Memahami Al-Hijr Ayat 24: Kunci Kehidupan dan Kematian
Al-Qur'an adalah sumber petunjuk bagi umat manusia, dan setiap ayatnya mengandung hikmah yang mendalam. Salah satu ayat yang sering direnungkan terkait dengan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan menghidupkan adalah Al-Hijr ayat 24. Ayat ini secara eksplisit menyingkapkan bahwa Allah SWT adalah Zat yang Maha Menentukan, baik dalam hal penciptaan, pemberian rezeki, maupun penentuan akhir setiap makhluk.
Ayat ini merupakan penegasan tegas mengenai ilmu Allah (Al-'Ilm) yang mencakup masa lampau dan masa mendatang. Ketika Allah menurunkan firman ini, Dia mengingatkan kaum musyrik Mekah yang meragukan kebangkitan, bahwa Zat yang mampu menciptakan alam semesta dan menghidupkan kembali setelah kematian, tentu sangat mudah bagi-Nya untuk mengetahui siapa yang telah hidup dan siapa yang akan datang kelak.
Konteks Penegasan Kekuasaan
Surat Al-Hijr, secara keseluruhan, sarat dengan pesan tentang keesaan Allah, kebenaran wahyu, dan peringatan keras bagi mereka yang mendustakannya. Ayat 24 ini hadir setelah serangkaian ayat yang membahas penciptaan, termasuk penciptaan jin dan kisah penciptaan Adam. Penempatan ayat ini sangat strategis. Ia berfungsi sebagai jembatan logika: jika Allah mampu melakukan hal yang kompleks (penciptaan), maka hal yang lebih sederhana (mengetahui yang akan datang) sudah pasti berada dalam genggaman-Nya.
Frasa "Kami telah menciptakan pendahulu-pendahulu mereka" merujuk pada generasi manusia sebelumnya, dari Nabi Adam hingga umat Nabi Muhammad SAW. Sementara "Kami benar-benar mengetahui (pula) orang-orang yang datang kemudian" menjamin bahwa tidak ada satu pun entitas, perbuatan, atau takdir yang tersembunyi dari pandangan-Nya. Ini memberikan rasa aman bagi orang beriman bahwa amal mereka tercatat, dan memberikan peringatan bagi yang ingkar bahwa perhitungan mereka pasti akan tiba.
Implikasi Spiritual: Tauhid Rububiyah
Pesan utama dari Al-Hijr ayat 24 berpusat pada Tauhid Rububiyah, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb (Pencipta, Pemelihara, Pengatur) alam semesta. Kesadaran ini seharusnya melahirkan sikap tawakal yang sempurna. Jika masa lalu dan masa depan sudah diketahui oleh Allah, maka seorang mukmin harus memusatkan energinya untuk beribadah dan beramal saleh di masa kini. Keraguan tentang apa yang akan terjadi esok hari menjadi sirna ketika kita yakin bahwa segala sesuatu berada dalam pengawasan Ilahi yang Maha Tahu.
Ayat ini juga terkait erat dengan konsep Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Mengetahui bahwa Allah mengetahui semua yang telah berlalu (termasuk kematian generasi terdahulu) menguatkan keyakinan bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya. Kematian bukanlah akhir, melainkan transisi yang sudah diketahui dan diatur oleh Sang Pencipta.
Pelajaran untuk Umat Kontemporer
Di era informasi yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, Al-Hijr ayat 24 menjadi pengingat fundamental. Ketidaktahuan kita akan masa depan adalah ujian keimanan. Jika kita berpegang teguh pada ayat ini, maka segala bentuk kecemasan yang bersumber dari ambiguitas masa depan harus dikikis. Kita hanya perlu fokus pada apa yang bisa kita kendalikan hari ini: ketaatan dan kebaikan.
Sebagai penutup, pemahaman bahwa Allah SWT telah menciptakan pendahulu kita dan mengetahui siapa yang datang kemudian seharusnya memicu semangat untuk melakukan persiapan terbaik bagi kehidupan setelah duniawi. Setiap detiknya telah dihitung, setiap perbuatan telah dicatat, dan takdir akhir ditentukan oleh Zat yang Maha Tahu segalanya, jauh sebelum kita dilahirkan. Merenungkan ayat ini adalah bentuk ibadah yang menenangkan jiwa dan menguatkan keyakinan terhadap kekuasaan yang sempurna.
Dengan demikian, Al-Hijr ayat 24 bukan sekadar informasi historis, melainkan sebuah pilar teologis yang menegaskan keutuhan ilmu Allah atas seluruh rentang waktu dan eksistensi makhluk-Nya.