Konteks Ayat Al Hijr Ayat 39
Surah Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an. Surat ini kaya akan kisah-kisah peringatan, penegasan keesaan Allah, serta janji pahala bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Di tengah pembahasan mengenai penolakan kaum Samud dan kisah Nabi Ibrahim, terselip sebuah ayat yang menjadi penegasan mutlak mengenai sandaran seorang hamba kepada Penciptanya dalam menghadapi gangguan musuh, yaitu Al Hijr Ayat 39.
Ayat ini merupakan inti dari permohonan perlindungan yang diucapkan oleh Nabi Adam, atau secara umum mewakili permohonan seluruh umat manusia yang menyadari kerapuhannya di hadapan godaan setan. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini mengajarkan kita bahwa kekuatan terbesar datang bukan dari usaha fisik semata, melainkan dari pertolongan Ilahi ketika kita benar-benar berserah diri.
Teks dan Terjemahan Al Hijr Ayat 39
Ayat ini secara eksplisit mengungkapkan permohonan perlindungan dari musuh utama manusia, yaitu Iblis dan keturunannya. Berikut adalah teks Arab dan terjemahannya:
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Artinya: "Dia (Iblis) berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku penangguhan (penundaan) sampai hari mereka dibangkitkan.'"
Permohonan Penangguhan Bukan Kebebasan
Meskipun ayat ini adalah ucapan Iblis kepada Allah SWT setelah ia menolak sujud kepada Nabi Adam, ayat ini memiliki implikasi mendalam bagi pemahaman kita tentang konsep perlindungan dan batas kekuasaan. Iblis, dengan segala kesombongannya, mengakui satu hal fundamental: bahwa segala urusan berada dalam kendali mutlak Allah. Ia tidak meminta untuk diampuni, tetapi meminta untuk diberi penangguhan waktu.
Permintaan ini menunjukkan bahwa Iblis sadar bahwa kekuatannya untuk menyesatkan hanya berlaku sampai batas waktu yang telah ditetapkan Allah, yaitu hari kiamat (hari dibangkitkannya manusia). Ini adalah pelajaran penting bagi kita: gangguan dan godaan yang kita hadapi dalam hidup ini, walau terasa kuat, memiliki batas waktu yang telah ditentukan oleh Rabbul 'alamin.
Mengambil Pelajaran untuk Kehidupan Kita
Bagi seorang mukmin, ayat ini menjadi pengingat untuk selalu berdoa memohon perlindungan, serupa dengan semangat doa yang diucapkan oleh Iblis—namun dengan tujuan yang berbeda. Jika Iblis meminta penangguhan untuk menyesatkan, kita sebagai hamba Allah memohon perlindungan agar terhindar dari kesesatan tersebut.
- Pengakuan Kelemahan: Ayat ini mengajarkan bahwa mengakui kelemahan diri di hadapan Allah adalah kunci utama untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Tanpa pengakuan ini, upaya kita untuk melawan hawa nafsu atau godaan luar akan terasa sia-sia.
- Fokus pada Akhirat: Penangguhan yang diminta Iblis berujung pada Hari Kebangkitan. Ini menggarisbawahi bahwa segala perjuangan duniawi, termasuk perjuangan melawan godaan, memiliki tujuan akhir yaitu pertanggungjawaban di hadapan Allah.
- Doa Kontinu: Kita didorong untuk menjadikan perlindungan sebagai bagian rutin dari zikir dan doa kita, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW dalam berbagai hadis tentang berlindung dari waswas setan, baik di pagi dan petang hari, maupun sebelum memulai aktivitas penting.
Ketika kita merasa tertekan oleh masalah duniawi, ketika godaan terasa begitu dekat, atau ketika hati kita digelisahkan oleh bisikan negatif, mengingat Al Hijr ayat 39 mengingatkan kita bahwa ada Zat Yang Maha Kuasa yang bisa memberikan "penangguhan" atau perlindungan atas izin-Nya. Memohon perlindungan kepada Allah adalah bentuk tertinggi dari tawakal, mengakui bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menandingi Penjaga langit dan bumi. Dengan demikian, ayat ini menjadi jangkar spiritual bagi setiap Muslim yang berjuang di dunia yang penuh tantangan ini.