Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah tempat kaum Tsamud pernah tinggal, membawa banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, ancaman bagi pendusta, dan janji bagi orang-orang yang beriman. Di antara ayat-ayat yang sarat makna adalah ayat 92 dan 93, di mana Allah SWT bersumpah dan memberikan peringatan keras kepada mereka yang meragukan atau mengabaikan wahyu-Nya.
Ilahi Sumpah dan Peringatan Keras
Ayat-ayat ini berfungsi sebagai penegasan kuat atas kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW, sekaligus sebagai ancaman tegas bagi mereka yang memecah belah agama atau mendustakan ajaran Allah. Mari kita telaah teks ayat tersebut:
1. Penegasan dengan Sumpah (Ayat 92)
Ayat 92 diawali dengan sumpah yang sangat agung: "Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua." Penggunaan kata "demi Tuhanmu" (Frabbi-ka) menunjukkan penekanan luar biasa dari Allah SWT. Sumpah ini bukanlah sumpah yang diucapkan Nabi, melainkan sumpah yang dinisbatkan kepada Rabb Nabi, yang menunjukkan bahwa peristiwa pertanggungjawaban ini adalah kepastian yang mutlak.
Kata "demi Tuhanmu" juga menegaskan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah kebenaran yang dijaga dan ditegaskan oleh Dzat Yang Maha Kuasa. Sumpah ini diarahkan kepada siapa? Mayoritas mufassir menafsirkan bahwa sumpah ini ditujukan kepada orang-orang musyrik Mekah yang menolak seruan tauhid, atau secara umum kepada seluruh umat manusia yang diberi kesempatan untuk beriman namun memilih jalan ingkar.
Konsekuensi dari sumpah ini adalah sebuah proses akuntabilitas universal. Tidak ada satu pun individu, pemimpin, atau kelompok yang akan terlepas dari pengawasan ilahi. Pertanyaan dan pemeriksaan ini akan mencakup seluruh amal perbuatan mereka, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
2. Pertanyaan Universal tentang Amalan (Ayat 93)
Ayat 93 melengkapi janji dalam ayat 92 dengan rincian pertanyaan: "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Ini adalah inti dari hari perhitungan. Setelah kematian, manusia akan berdiri di hadapan Allah SWT, dan tidak ada lagi kesempatan untuk membela diri atau memberikan alasan yang tidak valid. Segala pertanggungjawaban berpusat pada rekam jejak perbuatan (amal) selama hidup di dunia.
Apa yang dimaksud dengan "apa yang telah mereka kerjakan"? Ini mencakup:
- Tauhid vs. Syirik: Apakah mereka mengesakan Allah atau menyekutukan-Nya? Ini adalah pertanyaan paling fundamental.
- Kewajiban Agama: Pelaksanaan salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya.
- Interaksi Sosial: Kejujuran dalam berdagang, keadilan dalam memimpin, kebaikan terhadap sesama, dan penghormatan terhadap hak orang lain.
- Penyebaran Pesan: Bagaimana mereka menyikapi ajaran yang dibawa para rasul? Apakah mereka mendustakan, mengabaikan, ataukah menerimanya dengan hati yang lapang?
Relevansi Ayat dalam Konteks Al-Hijr
Ayat 92 dan 93 muncul setelah serangkaian ayat yang berbicara tentang kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud (yang dihancurkan di Al-Hijr), dan Fir’aun. Ayat-ayat ini adalah penutup pembahasan tentang kehancuran umat-umat pendusta di masa lalu. Peringatan bahwa Allah akan menanyai semua orang adalah pengingat bahwa nasib umat-umat terdahulu bukanlah sekadar cerita, melainkan peringatan nyata yang berlaku untuk setiap generasi.
Ayat ini mendorong setiap Muslim untuk senantiasa waspada terhadap perbuatannya. Karena kehidupan di dunia hanyalah ladang (mazra’ah) untuk akhirat, dan hasil panen (pertanggungjawaban) pasti akan tiba. Perspektif ini membantu menempatkan prioritas hidup pada amal saleh dan ketaatan, menjauhi kesombongan atau pengabaian terhadap syariat Allah.
Ilustrasi Visual Akuntabilitas
Untuk menggambarkan konsep pengadilan dan pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Kuasa, kita menyajikan visualisasi sederhana:
Ayat 92 dan 93 Al-Hijr menjadi penutup yang tegas bagi pembahasan tentang konsekuensi penolakan terhadap ayat-ayat Allah. Sumpah Allah menegaskan bahwa pertanggungjawaban itu pasti terjadi, dan fokus pertanggungjawaban adalah pada setiap detail tindakan yang telah dilakukan manusia selama hidupnya di bumi. Ini adalah pengingat abadi akan pentingnya integritas dan ketaatan dalam setiap langkah kita.