Memahami Kisah Iblis dalam Al Hijr Ayat 33

Surah Al-Hijr adalah salah satu surah Makkiyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran penting mengenai tauhid, kisah para nabi, dan peringatan akan keagungan Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang paling sering direnungkan adalah ayat ke-33, yang secara spesifik menyoroti penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.

Simbol Penolakan dan Kesombongan Visualisasi sederhana yang merepresentasikan penolakan (tanda silang besar) di atas figur manusia (Adam) dan cahaya (Tuhan), dengan warna gelap melambangkan kesombongan Iblis. Penolakan Kesombongan

Teks Al Hijr Ayat 33

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ
(Qāla yaa Iblīsu mā laka allā takūna ma‘as-sājidīn)

Terjemahan dan Tafsir Singkat

Artinya: "Allah berfirman, 'Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk sujud bersama mereka yang bersujud itu?'" (QS. Al-Hijr: 33).

Ayat ini merupakan inti dialog penting antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya yang paling angkuh, Iblis. Ketika Allah SWT memerintahkan seluruh malaikat dan Iblis untuk bersujud sebagai penghormatan kepada Adam—sebagai simbol pengakuan atas kemuliaan ciptaan baru Allah—semua mematuhinya kecuali satu. Allah kemudian memanggil Iblis secara langsung, menggunakan kata "Yā Iblīs" (Hai Iblis), sebuah panggilan yang mengandung teguran keras, bukan penghormatan. Pertanyaan "Mā laka allā takūna ma‘as-sājidīn?" adalah pertanyaan retoris yang menuntut justifikasi atas pembangkangan mutlak tersebut.

Akar Permasalahan: Kesombongan (Kibr)

Respons Iblis terhadap panggilan ini tercantum pada ayat selanjutnya, di mana ia menjawab dengan sombong bahwa ia lebih baik daripada Adam karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Inilah inti dari pelajaran yang dapat kita ambil dari Al Hijr ayat 33: akar dari setiap dosa besar sering kali berawal dari kesombongan atau keangkuhan (kibr).

Kesombongan adalah penyakit hati yang membuat seseorang merasa lebih tinggi, lebih berhak, atau lebih mulia daripada orang lain, bahkan melebihi kehendak Tuhan. Dalam konteks ayat ini, Iblis tidak melihat substansi perintah Ilahi (yaitu ketaatan total kepada Allah), melainkan melihat perbandingan material penciptaan. Ia gagal memahami bahwa kemuliaan sejati datang dari ketaatan pada sumber perintah (Allah), bukan pada bahan dasar ciptaan itu sendiri.

Relevansi di Era Modern

Kisah ini tetap relevan hingga kini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menghadapi "perintah sujud" versi modern. Perintah ini bisa berupa menerima nasihat, mengakui kesalahan, menghormati otoritas yang benar, atau mengikuti ajaran agama. Ketika ego kita terangkat, muncul bisikan Iblis yang berkata, "Mengapa saya harus tunduk pada dia? Bukankah saya lebih pintar? Bukankah latar belakang saya lebih baik?"

Al Hijr ayat 33 mengajarkan pentingnya kerendahan hati (tawadhu'). Kerendahan hati memungkinkan kita menerima kebenaran dari mana pun datangnya, termasuk dari orang yang kita anggap 'di bawah' kita. Sebaliknya, kesombongan menutup pintu rahmat dan kebijaksanaan. Ketika kita menolak untuk bersujud bersama orang-orang yang taat (dalam kerangka kebaikan), kita secara efektif memilih jalan Iblis, terlepas dari keyakinan lisan kita.

Penolakan Iblis adalah penolakan terhadap kebersamaan dalam ketaatan. Allah tidak bertanya mengapa dia tidak sujud sendirian; Allah bertanya mengapa dia tidak bersama mereka yang bersujud. Ini menekankan nilai persatuan dalam ibadah dan kepatuhan. Jika kita ingin terhindar dari kesesatan, kita harus senantiasa memeriksa hati kita dari benih kesombongan, memastikan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, kita bersedia tunduk pada kebenaran dan perintah yang lebih tinggi.

Pelajaran Spiritual dari Pemanggilan Langsung

Fakta bahwa Allah SWT memanggil Iblis secara langsung ('Yā Iblīs') menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran ini. Pelanggaran Iblis bukanlah kesalahan teknis kecil; itu adalah pembangkangan fundamental terhadap prinsip dasar pengabdian. Panggilan langsung ini memberikan penekanan dramatis pada konsekuensi dari membangkang karena keangkuhan. Hal ini menjadi peringatan bagi umat manusia bahwa kesalahan yang didasari oleh ego dan kesombongan memiliki bobot yang sangat besar di sisi Allah. Oleh karena itu, menjaga hati dari kesombongan adalah benteng pertahanan pertama melawan godaan setan, yang dimulai tepat setelah perintah sujud dalam Surah Al-Hijr.

🏠 Homepage