لَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
Law fataḥnā ‘alayhim bāban mina as-samā’i faẓallū fīhi ya‘rujūn"Sekiranya Kami bukakan bagi mereka salah satu pintu dari langit, lalu mereka terus-menerus naik ke sana,"
Al-Hijr ayat 15 adalah bagian dari serangkaian ayat yang menegaskan betapa keras kepala dan butanya kaum musyrik Quraisy (dan secara umum, siapa pun yang menolak kebenaran) terhadap bukti-bukti kebesaran Allah. Ayat ini datang setelah ayat 14, di mana kaum kafir tersebut meminta agar diturunkan tanda-tanda (mukjizat) yang jelas, seolah-olah mukjizat yang telah diturunkan selama ini (termasuk Al-Qur'an itu sendiri) tidaklah cukup.
Ayat 15 ini berfungsi sebagai respons retoris dan penegasan terhadap sifat angkuh mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'ala menyatakan, "Sekiranya Kami bukakan bagi mereka salah satu pintu dari langit, lalu mereka terus-menerus naik ke sana." Secara harfiah, ini adalah gambaran tentang pembukaan akses langsung ke alam gaib atau alam yang tidak terjangkau oleh indra manusia biasa. Jika mereka meminta bukti yang lebih nyata dan spektakuler daripada yang sudah ada, Allah seolah mengatakan, "Baiklah, jika itu yang kau minta, Kami bisa saja melakukan hal yang jauh melampaui imajinasi kalian."
Apa yang dimaksud dengan 'pintu dari langit' dan 'terus-menerus naik ke sana'? Para mufassir menafsirkan ini dalam beberapa lapisan makna.
Penting untuk membaca ayat 15 bersama kelanjutannya, yaitu ayat 16 dan 17, untuk memahami kesimpulan dramatis dari skenario hipotetis ini. Ayat selanjutnya berbunyi:
لَرَأَيُوا الْبَصَرَ إِنَّمَا نُزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِثْلُ مَا لِلَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِهِم مِّن رُّسُلٍ
"Niscaya mereka akan berkata, 'Sesungguhnya pandangan kami terhalang; bahkan kami adalah kaum yang telah disihir.'" (Q.S. Al-Hijr: 16)
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang (buruj) di langit dan Kami telah menghiasinya bagi orang-orang yang memandang." (Q.S. Al-Hijr: 17)
Ini menunjukkan puncak keangkuhan. Setelah melihat keajaiban luar biasa (naik ke langit), respons mereka bukan mengakui keesaan Allah, melainkan menyalahkan penglihatan mereka sendiri ("pandangan kami terhalang") atau menuduh Nabi Muhammad SAW menggunakan sihir ("kami adalah kaum yang telah disihir").
Ayat 17 kemudian mengalihkan fokus kembali, mengingatkan mereka bahwa keindahan dan tanda-tanda telah tersedia di bumi dan langit (seperti gugusan bintang yang dihias indah) bagi mereka yang mau merenung dan memandang dengan hati yang terbuka. Tanda-tanda alam raya itu sendiri sudah cukup membuktikan keagungan Sang Pencipta.
Al-Hijr ayat 15 mengajarkan bahwa iman sejati tidak didasarkan pada sensasi sesaat atau pemaksaan visual. Iman adalah taufik (pertolongan) dan kesiapan hati untuk menerima kebenaran. Kaum yang keras kepala dan penuh kesombongan tidak akan terpengaruh oleh mukjizat sebesar apa pun, karena masalahnya bukan pada kurangnya bukti, melainkan pada penolakan aktif terhadap kebenaran yang sudah disampaikan. Allah menunjukkan bahwa meskipun bukti diturunkan dari 'pintu langit' sekalipun, hati yang sudah berprasangka akan selalu mencari alasan untuk mengingkari. Ini adalah peringatan abadi bagi umat manusia untuk introspeksi diri terhadap ketulusan niat saat mencari petunjuk ilahi.