Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Meskipun turunannya bertahap, mushaf yang kita miliki hari ini disusun berdasarkan urutan wahyu (tartib an-nuzul) atau urutan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW (tartib at-tawqifi). Memahami apa yang datang setelah Surah Al Hijr bukan hanya soal urutan halaman, tetapi memahami kesinambungan tema dan konteks risalah Ilahi.
Surah Al Hijr (Surah ke-15) diakhiri dengan seruan untuk bersabar menghadapi penentangan kaum musyrik serta penegasan tentang keagungan Al-Qur'an. Tepat setelahnya, kita akan mendapati Surah An-Nahl (Surah ke-16). Perlu dicatat bahwa meskipun urutan penulisan saat ini menempatkan An-Nahl di urutan 16, para mufassir berbeda pendapat mengenai waktu turunnya (Nubuwwah) An-Nahl secara keseluruhan, namun banyak yang menggolongkannya sebagai surah Makkiyah awal atau pertengahan.
Transisi dari Al Hijr ke An-Nahl menghadirkan perubahan fokus yang menarik. Jika Al Hijr menekankan kisah-kisah umat terdahulu (seperti kaum Luth) dan peringatan keras, An-Nahl justru menyajikan rentetan yang sangat kuat mengenai keesaan Allah (Tauhid) melalui bukti-bukti di alam semesta.
Surah An-Nahl dikenal sebagai 'Surah Nikmat' atau 'Surah Tanda-tanda Alam'. Setelah pembukaan yang menguji kesabaran Rasulullah SAW (seperti yang tersirat di akhir Hijr), Allah SWT mengalihkan perhatian kepada mukjizat-mukjizat-Nya yang tampak jelas di hadapan manusia.
Ayat-ayat awal An-Nahl membuka dengan pujian kepada Allah yang menurunkan hujan sebagai sumber kehidupan, menciptakan bintang, gunung sebagai pasak bumi, dan berbagai kenikmatan lainnya. Ini adalah metode dakwah yang sangat efektif: sebelum menuntut pengakuan iman, Allah menunjukkan bukti nyata atas kekuasaan Sang Pencipta.
Salah satu ayat paling monumental dalam surah ini adalah yang menjelaskan tentang lebah (An-Nahl) itu sendiri. Allah SWT berfirman: "Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang mereka buat'." (QS. 16:68). Ayat ini menyoroti hikmah dan ilmu yang ditanamkan Allah pada makhluk-Nya, yang secara otomatis menuntun pada kesimpulan bahwa yang mengilhamkan ilmu tersebut pasti Maha Bijaksana.
Urutan Al Hijr diikuti An-Nahl memperkuat narasi inti dakwah Islam. Al Hijr menyajikan peringatan keras terhadap kekafiran dan penolakan wahyu, mengingatkan mereka akan azab yang menimpa kaum yang sombong di masa lalu. Ketika pesan peringatan itu mungkin belum cukup menggerakkan hati, Surah An-Nahl datang sebagai pelengkap dengan menawarkan perspektif lain: yaitu syukur dan perenungan.
Jika peringatan tidak mempan, maka seharusnya keindahan dan keteraturan alam semesta yang diciptakan Allah SWT dapat memicu hati mereka untuk tunduk. Kedua surah ini bekerja secara sinergis: yang satu mengingatkan tentang konsekuensi dosa (Al Hijr), dan yang lain mengingatkan tentang karunia dan keajaiban penciptaan (An-Nahl).
Bagi seorang muslim yang membaca Al-Qur'an secara berurutan, urutan ini menjadi sebuah pelajaran tentang strategi dakwah yang komprehensif. Ia mengajarkan bahwa iman dibangun tidak hanya melalui rasa takut akan azab, tetapi juga melalui rasa cinta dan kagum terhadap keagungan dan kemurahan Sang Pencipta yang tak henti-hentinya memberikan nikmat, mulai dari tetesan air hujan hingga struktur kompleks sarang lebah.
Oleh karena itu, ketika kita menyelesaikan Surah Al Hijr dan melangkah ke Surah An-Nahl, kita sedang bergerak dari babak peringatan keras menuju babak eksplorasi rahmat dan tanda-tanda alam yang substansial. Memahami apa yang datang setelah Surah Al Hijr adalah menghargai bagaimana Allah menyusun pesan-Nya agar mudah dicerna dan direnungkan oleh akal manusia, secara bertahap membimbing mereka menuju kebenaran tunggal. Urutan ini memastikan bahwa setiap aspek dari Tauhid, peringatan, janji, dan syariat telah tersampaikan dengan alur yang logis dan penuh hikmah.