Memahami Kekuasaan dalam Al-Hijr Ayat 84

Simbol Kebesaran Ilahi

Ilustrasi representasi kekuasaan dan ketetapan.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 84

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran (tujuan yang pasti). Dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan datang, maka berikanlah pengampunan dengan cara yang sebaik-baiknya (dengan maaf yang tulus)."

Konteks dan Makna Mendalam

Surat Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah di kawasan Hijaz (tempat kaum Tsamud dimusnahkan), membahas berbagai tema penting dalam akidah Islam. Ayat ke-84 menempati posisi krusial karena mengakhiri pembahasan tentang kehancuran umat terdahulu dan memberikan landasan filosofis mengapa kehidupan ini ada, serta bagaimana seorang Nabi—dalam konteks ini Nabi Muhammad SAW—seharusnya bersikap menghadapi penolakan kaumnya.

Ayat ini membagi penekanan menjadi dua bagian utama: klaim tentang penciptaan alam semesta dan perintah untuk bersikap pemaaf.

1. Penciptaan dengan Kebenaran (Al-Haqq)

Frasa "Wama khalaqnas-samawati wal-ardha wama bainahuma illa bil-haqq" (Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran) adalah penegasan fundamental tentang tujuan eksistensi. Penciptaan alam semesta, dengan segala keteraturan dan hukum fisiknya, bukanlah permainan atau tanpa tujuan. "Al-Haqq" di sini berarti kebenaran, kepastian, dan tujuan yang luhur. Tujuan utamanya adalah untuk menjadi bukti (ayat) atas keesaan Allah SWT, dan sebagai tempat bagi manusia untuk menjalani ujian ketaatan sebelum Hari Pembalasan.

Keteraturan kosmik ini menjadi argumen logis bahwa Dzat yang mampu menciptakan sistem sekompleks ini pasti memiliki kekuasaan mutlak. Jika penciptaan ini memiliki tujuan yang pasti (kebenaran), maka konsekuensi dari tujuan tersebut—yaitu pertanggungjawaban—juga pasti akan terjadi.

2. Kepastian Hari Kiamat

Bagian kedua, "Wa innas-sa'ata la-aatiyah" (Dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan datang), memperkuat landasan filosofis ayat sebelumnya. Karena alam semesta diciptakan dengan tujuan, maka harus ada titik akhir di mana tujuan itu terpenuhi, yaitu Hari Kebangkitan (Kiamat). Kepastian ini adalah jaminan ilahi bagi orang-orang yang beriman dan ancaman bagi mereka yang ingkar. Ini meyakinkan Rasulullah SAW bahwa kesabaran dan perjuangan dakwahnya tidak akan sia-sia.

3. Perintah Pengampunan yang Agung

Setelah menetapkan kebenaran penciptaan dan kepastian hari penghakiman, Allah memberikan instruksi praktis kepada Nabi Muhammad SAW: "Fasfahis-safhal-jamila" (maka berikanlah pengampunan dengan cara yang sebaik-baiknya).

Perintah ini dikenal sebagai 'Ashr' (memaafkan). Namun, Allah menambahkan kualifikasi 'al-jamila' (yang indah/terbaik). Para mufassir menjelaskan bahwa "pengampunan yang indah" berarti memaafkan tanpa celaan, tanpa rasa dendam yang tersembunyi, dan tanpa mengharapkan imbalan. Ini adalah tingkatan tertinggi dalam memaafkan, mencerminkan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW yang harus dicontoh oleh umatnya. Sikap ini sangat penting ketika menghadapi penolakan keras dan gangguan dari kaum musyrikin. Karena Allah telah menetapkan takdir dan akan menghakimi mereka di Hari Kiamat, maka tugas Nabi adalah menyampaikan risalah dengan kesabaran tertinggi, melepaskan urusan pembalasan kepada Sang Pencipta.

Relevansi Kontemporer

Al-Hijr ayat 84 berfungsi sebagai penyeimbang antara keyakinan metafisik dan perilaku sosial. Dalam kehidupan modern yang penuh konflik dan perbedaan pendapat, ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita alami—baik tatanan alam maupun interaksi sosial—terikat oleh prinsip kebenaran ilahi. Ketika kita dihadapkan pada ketidakadilan atau permusuhan, pesan untuk bersabar dan memaafkan dengan cara yang terbaik adalah pengingat bahwa pengadilan akhir ada di tangan Yang Maha Kuasa. Fokus kita seharusnya bukan pada pembalasan duniawi, melainkan pada menjaga integritas spiritual kita sendiri sambil menanti kepastian Hari Kiamat. Ini mendorong ketenangan batin di tengah kegaduhan dunia.

🏠 Homepage