Keistimewaan dan Jaminan Keaslian Al-Qur'an
Ayat yang mulia ini, Al-Hijr ayat 9, merupakan salah satu penegasan paling kuat dalam Al-Qur'an mengenai status kitab suci ini. Lafaz latinnya, "Innaa nahnu nazzalnad-zikra wa innaa lahuu lahaaafidhoon", membawa makna yang sangat mendalam: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami-lah penjaganya."
Penegasan ini dimulai dengan kata "Innaa" (Sesungguhnya Kami), yang menekankan otoritas penuh dari Allah SWT sebagai Dzat yang menurunkan wahyu. Kata "An-Nazl" (menurunkan) tidak hanya berarti menyampaikan secara fisik, tetapi juga mentransfer hikmah, hukum, dan petunjuk Ilahi dari langit ke bumi melalui perantara Nabi Muhammad SAW. Fokus utama di sini adalah pada 'Adz-Dzikr' (Al-Qur'an), yang berarti peringatan, pengajaran, atau kitab yang patut dikenang.
Namun, bagian paling krusial dari ayat ini terletak pada klausa kedua: "wa innaa lahuu lahaaafidhoon". Kata "Hafidhoon" berasal dari akar kata hifdz yang berarti menjaga, memelihara, dan melindungi. Allah SWT secara eksplisit menjamin bahwa Al-Qur'an akan dijaga dari segala bentuk perubahan, penyimpangan, penambahan, atau pengurangan seiring berjalannya waktu. Jaminan ini unik dan tidak dimiliki oleh kitab-kitab suci sebelumnya, yang meskipun berasal dari Allah, telah mengalami perlakuan dari manusia yang menyebabkan perubahan signifikan pada teks aslinya.
Implikasi dari Jaminan Penjagaan
Jaminan penjagaan ini memiliki beberapa implikasi mendasar bagi umat Islam. Pertama, ini menegaskan bahwa Al-Qur'an yang kita baca hari ini, baik dari segi teks (lafdz) maupun makna (ma'na), adalah sama persis dengan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini memberikan kepastian mutlak bagi umat Islam dalam beribadah, menetapkan hukum, dan memahami akidah. Tidak ada keraguan terhadap otentisitasnya.
Kedua, perlindungan ini bersifat total. Allah menjaga Al-Qur'an dari upaya-upaya musuh Islam yang ingin merusaknya, mengubahnya, atau menghilangkannya dari peredaran. Sejarah mencatat betapa banyak upaya penghancuran yang dilakukan, namun Al-Qur'an tetap tegak dan tersebar luas di seluruh dunia. Keberlangsungan ini adalah bukti nyata dari janji yang termaktub dalam ayat 9 Surah Al-Hijr ini.
Bagi seorang Muslim, memahami Al-Hijr ayat 9 latin latin harus mendorong rasa syukur yang mendalam. Kita memegang petunjuk hidup yang sempurna, dijamin keasliannya oleh Sang Pencipta semesta. Oleh karena itu, kewajiban kita bukan hanya mengimani jaminan ini, tetapi juga berinteraksi secara aktif dengan Al-Qur'an—membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kitab yang dijaga ini adalah pedoman utama menuju ketenangan dunia dan keselamatan akhirat. Mengingat penekanan pada "dzikr" (peringatan), ayat ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan pesan-pesan suci di dalamnya.