Pengantar Ayat yang Mengguncang
Dalam Al-Qur'an, sumpah Allah (ﷻ) selalu memiliki bobot dan signifikansi yang luar biasa. Sumpah tersebut bukan sekadar ungkapan retoris, melainkan penegasan mutlak atas sebuah kebenaran atau janji yang pasti akan terlaksana. Salah satu sumpah yang tegas dan seringkali menjadi bahan perenungan mendalam adalah yang terdapat dalam Surah Al-Hijr, ayat ke-92.
Surah Al-Hijr, yang dikenal juga sebagai Surah Al-Hijr (Batu Karang), memiliki fokus pada kebesaran ciptaan Allah, kisah Nabi Shalih dan kaumnya Tsamud, serta teguran kepada mereka yang mendustakan kenabian. Di tengah pembahasan tersebut, ayat 92 datang sebagai penekanan ilahi yang tidak terbantahkan mengenai tanggung jawab setiap umat terhadap rasul yang diutus kepada mereka.
"Maka demi Tuhanmu, sungguh akan Kami tuntaskan (pertanyaan) atas mereka semua," (QS. Al-Hijr [15]: 92)
Makna Mendalam dari Sumpah "Demi Tuhanmu"
Ayat ini diawali dengan sumpah yang sangat kuat: "Fa laqad sa'alna hum jami'an"—sebagaimana terjemahan yang bervariasi, namun inti dasarnya adalah penegasan sumpah Allah atas Diri-Nya sendiri (meskipun lafazhnya sering diterjemahkan sebagai "Maka sungguh Kami akan bertanya kepada mereka"). Dalam konteks tafsir klasik, sumpah yang menggunakan Dzat Allah (atau sifat-sifat-Nya) menegaskan keotentikan dan kepastian janji tersebut.
Mengapa Allah perlu bersumpah? Dalam tradisi bahasa Arab dan Al-Qur'an, sumpah digunakan untuk menekankan kebenaran sesuatu yang mungkin diragukan oleh pendengar, atau untuk memberikan bobot agung pada sebuah keputusan. Dalam konteks ayat ini, sumpah tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, menegaskan bahwa meskipun kaum Quraisy menentang dakwahnya, Allah tidak akan membiarkan penolakan tersebut tanpa pertanggungjawaban.
Pertanyaan Tentang Apa? Tanggung Jawab Kenabian
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "akan Kami tuntaskan (pertanyaan) atas mereka semua." Pertanyaan atau pertanggungjawaban ini merujuk pada pertanggungjawaban atas para utusan yang telah diutus kepada mereka sepanjang sejarah kenabian, bukan hanya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Para mufassir menjelaskan bahwa sumpah ini memiliki dua dimensi utama:
- Pertanggungjawaban Kaum Terdahulu: Allah menegaskan bahwa setiap umat yang telah didatangi rasul, dan mereka mendustakan rasul tersebut, pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas pendustaan dan penolakan mereka. Ini adalah jaminan keadilan ilahi yang universal.
- Konfirmasi kepada Nabi Muhammad ﷺ: Ayat ini berfungsi sebagai penghibur dan penguat bagi Nabi Muhammad ﷺ. Ketika beliau menghadapi penolakan keras dari kaumnya, Allah meyakinkan beliau bahwa kesabaran dan perjuangannya tidak sia-sia, karena pada akhirnya, para penolak itu akan ditanyai tentang alasan mereka menolak kebenaran.
Ini adalah peringatan keras: kebebasan memilih untuk beriman atau kufur dibarengi dengan konsekuensi pertanggungjawaban yang pasti di hadapan Yang Maha Kuasa. Sumpah Allah menjamin bahwa tidak ada satu pun perbuatan, baik penolakan maupun penerimaan, yang luput dari perhitungan-Nya.
Relevansi di Era Modern
Meskipun konteks historis ayat ini berkaitan dengan tantangan yang dihadapi Nabi di Makkah, pesan Al-Hijr ayat 92 tetap relevan hingga kini. Di zaman modern, di mana informasi menyebar luas dan berbagai ajaran dipertanyakan, ayat ini mengingatkan kita tentang tanggung jawab pribadi dalam menyikapi kebenaran yang dibawa oleh para pewaris risalah Nabi.
Ketika kita menerima kebenaran atau menolaknya, kita sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk pertanggungjawaban di Hari Kiamat. Sumpah Allah dalam ayat ini berfungsi sebagai alarm kosmik, mengingatkan bahwa ketidakpedulian atau penolakan terhadap petunjuk ilahi bukanlah tindakan yang netral, melainkan sebuah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan secara penuh di hadapan Hakim Yang Maha Adil.
Memahami Al-Hijr ayat 92 berarti menempatkan diri dalam kerangka keadilan mutlak. Janji Allah untuk menanyakan pertanggungjawaban ini memberikan ketenangan bagi orang yang beriman bahwa keadilan pasti ditegakkan, dan sekaligus memberikan peringatan tegas bagi mereka yang memilih jalan pengingkaran.