Dalam lembaran Al-Qur'an yang mulia, terdapat surat-surat pendek yang memiliki makna mendalam dan menyimpan rahasia keagungan ilahi. Salah satu surat tersebut adalah **Surat Al-Isyraq**, yang juga dikenal dengan nama **Asy-Syams** (Matahari) jika merujuk pada konteks waktu pagi yang disumpahinya. Secara spesifik, nama "Al-Isyraq" merujuk pada waktu dhuha atau permulaan hari ketika matahari telah terbit meninggi. Surat ini, yang merupakan surat ke-91 dalam urutan mushaf, terdiri dari hanya 15 ayat, namun padat akan sumpah dan pelajaran moral yang vital bagi kehidupan seorang Muslim.
Surat Al-Isyraq dibuka dengan serangkaian sumpah yang luar biasa, menunjukkan pentingnya objek-objek yang disumpah tersebut di mata Allah SWT. Pembukaan ayat ini langsung menarik perhatian pembaca untuk merenungkan kebesaran ciptaan-Nya:
Sumpah-sumpah ini—meliputi matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, dan yang paling penting, jiwa manusia—menunjukkan sebuah sistem kosmik yang teratur sempurna. Allah SWT menarik perhatian kita dari fenomena alam terbesar hingga ke dalam diri kita sendiri (jiwa), menyiratkan bahwa setiap elemen tersebut adalah bukti nyata akan kekuasaan Sang Pencipta. Urutan sumpah ini menekankan harmoni dan keseimbangan alam semesta yang menjadi cerminan kesempurnaan takdir ilahi.
Setelah membangun fondasi sumpah tentang kebesaran ciptaan, inti dari Surat Al-Isyraq tiba pada ayat 8 dan seterusnya. Ayat ini memberikan formula kunci menuju kebahagiaan dan kesuksesan abadi:
Inilah inti ajaran surat ini. Keberuntungan (falah) tidak ditentukan oleh kekayaan, status sosial, atau pencapaian duniawi semata, melainkan oleh **tazkiyatun nafs** (penyucian jiwa). Menyucikan jiwa berarti membersihkannya dari keserakahan, kesombongan, iri hati, dan keburukan lainnya, serta mengisinya dengan ketakwaan, keikhlasan, dan amal saleh. Sebaliknya, merugi (khaba) adalah nasib mereka yang membiarkan jiwanya tenggelam dalam dosa dan nafsu duniawi tanpa berusaha membersihkannya.
Untuk memberikan contoh nyata konsekuensi dari mengabaikan peringatan penyucian jiwa, Allah SWT mengisahkan kaum Nabi Shaleh, yaitu kaum Tsamud.
Kaum Tsamud, meskipun dikaruniai bumi yang subur dan mukjizat jelas (unta betina), mereka memilih jalan kedurhakaan dan kesombongan. Mereka membunuh unta yang diutus sebagai ujian sekaligus mukjizat, dan akibatnya, seluruh kaum tersebut dibinasakan secara total. Kisah ini berfungsi sebagai penekanan keras: jika manusia menyia-nyiakan anugerah dan menolak kebenaran karena keangkuhan jiwa, kehancuran adalah hasil akhirnya.
Surat Al-Isyraq (Dhuha) membawa pesan yang sangat relevan hingga hari ini. Surat ini mengajarkan bahwa waktu terbaik untuk introspeksi dan perbaikan diri adalah di pagi hari (Isyraq), saat energi baru hadir dan hari baru dimulai. Dengan merenungi sumpah-sumpah Allah atas alam semesta, kita diingatkan akan betapa kecilnya posisi kita, namun betapa besarnya tanggung jawab kita terhadap jiwa kita sendiri. Keberuntungan sejati adalah keberuntungan yang diraih melalui kesucian batin, bukan sekadar harta benda. Oleh karena itu, mari kita jadikan ajaran surat ini sebagai kompas harian kita untuk terus membersihkan dan menyempurnakan jiwa kita, sebagaimana Allah telah menyempurnakan penciptaan kita.