Memahami Hakikat Kesombongan: Pelajaran dari Al Hijr Ayat 31

Ilustrasi Penolakan Sujud Representasi visual ikonik tentang Iblis yang menolak bersujud, digambarkan dengan garis-garis tegas yang menjauh dari pusat. Penolakan
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ
Wa iż qulnā lil-malā'ikatisjudū li-ādama fa-sajadū illā iblīs, abā.

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan (tidak mau)." (QS. Al Hijr: 31)

Kisah Agung Pembuka Kesombongan

Surat Al Hijr, ayat ke-31, merupakan salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang mengungkap akar mula kejahatan terbesar: kesombongan dan penolakan terhadap perintah Ilahi. Ayat ini menceritakan momen krusial ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama yang diciptakan dari tanah. Perintah ini mengandung makna penghormatan, pengakuan atas keutamaan ilmu yang diberikan kepada Adam, serta penegasan posisi manusia sebagai khalifah di bumi.

Semua makhluk yang diperintahkan—para malaikat—segera patuh tanpa ragu. Ketaatan mereka adalah cerminan dari fitrah mereka yang murni dan ketiadaan ego di dalam diri mereka. Namun, di tengah ketaatan universal itu, muncullah satu suara penolakan: suara Iblis. Kata "إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ" (kecuali Iblis, ia enggan) memberikan penekanan dramatis pada perlawanan tersebut. Keengganan Iblis bukanlah karena ketidaksengajaan, melainkan sebuah pilihan sadar yang didasari oleh kesombongan yang telah merasukinya.

Akar Kejahatan: Perbandingan Diri

Mengapa Iblis menolak? Penjelasan lebih lanjut dalam ayat-ayat berikutnya (Al Hijr ayat 32-34) mengungkapkan alasan fundamental penolakan tersebut: "Allah berfirman: 'Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam), padahal Aku telah memerintahkannya?' Berkata Iblis: 'Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'"

Di sinilah letak inti masalahnya. Iblis melakukan perbandingan materialistik. Ia merasa superior karena asal penciptaannya (api) lebih mulia daripada asal penciptaan Adam (tanah). Ini adalah contoh klasik dari logika kesombongan. Kesombongan seringkali muncul ketika seseorang menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain, melupakan sumber segala kemuliaan dan keutamaan, yaitu Allah SWT. Iblis lupa bahwa standar kemuliaan di sisi Allah bukanlah materi penciptaan, melainkan ketaatan dan ketakwaan.

Pelajaran Penting untuk Umat Manusia

Al Hijr ayat 31 menjadi peringatan abadi bagi seluruh umat manusia. Meskipun kita diciptakan dari tanah, keutamaan kita terletak pada kemampuan untuk menerima ilmu, beriman, dan tunduk kepada perintah Allah. Ayat ini mengajarkan kita beberapa pelajaran vital:

Penolakan Iblis membawanya pada kutukan dan pengusiran dari rahmat Allah. Sebaliknya, ketaatan para malaikat meneguhkan posisi mereka dalam lingkaran cahaya Ilahi. Bagi manusia, Al Hijr ayat 31 adalah pengingat bahwa kemudahan untuk jatuh ke dalam sifat Iblis—yaitu merasa diri lebih baik—selalu mengintai. Oleh karena itu, setiap kali kita merasa bangga atas pencapaian, ilmu, atau kelebihan yang kita miliki, kita harus segera mengingat kisah Iblis dan kembali bersujud dalam kerendahan hati kepada Sang Pencipta.

🏠 Homepage