Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah, kisah-kisah nabi, dan pedoman hukum. Salah satu ayat kunci yang sering menjadi pembahasan para mufassir adalah ayat ke-105, yang secara tegas menjelaskan posisi Al-Qur'an sebagai wahyu yang diturunkan dengan kebenaran mutlak.
"Dan dengan kebenaran (Al-Qur'an) itulah Kami menurunkannya; dan dengan kebenaran itulah Al-Qur'an telah turun. Dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."
Ayat 105 Surah Al-Isra (QS. 17:105) menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan secara sembarangan atau berdasarkan keinginan manusia. Kata kunci dalam ayat ini adalah "bil-haqqi" (dengan kebenaran) yang diulang dua kali. Pengulangan ini menekankan validitas dan otoritas ilahiah dari kitab suci ini. Kebenaran di sini mencakup isi ajaran, janji, ancaman, kisah, dan seluruh petunjuk yang terkandung di dalamnya.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah pembeda antara hak dan batil. Ketika Allah SWT menyatakan "Kami menurunkannya dengan kebenaran," ini mengindikasikan bahwa tujuan penurunan Al-Qur'an adalah untuk menegakkan keadilan, menjelaskan ajaran tauhid yang murni, serta menghapus segala keraguan dan kesesatan yang ada sebelumnya. Ia adalah standar kebenaran yang definitif bagi seluruh umat manusia.
Bagian kedua ayat ini menggarisbawahi peran sentral Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang menerima wahyu tersebut. Allah SWT menegaskan bahwa Nabi diutus dengan dua misi utama yang saling melengkapi: "mubasysyiran" (pembawa kabar gembira) dan "nadhiran" (pemberi peringatan).
Sebagai mubasysyir, Nabi membawa kabar gembira bagi mereka yang beriman dan taat, yaitu janji surga, rahmat Allah, dan kehidupan yang baik di dunia. Janji ini merupakan insentif spiritual terbesar bagi orang-orang yang berjuang di jalan kebenaran. Sebaliknya, sebagai nadhir, beliau bertugas memberikan peringatan keras kepada mereka yang ingkar, berbuat zalim, atau menolak petunjuk Allah. Peringatan ini mencakup ancaman siksa neraka dan kerugian di akhirat.
Pentingnya dualitas peran ini menunjukkan keseimbangan dalam dakwah. Islam tidak hanya menawarkan imbalan, tetapi juga menetapkan konsekuensi yang jelas atas pelanggaran. Kedua aspek ini—harapan dan rasa takut—adalah alat pedagogis ilahiah untuk memotivasi manusia agar senantiasa berada di jalan lurus.
Meskipun Surah Al-Isra ayat 105 secara spesifik berbicara tentang Al-Qur'an, konteks ayat-ayat sebelumnya sering kali menyinggung bagaimana Al-Qur'an menjadi penyempurna dan pembenar bagi kitab-kitab samawi sebelumnya (seperti Taurat dan Injil). Dalam pandangan Islam, kitab-kitab terdahulu juga diturunkan dengan kebenaran, namun Al-Qur'an hadir untuk mengoreksi distorsi, melengkapi, dan menjadi penutup risalah kenabian.
Para ahli tafsir juga melihat bahwa penurunan Al-Qur'an "dengan kebenaran" memastikan bahwa tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk tersesat. Kebenaran yang dibawa bersifat universal, berlaku di setiap zaman dan tempat, mencakup dimensi spiritual, etika, sosial, dan hukum.
Memahami Surah Al-Isra ayat 105 memiliki implikasi mendalam bagi seorang Muslim. Pertama, menuntut keyakinan penuh bahwa Al-Qur'an adalah perkataan Allah yang hakiki, bukan buatan manusia. Kedua, mendorong pemahaman bahwa tujuan hidup seorang Mukmin adalah merespons panggilan Nabi, yaitu meraih kabar gembira melalui ketaatan dan menjauhi peringatan melalui penghindaran maksiat.
Ayat ini menggarisbawahi bahwa wahyu adalah sarana komunikasi utama antara Pencipta dan makhluk-Nya, berfungsi sebagai peta jalan yang jelas menuju keselamatan abadi. Ketika kita membaca atau merenungkan ayat ini, kita diingatkan akan tanggung jawab kita untuk menerima kebenaran tersebut dan bertindak sesuai dengan peran kita sebagai penerima petunjuk, yaitu beriman sebagai pembawa kabar baik bagi diri sendiri dan menjadi penegur yang bijak bagi sesama.
Secara keseluruhan, QS. Al-Isra: 105 adalah pilar penegasan otentisitas Al-Qur'an dan penegasan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. Ia adalah fondasi kepercayaan bahwa petunjuk yang kita ikuti adalah kebenaran yang dijamin oleh Sang Maha Benar.