Menggali Makna dan Keindahan Surat Al-Isyraq

Ilustrasi Matahari Terbit Pagi

Dalam lembaran Al-Qur'an yang mulia, terdapat surat-surat pendek yang memiliki makna mendalam dan menyimpan rahasia keagungan ilahi. Salah satu surat tersebut adalah **Surat Al-Isyraq**, yang juga dikenal dengan nama **Asy-Syams** (Matahari) jika merujuk pada konteks waktu pagi yang disumpahinya. Secara spesifik, nama "Al-Isyraq" merujuk pada waktu dhuha atau permulaan hari ketika matahari telah terbit meninggi. Surat ini, yang merupakan surat ke-91 dalam urutan mushaf, terdiri dari hanya 15 ayat, namun padat akan sumpah dan pelajaran moral yang vital bagi kehidupan seorang Muslim.

Sumpah Pembuka yang Penuh Hikmah

Surat Al-Isyraq dibuka dengan serangkaian sumpah yang luar biasa, menunjukkan pentingnya objek-objek yang disumpah tersebut di mata Allah SWT. Pembukaan ayat ini langsung menarik perhatian pembaca untuk merenungkan kebesaran ciptaan-Nya:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا (2) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (4) وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (5) وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا (6) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7)
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta yang membangunnya, dan bumi serta yang menghamparkannya, dan jiwa serta yang menyempurnakannya.

Sumpah-sumpah ini—meliputi matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, dan yang paling penting, jiwa manusia—menunjukkan sebuah sistem kosmik yang teratur sempurna. Allah SWT menarik perhatian kita dari fenomena alam terbesar hingga ke dalam diri kita sendiri (jiwa), menyiratkan bahwa setiap elemen tersebut adalah bukti nyata akan kekuasaan Sang Pencipta. Urutan sumpah ini menekankan harmoni dan keseimbangan alam semesta yang menjadi cerminan kesempurnaan takdir ilahi.

Pesan Inti: Kesuksesan Ada pada Penyucian Jiwa

Setelah membangun fondasi sumpah tentang kebesaran ciptaan, inti dari Surat Al-Isyraq tiba pada ayat 8 dan seterusnya. Ayat ini memberikan formula kunci menuju kebahagiaan dan kesuksesan abadi:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا (10)
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Inilah inti ajaran surat ini. Keberuntungan (falah) tidak ditentukan oleh kekayaan, status sosial, atau pencapaian duniawi semata, melainkan oleh **tazkiyatun nafs** (penyucian jiwa). Menyucikan jiwa berarti membersihkannya dari keserakahan, kesombongan, iri hati, dan keburukan lainnya, serta mengisinya dengan ketakwaan, keikhlasan, dan amal saleh. Sebaliknya, merugi (khaba) adalah nasib mereka yang membiarkan jiwanya tenggelam dalam dosa dan nafsu duniawi tanpa berusaha membersihkannya.

Kisah Kaum Tsamud sebagai Peringatan

Untuk memberikan contoh nyata konsekuensi dari mengabaikan peringatan penyucian jiwa, Allah SWT mengisahkan kaum Nabi Shaleh, yaitu kaum Tsamud.

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا (11) إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا (12) فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا (13) فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا (14)
Kaum Tsamud telah mendustakan (Nabi mereka) karena melampaui batas, ketika yang paling celaka dari mereka berdiri (untuk membunuh unta betina itu). Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: "Janganlah kamu mengganggu unta betina Allah dan janganlah kamu menghalangi minumnya." Mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah).

Kaum Tsamud, meskipun dikaruniai bumi yang subur dan mukjizat jelas (unta betina), mereka memilih jalan kedurhakaan dan kesombongan. Mereka membunuh unta yang diutus sebagai ujian sekaligus mukjizat, dan akibatnya, seluruh kaum tersebut dibinasakan secara total. Kisah ini berfungsi sebagai penekanan keras: jika manusia menyia-nyiakan anugerah dan menolak kebenaran karena keangkuhan jiwa, kehancuran adalah hasil akhirnya.

Refleksi Penutup

Surat Al-Isyraq (Dhuha) membawa pesan yang sangat relevan hingga hari ini. Surat ini mengajarkan bahwa waktu terbaik untuk introspeksi dan perbaikan diri adalah di pagi hari (Isyraq), saat energi baru hadir dan hari baru dimulai. Dengan merenungi sumpah-sumpah Allah atas alam semesta, kita diingatkan akan betapa kecilnya posisi kita, namun betapa besarnya tanggung jawab kita terhadap jiwa kita sendiri. Keberuntungan sejati adalah keberuntungan yang diraih melalui kesucian batin, bukan sekadar harta benda. Oleh karena itu, mari kita jadikan ajaran surat ini sebagai kompas harian kita untuk terus membersihkan dan menyempurnakan jiwa kita, sebagaimana Allah telah menyempurnakan penciptaan kita.

🏠 Homepage