Surat Al-Hijr (ayat ke-15 dalam Al-Qur'an) adalah surat Makkiyah yang kaya akan penegasan tauhid, kisah para nabi, dan peringatan tentang hari pembalasan. Salah satu ayat sentral yang menyoroti kekuasaan mutlak Allah adalah ayat ke-24.
Ayat ini dimulai dengan penegasan yang kuat: "Wa laqad khalaqna as-samawati wal-arda wama bainahuma fi haqq". Frasa "Kami telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dalam kebenaran (haqq)" adalah fondasi teologis yang penting. Penciptaan alam semesta bukanlah permainan atau kebetulan belaka. Semua objek—mulai dari bintang yang berjauhan hingga atom terkecil—terikat pada hukum dan tujuan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Kebenaran di sini mencakup beberapa makna: bahwa penciptaan itu nyata (bukan ilusi), bahwa penciptaan memiliki tujuan (ibadah dan menjadi tanda kebesaran Allah), dan bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan ukuran dan ketetapan-Nya. Ini memberikan ketenangan spiritual bagi seorang mukmin; dunia yang kita tempati adalah tatanan yang terstruktur sempurna, bukan kekacauan.
Setelah menetapkan kebenaran dalam penciptaan, ayat ini segera beralih kepada kepastian yang fundamental bagi seorang Muslim: "Wa inna as-sa'ata la’atiyah" (Dan sungguh, saat (Kiamat) itu pasti datang).
Keseimbangan antara kebenaran penciptaan dan datangnya hari pembalasan adalah inti dari ajaran kenabian. Jika Allah mampu menciptakan miliaran galaksi dengan sempurna, maka menghidupkan kembali manusia untuk perhitungan amal (Hisab) adalah hal yang jauh lebih mudah bagi-Nya. Penegasan "inna" (sungguh) dan "la’atiyah" (pasti datang) berfungsi sebagai peringatan keras bagi mereka yang hidup dalam kelalaian, tetapi sebagai harapan bagi mereka yang tertindas.
Ayat ini mengingatkan bahwa meskipun kita hidup dalam tatanan yang benar (haqq) saat ini, tatanan itu akan berakhir. Dunia ini hanyalah panggung sementara menuju realitas yang abadi. Kesadaran ini seharusnya mendorong seorang mukmin untuk berbuat baik dan menjauhi kezaliman, karena pertanggungjawaban mutlak akan segera tiba.
Bagian penutup ayat ini memberikan perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW, namun juga menjadi pedoman universal bagi umatnya: "Fasfah as-safhal jamila" (Maka maafkanlah (mereka) dengan pengampunan yang baik).
Perintah ini muncul tepat setelah Allah mengingatkan tentang keagungan penciptaan dan kedatangan Kiamat. Mengapa pengampunan diletakkan di antara dua kebenaran besar ini? Karena ketika seseorang menyadari betapa besarnya kekuasaan Allah dan betapa dekatnya hari perhitungan, ego dan dendam duniawi menjadi terasa sangat kecil.
Pengampunan yang baik (safh al-jamîl) bukanlah sekadar melupakan masalah, tetapi memaafkan tanpa celaan, tanpa mengharapkan balasan, dan tanpa menunjukkan tanda-tanda kebencian setelah memaafkan. Ini membutuhkan kesabaran dan penyerahan diri yang tinggi kepada Allah. Ketika kita memaafkan, kita meneladani kesempurnaan keadilan dan rahmat Allah yang kita akui dalam penciptaan alam semesta.
Bagi pembaca masa kini, ayat ini memberikan tiga pelajaran utama:
Surat Al-Hijr ayat 24 adalah sebuah kalimat penutup yang menenangkan sekaligus menantang. Ia menenangkan hati dengan kepastian bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Ilahi, namun menantang jiwa untuk menunjukkan kualitas moral tertinggi—pengampunan—dalam menghadapi ketidaksempurnaan sesama manusia.