Tafsir dan Makna Al-Hijr Ayat 93

Simbol Keadilan dan Peringatan Ilahi ! Ketegasan

Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran berharga mengenai tauhid, kerasulan, dan peringatan akan konsekuensi perbuatan manusia. Di antara ayat-ayat yang sangat tegas dan mengandung peringatan keras adalah ayat ke-93. Ayat ini berfungsi sebagai penekanan atas ancaman ilahi terhadap mereka yang melampaui batas dalam menyekutukan Allah atau menentang risalah-Nya.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 93

﴿فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ﴾

"Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah pula pada malam hari dan pada waktu siang hari, supaya kamu merasa puas."

Konteks Penurunan dan Makna Inti

Ayat 93 ini muncul setelah rangkaian ayat-ayat yang menceritakan tentang penolakan kaum musyrik Mekah terhadap kenabian Muhammad SAW dan gangguan yang mereka berikan kepada beliau. Ketika Nabi Muhammad SAW dan umat Islam awal menghadapi cacian, ejekan, dan ancaman dari kaum Quraisy, Allah SWT memerintahkan kesabaran yang dibingkai dengan ibadah yang berkelanjutan.

Perintah pertama dalam ayat ini adalah "Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan" (فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ). Ini bukan sekadar perintah pasif untuk diam, tetapi kesabaran aktif yang disertai dengan penyerahan diri dan penegasan iman. Kesabaran dalam konteks dakwah adalah fondasi utama. Ketika dakwah ditolak atau dihina, respons terbaik bukanlah membalas dengan emosi negatif, melainkan menahan diri dan melanjutkan amanah risalah.

Pentingnya Tasbih dan Ibadah di Waktu Khusus

Setelah memerintahkan kesabaran, ayat ini beralih ke pilar penyeimbang kesabaran, yaitu penguatan spiritual melalui dzikir dan ibadah, khususnya tasbih (mengagungkan Allah SWT). Ayat ini secara spesifik menyebutkan waktu-waktu utama pelaksanaan tasbih:

  1. Sebelum terbit matahari (Shubuh): Ini merujuk pada shalat Shubuh dan dzikir pagi yang sangat dianjurkan dalam Islam. Energi spiritual yang didapatkan di pagi hari menjadi bekal utama menghadapi tantangan hari itu.
  2. Sebelum terbenamnya matahari (Ashar dan Maghrib): Ini mencakup waktu sore hari, saat pergantian siang menuju malam, waktu yang seringkali diiringi dengan refleksi atas apa yang telah dilakukan sepanjang hari.
  3. Pada malam hari (Waktu salat Isya dan tengah malam): Bagian malam memberikan kesempatan untuk kontemplasi yang lebih mendalam dan ibadah sunnah seperti qiyamul lail.
  4. Pada ujung-ujung siang (Abrarul Nahar): Ini merangkum seluruh aktivitas siang hari, memastikan bahwa seorang mukmin senantiasa terhubung dengan Tuhannya, tidak hanya pada waktu-waktu spesifik tetapi sepanjang waktu.

Tujuan dari melaksanakan ibadah pada waktu-waktu yang telah ditentukan ini adalah agar "supaya kamu merasa puas" (لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ). Rasa puas di sini bukan berarti puas dengan kondisi duniawi, melainkan kepuasan spiritual yang mendalam, ketenangan hati, dan janji akan keridhaan Allah SWT di akhirat. Ketika seorang mukmin teguh dalam ketaatan, meskipun dihina oleh manusia, hatinya akan diisi dengan ketenangan yang hanya berasal dari kedekatan dengan Sang Pencipta.

Pelajaran Kontemporer dari Ayat 93

Al-Hijr ayat 93 relevan sepanjang masa, terutama di era informasi saat ini di mana kritik, ujaran kebencian, atau bahkan fitnah dapat tersebar dengan cepat. Ayat ini mengajarkan bahwa jalan terbaik menghadapi serangan verbal atau tekanan sosial adalah dengan:

Pertama, menjaga kesabaran yang kokoh. Kedua, meningkatkan kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Allah melalui ibadah tepat waktu. Ibadah yang teratur berfungsi sebagai tameng emosional dan spiritual. Ketika hati kita terisi penuh dengan pujian kepada Allah, ruang untuk kesedihan, kemarahan, atau keputusasaan akibat perlakuan orang lain akan berkurang.

Puncak dari amalan ini adalah tercapainya keridhaan Ilahi, sebuah status yang jauh lebih berharga daripada penerimaan dari manusia mana pun. Ayat ini mengingatkan bahwa keteguhan dalam beribadah adalah kunci untuk mencapai ketenangan jiwa di tengah badai tantangan kehidupan.

🏠 Homepage