Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an, setiap ayat membawa pesan ilahi yang mendalam, berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi sumber ketenangan dan pengingat pentingnya kontinuitas dalam menjalankan perintah Allah SWT adalah Al-Hijr ayat 99. Ayat ini terletak pada surat ke-15 Al-Qur'an dan secara ringkas namun padat menyampaikan inti dari hubungan seorang hamba dengan Penciptanya.
Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, namun maknanya universal dan berlaku bagi seluruh umat Islam. Kata kunci dalam ayat ini adalah "I'bud" (sembahlah) dan "Hatta Ya'tiyakal Yaqin" (sampai datang kepadamu kepastian). Perintah ini menekankan bahwa ibadah—yang mencakup seluruh aspek ketaatan, salat, zikir, sedekah, dan berbuat baik—bukanlah kegiatan musiman atau sesaat, melainkan sebuah komitmen seumur hidup.
Dalam konteks kenabian, perintah ini turun di saat Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai tantangan, penolakan, dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Ketika menghadapi kesulitan dakwah, perintah untuk terus beribadah dan bersabar menjadi jangkar spiritual. Ibadah adalah sumber kekuatan, penenang jiwa, dan mekanisme untuk terus terhubung dengan sumber segala daya. Ia memelihara semangat tauhid di tengah badai keraguan dan godaan duniawi.
Kata "Al-Yaqin" yang diterjemahkan sebagai kepastian, dalam tafsir para ulama mayoritas merujuk pada kematian atau ajal. Ini adalah satu-satunya kepastian mutlak yang akan dihadapi setiap makhluk hidup. Dengan demikian, Al-Hijr ayat 99 mengajarkan bahwa pintu pengabdian kepada Allah baru tertutup ketika nyawa telah berpisah dari raga. Tidak ada batas waktu yang ditentukan; ibadah harus menjadi nafas kehidupan hingga detik terakhir.
Konsep ini menuntut seorang mukmin untuk senantiasa waspada terhadap kelalaian. Seringkali, manusia cenderung beribadah dengan semangat tinggi ketika berada dalam kondisi lapang atau sehat, namun semangat itu meredup saat dilanda kesibukan atau godaan dunia. Ayat ini membimbing kita untuk menjadikan ibadah sebagai prioritas utama, bukan sekadar kegiatan sampingan yang bisa ditinggalkan sewaktu-waktu. Kualitas ibadah harus dijaga, baik secara kuantitas maupun kualitasnya, sepanjang rentang usia.
Mengapa perintah untuk beribadah terus-menerus begitu ditekankan? Karena ibadah yang kontinu adalah pondasi bagi ketenangan batin (sakīnah). Dunia penuh dengan ketidakpastian, kekhawatiran, dan kesenangan sesaat yang cepat berlalu. Ibadah yang tulus, yang didasari oleh kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi, memberikan perspektif bahwa segala urusan duniawi hanyalah titipan sementara.
Bagi seorang mukmin, melakukan Al-Hijr ayat 99 dalam kehidupan sehari-hari berarti:
Ketika seseorang telah menanamkan prinsip Al-Hijr ayat 99 ini, ia akan menghadapi segala kesulitan hidup dengan hati yang lebih lapang. Kematian (Al-Yaqin) tidak lagi dipandang sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai gerbang menuju perjumpaan hakiki dengan Sang Maha Pencipta, setelah menjalankan tugas pengabdian secara penuh. Oleh karena itu, ayat ini adalah pengingat abadi untuk mempersiapkan bekal terbaik saat waktu itu tiba, yaitu dengan konsisten beribadah hingga akhir hayat.