*Ilustrasi Keramahtamahan
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ الْـمُسَلِّمِينَ
"Apakah telah datang kepadamu berita tentang tamu-tamu Ibrahim (yang mulia)?" (QS. Al-Hijr: 52)
Al-Hijr ayat 52 merupakan bagian dari rangkaian kisah agung yang Allah SWT sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penguatan hati dan pelajaran bagi umatnya. Ayat ini secara khusus menanyakan kepada Nabi, "Apakah telah datang kepadamu berita tentang tamu-tamu Ibrahim yang mulia?" Pertanyaan retoris ini mengarahkan pembaca dan pendengar untuk merenungkan salah satu episode paling penting dalam kehidupan Nabi Ibrahim AS, yaitu kisah kedatangan para malaikat yang menyamar sebagai tamu.
Kisah ini berawal ketika Nabi Ibrahim sedang berada di tengah kaumnya yang masih menyembah berhala. Allah mengutus sekelompok malaikat—yang dipimpin oleh Jibril AS—dalam wujud manusia tampan untuk mengunjungi Ibrahim. Mereka datang saat Ibrahim sedang beristirahat. Sikap Nabi Ibrahim AS patut dicontoh dalam menyambut tamu. Meskipun ia hidup di tengah suasana yang penuh permusuhan dan kekhawatiran (mengingat kaumnya belum menerima dakwahnya), kesempurnaan iman membuatnya tetap memprioritaskan keramahan.
Ketika para tamu datang, Ibrahim segera bergegas menyambut mereka dengan segala penghormatan yang ia miliki. Ia masuk ke rumahnya, lalu kembali membawa daging panggang terbaik yang ia siapkan secara khusus. Tindakan ini menunjukkan prioritas utama Ibrahim: memuliakan tamu. Ia tidak langsung mengeluh tentang kekhawatiran atau keadaan lingkungannya; ia fokus pada kewajiban menyambut dengan hormat.
Setelah mereka duduk dan Ibrahim menawarkan hidangan, para tamu (malaikat) menolak untuk makan, seraya berkata, "Janganlah engkau takut (kepada kami), sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, dan mereka memberikan kabar gembira kepadamu (bahwa) akan lahir seorang anak yang saleh (Ishak) dari istrimu (Sarah)." (QS. Al-Hijr: 53).
Penolakan mereka untuk makan bukan karena penghinaan terhadap tuan rumah, melainkan karena mereka adalah malaikat yang tidak membutuhkan makanan fisik. Namun, justru karena penolakan itulah, Ibrahim mulai merasakan kegelisahan yang mendalam, seperti yang dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya. Keragu-raguan dan rasa takutnya beralih dari ancaman kaumnya menjadi rasa khawatir terhadap tamu yang ia hormati namun tidak mau menikmati hidangannya.
Allah SWT menyebut tamu-tamu Ibrahim dengan sebutan "al-musallamīn" (yang berserah diri/yang tunduk), mengisyaratkan kemuliaan kedudukan mereka sebagai utusan ilahi. Kisah ini memberikan penekanan kuat dalam ajaran Islam mengenai pentingnya ukhuwah (persaudaraan) dan adab menyambut orang yang bertamu. Keramahan Nabi Ibrahim AS menjadi teladan universal, bahkan ketika ia dihadapkan pada situasi yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Pesan dalam Al-Hijr ayat 52 ini berfungsi mengingatkan Nabi Muhammad SAW dan seluruh umatnya bahwa segala kesulitan dan penolakan yang dihadapi dalam berdakwah akan diimbangi dengan pertolongan dan kabar gembira dari Allah, sebagaimana yang dialami oleh Ibrahim. Bahkan, tamu yang datang membawa berkah besar berupa keturunan yang dijanjikan, yaitu Nabi Ishak AS.
Oleh karena itu, ayat ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan sebuah pelajaran abadi tentang kesabaran, kedermawanan, dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah, meskipun harus berinteraksi dengan pihak-pihak yang statusnya misterius atau tidak kita pahami sepenuhnya. Keramahan yang tulus adalah salah satu ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT.