Memahami Surat Al-Isra Ayat 50-60

? Wahyu Kesesuaian antara Kebangkitan dan Pertanyaan

Visualisasi Konsep Pertanyaan dan Jawaban Ilahi dalam Ayat.

Pengantar Ayat 50 Hingga 60 Al-Isra

Surat Al-Isra (atau dikenal sebagai Bani Isra'il) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Bagian ayat 50 hingga 60 memiliki fokus yang sangat penting, yakni menjawab keraguan orang-orang kafir Mekah terkait dengan konsep kebangkitan (ba’ats) dan kehidupan setelah kematian. Ayat-ayat ini menegaskan kembali bahwa membangkitkan manusia setelah mereka menjadi tulang belulang yang hancur adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah SWT, meskipun akal manusia mungkin sulit memahaminya.

Ketika kaum musyrikin mempertanyakan bagaimana mereka bisa dibangkitkan lagi setelah jasad mereka menjadi debu, wahyu ini turun sebagai bantahan tegas yang menguatkan iman orang-orang yang beriman dan menjadi peringatan bagi yang mengingkari.

Perincian Ayat dan Pesan Inti

Ayat 50: Penegasan Kemudahan Kebangkitan

قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا

(50) Katakanlah: "Jadilah kamu batu atau besi,"

Ayat ini memulai jawaban dengan tantangan: jika mereka meragukan kebangkitan karena menganggap diri mereka telah menjadi zat yang keras (batu atau besi), maka Allah justru dapat membangkitkan mereka meskipun dalam bentuk tersebut.

Ayat 51: Kepastian Kebangkitan oleh Allah

أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُحْيِينَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا

(51) atau makhluk lain yang lebih keras yang ada dalam dada kamu. Maka mereka akan berkata: "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama". Lalu mereka menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata: "Bilakah itu terjadi?". Katakanlah: "Mungkin sudah dekat."

Inti ayat ini adalah: Yang menghidupkan kalian pertama kali (dari ketiadaan) pasti mampu menghidupkan kalian yang kedua kali. Keraguan mereka direspons dengan penegasan bahwa waktu kebangkitan mungkin lebih dekat dari perkiraan mereka.

Ayat 52: Penekanan pada Kepastian Hari Penghisaban

يَوْمَ يُدْعَوْنَ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا

(52) Pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu menyangka (di dunia) hanyalah sebentar saja.

Ketika panggilan itu datang, tidak ada lagi ruang untuk menunda atau menolak. Dalam konteks akhirat, masa kehidupan di dunia terasa sangat singkat.

Konteks Dialog Mengenai Dosa dan Pertanggungjawaban

Setelah membahas kebangkitan, ayat-ayat berikutnya (53 hingga 60) mengalihkan fokus pada konsekuensi dari perbuatan di dunia dan bagaimana pertanggungjawaban itu akan terjadi, termasuk interaksi antara Nabi Muhammad SAW dengan kaumnya.

Ayat 53: Perintah untuk Berkata yang Terbaik

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَدُوًّا

(53) Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Ini adalah instruksi langsung kepada Nabi untuk menjaga lisan. Dalam interaksi sosial, bahkan di tengah perbedaan keyakinan, umat Islam diperintahkan untuk memilih kata-kata yang paling santun dan bermaslahat, karena setan selalu mencari celah untuk memicu permusuhan melalui perkataan yang buruk.

Ayat 54-55: Kepercayaan Penuh kepada Allah

Ayat 54-55 menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui siapa yang pantas mendapatkan rahmat dan siapa yang pantas dihukum. Ini mendorong manusia untuk kembali kepada Tuhan mereka, terlepas dari sifat keras kepala yang mereka tunjukkan.

Ayat 56-57: Kesalahan Menyembah Selain Allah

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

(56) Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sembahan) selain Dia, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula untuk memindahkannya.

Ayat ini kembali menantang praktik syirik. Berhala atau entitas lain yang disembah sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menghilangkan kesulitan atau mengubah takdir, berbeda dengan Allah SWT yang Maha Kuasa.

Kesimpulan Ayat-ayat Akhir Bagian Ini

Ayat 58 hingga 60 menutup bagian ini dengan menjelaskan bahwa kehancuran atau hukuman bagi kaum yang mendustakan (seperti kaum Ad dan Tsamud) adalah kepastian yang nyata, kecuali bagi orang-orang yang beriman. Allah menegaskan bahwa kisah-kisah masa lalu adalah pelajaran yang jelas.

Secara keseluruhan, bagian Al-Isra ayat 50-60 berfungsi sebagai jangkar teologis. Ayat-ayat awal menangkis keraguan terhadap kebangkitan dengan merujuk pada kemampuan penciptaan pertama Allah, sementara ayat-ayat berikutnya memberikan panduan etika komunikasi (ayat 53) dan peringatan keras mengenai bahaya kesyirikan dan pendustaan wahyu, yang semuanya akan diperhitungkan pada Hari Kiamat.

🏠 Homepage