr ayat 74 bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan cermin yang dipantulkan kepada setiap generasi tentang pentingnya menjaga kesucian fitrah dan menaati perintah Allah. Kehancuran yang digambarkan begitu dahsyat karena pelanggaran yang dilakukan begitu melampaui batas nalar dan kesopanan kemanusiaan.