Surat Al-Hijr (Batu Karang) adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan penegasan tentang kebenaran wahyu Allah dan kekuasaan-Nya atas segala ciptaan. Ayat kedelapan dari surat ini, Al Hijr ayat 8, secara spesifik membahas prinsip dasar dalam penurunan Al-Qur'an. Ayat ini menegaskan bahwa penurunan wahyu ilahi, yaitu Al-Qur'an, tidak terjadi secara sembarangan atau acak, melainkan melalui sebuah proses yang terencana, terukur, dan berdasarkan ilmu Allah yang maha luas.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "biqadar ma'lum" (dengan ukuran yang tertentu/diketahui). Ini mengisyaratkan beberapa dimensi penting. Pertama, mengenai waktu penurunan. Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara bertahap (tadrij) selama kurang lebih 23 tahun. Penurunan bertahap ini memiliki hikmah besar, memudahkan Rasulullah SAW untuk menghafal, memahami, dan mengajarkannya kepada umat, serta menyesuaikan hukum dan pelajaran dengan konteks sosial dan kebutuhan umat Islam pada saat itu.
Konsep "ukuran tertentu" ini mencerminkan kebijaksanaan ilahi yang sempurna. Jika Al-Qur'an diturunkan sekaligus, hal itu mungkin akan membebani jiwa Nabi Muhammad SAW dan kaum mukminin awal. Allah SWT berfirman dalam ayat lain (QS. Al-Furqan: 32), "Demikianlah, agar Kami memperkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur)."
Selain waktu, ukuran ini juga berlaku pada isi dan substansi wahyu. Setiap ayat, setiap hukum, dan setiap kisah yang diturunkan memiliki tujuan spesifik yang telah Allah tetapkan. Tidak ada satu pun kelebihan atau kekurangan. Ini menepis keraguan orang-orang kafir yang menanyakan mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan dalam satu kali penurunan penuh, seolah-olah mereka yang berhak menentukan cara penurunan wahyu.
Pemahaman terhadap Al Hijr ayat 8 juga memperkuat keyakinan kita bahwa seluruh alam semesta ini—bukan hanya Al-Qur'an—berjalan berdasarkan takdir dan ukuran yang telah ditentukan Allah. Ayat-ayat sebelumnya (ayat 19-21) berbicara tentang bagaimana Allah menciptakan bumi dengan segala sumber daya dalam ukuran yang teratur, dan ayat 8 ini menegaskan prinsip yang sama berlaku untuk wahyu-Nya. Semua ada takarannya: hujan turun sesuai kebutuhan, rezeki dibagi sesuai ketetapan, dan wahyu datang sesuai kebutuhan umat.
Ayat ini sekaligus menjadi penegasan otoritas tunggal Allah dalam mengatur wahyu-Nya. Manusia tidak berhak menuntut atau meragukan metode Allah dalam menyampaikan risalah-Nya. "Kami tidak menurunkannya..." (Wama nunazziluhu) adalah penegasan bahwa hanya Allah-lah yang berhak menentukan kapan, bagaimana, dan seberapa banyak wahyu disampaikan. Ini adalah bentuk perlindungan terhadap kemurnian ajaran Islam dari campur tangan atau desain manusia.
Bagi seorang muslim, pengamalan makna ayat ini menuntut kesabaran dan ketenangan dalam menerima ajaran agama. Ketika menghadapi kesulitan dalam memahami suatu ketentuan atau ketika merasa ajaran belum lengkap sesuai keinginan sesaat, kita diingatkan bahwa Allah telah menetapkan "ukuran yang diketahui" oleh-Nya. Hal ini mendorong sikap taslim (penyerahan diri) dan keyakinan bahwa apa yang datang dari Allah pasti mengandung kebaikan dan hikmah tertinggi, meskipun akal manusia belum sepenuhnya mampu menangkapnya saat itu juga.
Secara teologis, Al Hijr ayat 8 mengokohkan sifat tauqifi (terikat pada ketetapan) dari syariat Islam. Kita tidak boleh menambah atau mengurangi tata cara ibadah atau hukum berdasarkan hawa nafsu pribadi. Semua harus kembali pada apa yang telah diturunkan secara bertahap dan terukur oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya.
Secara praktis, ayat ini mendorong umat untuk mendalami Al-Qur'an secara bertahap pula. Mempelajari Al-Qur'an adalah sebuah perjalanan panjang yang memerlukan kesungguhan, bukan upaya instan. Pemahaman yang mendalam dan implementasi yang benar datang melalui proses penyerapan yang terukur, sesuai dengan kadar ilmu dan kematangan spiritual seseorang. Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu (penurunan Al-Qur'an) tetapi juga memberikan panduan metodologis untuk menerima dan mengamalkan kebenaran Ilahi hingga akhir zaman.