Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, adalah wahyu yang kaya akan kisah-kisah para nabi terdahulu, penegasan keesaan Allah SWT, serta peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran. Di tengah narasi tentang kisah Nabi Ibrahim, kaum Tsamud, dan pengakuan Iblis atas kesombongannya, terselip ayat-ayat yang berfungsi sebagai pengingat final mengenai konsekuensi dari pembangkangan. Salah satu ayat yang memiliki bobot peringatan sangat signifikan adalah Al-Hijr ayat 93.
Ayat ini datang sebagai klimaks dari serangkaian teguran yang ditujukan kepada kaum musyrikin Mekah yang terus-menerus mendustakan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini berfungsi sebagai sumpah Allah SWT untuk menuntut pertanggungjawaban mutlak atas segala perbuatan mereka, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Mari kita perhatikan lafaz ayat yang sangat tegas ini:
Kalimat pembukaannya, "Fasa ta'lamun" (Maka kelak kamu akan mengetahui), mengandung unsur ancaman yang pasti dan penekanan bahwa kebenaran akan terungkap secara gamblang di kemudian hari. Ini bukan sekadar prediksi, melainkan janji tegas dari Yang Maha Benar.
Ayat 93 Al-Hijr secara esensial adalah pembedaan yang tegas antara dua kelompok besar manusia di akhirat.
"Ash-Shiraat as-Sawiy" secara harfiah berarti jalan yang lurus, benar, atau tegak. Dalam konteks teologi Islam, ini merujuk pada jalan tauhid, ajaran murni yang dibawa oleh para rasul, termasuk Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Jalan ini adalah jalan yang sesuai dengan fitrah manusia dan tuntunan wahyu. Orang-orang yang menempuh jalan ini adalah mereka yang teguh dalam keimanan, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya, meskipun mungkin di dunia mereka diejek atau disakiti.
Frasa kedua, "wa man ihtada," sering diartikan sebagai penegasan dari kelompok pertama, atau merujuk pada mereka yang secara aktif mencari dan mengikuti petunjuk ketika petunjuk itu datang. Mereka adalah orang-orang yang ketika mendengar seruan kebenaran, hati mereka terbuka dan mereka segera berhijrah dari kegelapan menuju cahaya. Mereka tidak hanya tahu jalan yang benar, tetapi mereka juga mengambil langkah nyata di atasnya.
Mengapa Allah SWT perlu menegaskan hal ini di penghujung kisah-kisah umat terdahulu? Terdapat beberapa implikasi penting dari Al-Hijr ayat 93 ini:
Peringatan dalam ayat 93 diperkuat oleh ayat-ayat setelahnya, di mana Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk secara terbuka menyampaikan pesan tersebut tanpa gentar: "Maka tetaplah kamu pada jalan yang diperintahkan kepadamu dan (begitu pula) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas." (Al-Hijr: 94). Ini menegaskan bahwa kebenaran tidak perlu diperdebatkan lagi; yang perlu dilakukan hanyalah istiqamah (konsisten) di atas jalan tersebut. Pembedaan siapa yang berada di jalan yang benar akan menjadi jelas saat pertanggungjawaban tiba, dan itu bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan di dunia.
Al-Hijr ayat 93 adalah pilar keteguhan bagi umat Islam. Ia mengajarkan bahwa validasi sejati atas keimanan kita tidak datang dari pujian manusia atau kekuasaan duniawi, melainkan dari penerimaan Allah SWT di hari kiamat. Janji bahwa kebenaran akan terungkap ("Fasa ta'lamun") adalah sumber kekuatan terbesar bagi setiap pejuang kebenaran yang saat ini mungkin merasa terasingkan atau dicerca. Kita hanya perlu memastikan bahwa kita termasuk dalam golongan yang berpegang teguh pada tali Allah, yakni jalan yang lurus.