Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam. Di dalamnya, terdapat kisah-kisah umat terdahulu yang menjadi pelajaran berharga agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka. Salah satu ayat yang sarat makna peringatan adalah Surah Al Hijr ayat 80, yang secara spesifik merujuk pada kaum Nabi Shalih, yaitu kaum Tsamud.
Ayat ini menegaskan tentang akibat yang menimpa kaum yang mendustakan wahyu Allah, meskipun mereka diberi kelapangan rezeki dan kenikmatan duniawi. Mempelajari konteks ayat ini sangat penting untuk memahami urgensi ketakwaan dan konsekuensi dari kekafiran.
Representasi visual kemakmuran dan peringatan bagi kaum Tsamud.
Teks Al Hijr Ayat 80
Ayat ini merupakan bagian dari rentetan peristiwa yang Allah sebutkan mengenai kaum Tsamud, di mana mereka diingkari oleh Nabi Shalih AS untuk menyembah Allah saja dan meninggalkan kesyirikan, namun mereka malah menantang dengan meminta mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu.
وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ
"Dan sungguh, penduduk Al-Hijr (kaum Tsamud) telah mendustakan para rasul." (QS. Al Hijr: 80)
Konteks Sejarah Kaum Tsamud (Penduduk Al-Hijr)
Al-Hijr adalah nama tempat tinggal kaum Tsamud setelah mereka meninggalkan kota mereka sebelumnya. Nama ini merujuk pada daerah berbatu yang mereka jadikan pemukiman. Kaum Tsamud dikenal sebagai masyarakat yang makmur, kuat, dan memiliki kemampuan luar biasa dalam memahat gunung dan batu untuk membangun rumah-rumah megah. Kemakmuran ini seringkali membuat mereka sombong dan melampaui batas.
Allah mengutus Nabi Shalih AS kepada mereka untuk menyeru mereka mentauhidkan Allah. Namun, alih-alih beriman, mereka malah menolak keras ajaran tersebut. Penolakan ini bukan hanya sekadar ketidakpercayaan, tetapi juga penolakan aktif dan pendustaan terhadap seluruh utusan Allah yang datang kepada mereka, sebagaimana ditegaskan dalam ayat 80 ini.
Makna Pendustaan Para Rasul
Frasa "mendustakan para rasul" (كَذَّبَ ... الْمُرْسَلِينَ) menunjukkan bahwa penolakan kaum Tsamud terhadap Nabi Shalih bukanlah insiden tunggal. Mereka secara kolektif menolak pesan kenabian secara umum. Dalam pandangan mereka, ajaran baru yang dibawa oleh Shalih bertentangan dengan tradisi dan kemapanan mereka. Pendustaan ini mencakup:
- Pengingkaran terhadap Wahyu: Mereka menolak kebenaran yang dibawa Nabi Shalih.
- Penolakan terhadap Seruan Tauhid: Mereka keras kepala mempertahankan penyembahan berhala atau keyakinan nenek moyang mereka.
- Perlawanan Terhadap Otoritas Kenabian: Dengan mendustakan Shalih, mereka juga menolak otoritas kenabian yang diutus Allah.
Pelajaran dari Konsekuensi
Al Hijr ayat 80 ini menjadi bagian dari rangkaian ayat yang menceritakan bagaimana Allah menghukum kaum Tsamud setelah mereka melampaui batas dan bahkan mencoba membunuh unta mukjizat yang diutus untuk mereka. Surah Al Hijr secara keseluruhan menekankan bahwa kemakmuran duniawi tidak menjamin keselamatan akhirat jika diiringi kesombongan dan kekafiran.
Kaum Tsamud memiliki keahlian membuat rumah yang kokoh di gunung (seperti yang digambarkan dalam ayat-ayat sebelumnya), tetapi kemahiran tersebut tidak mampu melindungi mereka dari azab Allah ketika mereka memilih mendustakan para rasul. Ini adalah peringatan keras: kekuatan fisik, kekayaan materi, atau kecerdasan teknologi tidak ada artinya jika manusia berpaling dari mengakui keesaan dan perintah Penciptanya.
Oleh karena itu, ayat 80 ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa integritas keimanan jauh lebih berharga daripada kemegahan duniawi. Sikap mendustakan kebenaran, betapapun kuatnya kedudukan sosial seseorang, pasti akan berujung pada kehancuran, sebagaimana yang menimpa penduduk Al-Hijr.
Kisah ini mengajarkan umat Islam untuk selalu bersikap rendah hati di hadapan nikmat Allah dan segera merespons panggilan para rasul dan ajaran Islam, tanpa menunda-nunda atau congkak, agar kita tidak termasuk golongan yang pada akhirnya akan didustakan oleh sejarah dan diadzab oleh Rabbul 'Alamin.