Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surat ke-17 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Ayat 1 hingga 10 dari surat ini menyimpan kisah agung dan pelajaran mendalam, khususnya mengenai mukjizat perjalanan luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra' Mi'raj, serta janji Allah mengenai kehancuran kaum yang berlaku zalim.
Mukjizat Isra' Mi'raj (Ayat 1)
"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)
Ayat pembuka ini langsung menyoroti keagungan Allah SWT. Frasa "Subhanalladzi asra bi 'abdihi" (Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) menegaskan bahwa peristiwa Isra' (perjalanan malam dari Mekkah ke Baitul Maqdis di Yerusalem) adalah murni atas kehendak dan kuasa Ilahi. Perjalanan ini bukan hanya sebuah perpindahan geografis, tetapi juga manifestasi dari kebesaran Allah yang mampu melampaui hukum alam biasa. Tujuan utama disebutkan jelas: untuk menunjukkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.
Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa) adalah titik pemberhentian pertama dalam Isra', yang keberkahannya telah ditetapkan oleh Allah. Ini mengukuhkan posisi Baitul Maqdis sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya ditetapkan Ka'bah di Mekkah.
Peringatan Terhadap Bani Israil (Ayat 2-8)
Setelah menyinggung mukjizat agung, Allah mulai mengarahkan pembicaraan kepada Bani Israil (keturunan Yakub) dalam ayat-ayat berikutnya. Ayat 2 berbicara tentang pemberian Taurat dan menjanjikan kenabian kepada keturunan mereka, sambil memberikan peringatan keras agar mereka tidak menjadi sombong atau berlaku aniaya.
"Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab itu petunjuk bagi Bani Israil..." (QS. Al-Isra: 2)
Ayat-ayat selanjutnya (3-7) merinci perilaku buruk yang dilakukan Bani Israil di masa lalu setelah menerima nikmat tersebut, seperti kerusakan di muka bumi (fasad) dan kesombongan. Allah menegaskan bahwa jika mereka kembali berbuat kerusakan, Allah akan mengirimkan musuh-musuh-Nya untuk menghancurkan mereka, persis seperti yang telah terjadi sebelumnya. Ayat 8 menambahkan bahwa jika mereka bertobat, Allah akan merahmati mereka, menunjukkan prinsip dasar: pertobatan selalu membuka pintu rahmat.
Janji Kemenangan dan Kehancuran (Ayat 9-10)
Ayat 9 memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman (termasuk kaum Muslimin saat itu) bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang paling lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin mengenai pahala yang besar.
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar." (QS. Al-Isra: 9)
Puncak dari peringatan keras ini terdapat pada ayat 10. Ayat ini secara eksplisit melarang manusia untuk berputus asa dari rahmat Allah atau takut akan ancaman (yang datang dari musuh atau siksa), karena Allah Maha Pengampun dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
"Dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami siapkan bagi mereka azab yang pedih." (QS. Al-Isra: 10)
Refleksi dan Hikmah
Sepuluh ayat pertama Al-Isra ini berfungsi sebagai fondasi peringatan dan penguatan iman. Bagi Nabi Muhammad SAW, peristiwa Isra' menjadi peneguhan atas kedudukan beliau di hadapan Allah. Bagi umat manusia, khususnya Bani Israil yang menjadi objek peringatan, ayat-ayat ini adalah cermin sejarah tentang konsekuensi dari pembangkangan dan kesombongan, meskipun telah diberikan nikmat kenabian dan wahyu. Sementara itu, bagi umat Nabi Muhammad, ayat-ayat ini menegaskan keunggulan Al-Qur'an sebagai petunjuk universal dan mengajarkan optimisme dalam menghadapi kesulitan melalui iman yang teguh dan amal saleh.
Kisah Isra' yang dimulai dengan pujian kepada Allah SWT (ayat 1) mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi—baik perjalanan fisik yang ajaib maupun siklus kehancuran dan kebangkitan peradaban—selalu berada dalam pengawasan dan kekuasaan Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.